Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk siswa SMA, MA, SMK, dan sederajat di seluruh Indonesia dimulai pada Senin, 26 Oktober 2026. Hasil tes ini akan diumumkan pada 23 Desember 2026.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya pemahaman yang utuh dan bijak terhadap hasil TKA bagi orang tua, guru, dan masyarakat. “Kami ingin menyampaikan bahwa hasil TKA perlu dipahami secara utuh. Mari kita pahami hasil TKA secara bijak. Hasil asesmen bukanlah label untuk menentukan masa depan seseorang, melainkan informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi dan dasar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran murid,” ujar Mu’ti dalam keterangan resminya, Minggu (25/10).
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) BKPDM Kemendikdasmen, Dr. Rahmawati, ST, M.Ed., menjelaskan bahwa hasil TKA dapat menjadi acuan bagi guru dalam mengetahui capaian kompetensi mayoritas siswa. Data ini krusial untuk merencanakan pembelajaran yang lebih tepat sasaran atau dikenal sebagai differentiated learning.
“Kalau dalam satu kelas ternyata yang kategori baiknya hanya 2 orang, yang lainnya masuk kategori kurang, maka seperti apakah perencanaan pembelajarannya untuk bisa menyesuaikan,” ucapnya saat taklimat media di Gedung E Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Ia menambahkan bahwa hasil TKA jenjang SD dapat menjadi asesmen awal bagi guru SMP, begitu pula guru SMA/SMK atas hasil TKA SMP, dan perguruan tinggi atas hasil TKA SMA/SMK.
Hasil TKA akan dipetakan ke dalam kategori capaian akademik siswa, yang kemudian menjadi dasar guru dalam merancang strategi pembelajaran. Berdasarkan Keputusan Mendikdasmen Nomor 56 Tahun 2026, hasil TKA untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK akan dilaporkan dalam rentang nilai 200 hingga 800, dengan pembulatan dua angka di belakang koma. Predikat istimewa diberikan bagi peserta yang meraih nilai 725,00 atau lebih di setiap mata uji.
TKA mengadopsi metode evaluasi Item Response Theory Two-Parameter Logistic Model (IRT 2PL), serupa dengan asesmen internasional seperti TIMSS dan PISA. Tujuannya adalah untuk memastikan penilaian yang adil, objektif, dan setara dalam skala nasional. Metode ini menempatkan kemampuan peserta dan tingkat kesulitan soal pada satu skala ukur yang sama, memungkinkan penyetaraan hasil antar paket soal dan antar daerah.
Dengan IRT 2PL, setiap butir soal diberi bobot sesuai tingkat kesulitannya untuk mencegah kerugian bagi peserta akibat variasi paket soal. Metode ini menganalisis dua parameter utama: tingkat kesulitan soal untuk dijawab benar dan kemampuan soal dalam membedakan kompetensi siswa.
Rahmawati mencontohkan, jika teori tes klasik hanya melihat proporsi jawaban benar (misalnya 1 dari 10 soal = 0,1), IRT 2PL dapat memberikan bobot berbeda pada tiap soal. Hal ini memungkinkan variasi skor yang lebih kaya, bahkan hingga 45 kemungkinan skor untuk dua soal yang dijawab benar, tergantung pada bobot soal tersebut.
Ia menjelaskan bahwa rentang pelaporan nilai yang lebih luas, dari 200-800, diperlukan untuk menangkap gradasi perbedaan capaian kemampuan siswa dengan lebih baik. “Kalau estimasi yang sangat beragam ini dilaporkannya hanya dalam skala yang sempit, 0-100, akhirnya kan nggak kelihatan bedanya ya antara yang bedanya pintar dengan sedikit lebih pintar, itu tidak akan terlihat kalau 0-100. Maka dibuatkanlah rentang yang lebih besar supaya variasi yang banyak ini, karena beda soal yang dijawab benar beda estimasi, itu bisa kelihatan ada gradasi perbedaannya,” ujarnya.
Sebagai ilustrasi, pada skala 0-100, perbedaan kemampuan siswa mungkin hanya terlihat kecil (misalnya 0,01). Namun, dengan skala 200-800, perbedaan tersebut menjadi lebih jelas, seperti selisih 2 poin (misalnya 521 vs 523). Rahmawati menegaskan bahwa perubahan skala ini tidak merugikan siswa. Siswa yang memiliki nilai tinggi pada skala lama akan tetap memiliki nilai tinggi setelah konversi, begitu pula sebaliknya.
“Jadi tidak merugikan seorang siswa pun. Yang tahun lalu nilainya tinggi ketika dikonversi pelaporannya juga akan selalu tinggi. Yang tahun lalu lebih rendah pasti pelaporannya juga akan menjadi lebih rendah,” ucapnya. “Jadi itu alasannya mengapa tahun ini kami memberikan rentang laporan nilai yang lebih lebar, supaya variasi nilai yang sebenarnya ada sangat banyak dengan menggunakan Item Response Theory, itu terlihat juga di pelaporannya,” tutup Rahmawati.
Komentar