Tes Kemampuan Akademik 2026 Akan Diikuti 3,8 Juta Siswa, Termasuk di Wilayah Bencana

Sebanyak 3.864.195 siswa SMA/sederajat akan mengikuti TKA 2026. Pelaksanaan TKA akan dibagi dalam beberapa gelombang dan sesi, baik moda daring maupun semi daring.

Tes Kemampuan Akademik 2026 Akan Diikuti 3,8 Juta Siswa, Termasuk di Wilayah Bencana
Pelaksanaan TKA SMA/sederajat pada tahun lalu.Foto: (Dokumentasi Kemendikdasmen)

Sebanyak 3.864.195 siswa jenjang SMA, SMK, MA, dan sederajat dipastikan akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada tahun 2026. Angka ini mencakup seluruh peserta, termasuk mereka yang berada di daerah bencana.

Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Prof Dr Toni Toharudin, SSi MSc, menyampaikan data ini dalam taklimat media mengenai pelaksanaan TKA SMA/MA/SMK/sederajat di Gedung E Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Toni menjelaskan bahwa untuk mengakomodasi jumlah peserta yang besar, TKA akan dilaksanakan dalam beberapa gelombang dan sesi. Penjadwalan ini mempertimbangkan kesiapan sarana sekolah serta kapasitas layanan sistem yang tersedia. Pelaksanaan TKA akan menawarkan dua pilihan moda: daring (online) dan semi daring.

“Sistem daring ini disiapkan untuk melayani hingga 900.000 peserta secara bersamaan. Pada gelombang satu, sesi satu, jumlah peserta seluruh moda ini mencapai 824.026 peserta dengan sekitar 710.000 peserta menggunakan moda daring. Dengan demikian, jumlah peserta daring pada sesi terbesar itu masih berada di bawah kapasitas yang memang kita siapkan,” ungkapnya.

Menjelang pelaksanaan TKA yang dimulai pada 26 Oktober 2026, Toni menambahkan bahwa gladi bersih telah dilaksanakan pada 5-14 Oktober 2026, mencakup kedua moda pelaksanaan.

“Pada moda daring itu ada sekitar 3.015.860 peserta, partisipasinya 90,9 persen, dan semi daring ada 498.897 ya, dan partisipasinya sekitar 91,79 persen,” katanya.

TKA Moda Daring dan Semi Daring

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) BKPDM Kemendikdasmen, Dr Rahmawati ST MEd, menjelaskan perbedaan mendasar antara kedua moda tersebut. Moda semi daring tidak secara konstan membutuhkan koneksi internet selama ujian berlangsung, sementara moda daring selalu memerlukan jaringan internet.

“Kalau semi daring internet itu dibutuhkan ketika server sekolah sinkronisasi dengan server pusat ketika mengunduh semua paket soal dan juga murid. Nanti dari server sekolah, diberikan ke masing-masing komputer siswa. Itu menggunakan kabel gitu ya tanpa jaringan internet. Nanti selama ujian tidak perlu jaringan internet. Setelah selesai, semua jawaban siswa diunggah lagi ke server pusat pakai jaringan internet,” terangnya.

Rahmawati menegaskan bahwa pemilihan moda TKA tidak secara langsung berkaitan dengan kondisi kebencanaan, melainkan lebih kepada preferensi satuan pendidikan berdasarkan infrastruktur yang dimiliki. Ia mencontohkan SMAN 1 Bandung yang memilih moda semi daring karena ketersediaan laboratorium komputer yang lengkap dengan server, jaringan LAN, serta proktor yang kompeten dalam pengaturan konfigurasi LAN.

“Tidak ada kaitannya dengan kebencanaan. Untuk kebencanaan, melakukan secara daring, mau melakukan secara semi daring, ini tergantung kapasitas dan infrastruktur dari sekolah. Yang membedakan adalah pemilihan waktunya, kapan kira-kira waktu yang paling tepat ketika dampak ke kesehatan dan keselamatan ini yang paling minimum,” jelasnya.

TKA di Daerah Bencana

Aspek pemilihan waktu pelaksanaan TKA, menurut Rahmawati, memiliki kaitan dengan situasi bencana. Oleh karena itu, tersedia beberapa alternatif jadwal TKA yang dapat dimanfaatkan untuk memprioritaskan keselamatan dan kesehatan para murid, guru, serta tim pelaksana di satuan pendidikan.

“Kemarin gladi bersih sudah, berhasil, bismillah udara sehat, peserta semua sehat, semua pelaksana sehat, kondisi aman, melakukan di Oktober, silahkan. Tapi kalau dari saat ini kelihatannya tidak memungkinkan, lebih banyak mudaratnya, langsung mengajukan ikut yang sesi paling akhir, di November pekan ketiga, itu juga diperbolehkan,” ucapnya.

Data dari BKPDM menunjukkan bahwa beberapa daerah yang terdampak bencana turut serta dalam gladi bersih TKA, termasuk Jambi (Kota Jambi, Muaro Jambi, Tebo), Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meliputi Manggarai Timur dan Manggarai Barat.

Rahmawati menambahkan bahwa NTT dan Kalimantan Selatan telah secara resmi mengajukan pelaksanaan TKA susulan. Sementara itu, Kalimantan Tengah telah menyampaikan permintaan untuk kelonggaran dalam penjadwalan TKA.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *