Jakarta – Sejumlah wilayah yang akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada 26 Oktober 2026 mendatang dilaporkan terdampak bencana alam, mulai dari gempa bumi hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan peserta, terutama yang menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ), mengenai persiapan dan nilai TKA yang akan mereka peroleh.
Menanggapi potensi dampak bencana terhadap nilai TKA, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Dr. Rahmawati, M.Ed., menjelaskan bahwa segala kendala dalam pelaksanaan TKA akan dicatat dalam berita acara. Catatan tersebut akan menjadi bagian integral dari pengolahan data hasil ujian.
“Bagaimana cara melakukan penyesuaiannya? Tentu saja semua catatan di berita acara pelaksanaan, termasuk ketidakhadiran, akan digabungkan menjadi satu dataset bersamaan dengan data set respon jawaban siswa, kelengkapan jawabannya. Ini akan menjadi satu kesatuan pada proses pengolahan dan pelaksanaan hasilnya nanti,” ujar Rahmawati.
Ia menekankan bahwa mekanisme penyesuaian ini bukanlah hal baru. Langkah tersebut telah diterapkan sejak penyelenggaraan TKA perdana pada tahun 2025.
Rahmawati menyampaikan hal ini saat taklimat media mengenai pelaksanaan TKA untuk jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat di Gedung E Kemendikdasmen, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026).
“Selama ini sejak TKA tahun pertama, nilai tidak hanya diproses dari jawaban soal, tetapi juga kami menggabungkan dengan berita acara pelaksanaan, termasuk semua indikator dan indikasi pelaporan pelanggaran. Ini menjadi satu kesatuan dalam proses pengolahan hasil TKA,” tambahnya.
Mengenai kemungkinan adanya penambahan nilai khusus bagi peserta di daerah terdampak bencana, Rahmawati menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memberikan informasi detail. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut masih bersifat asumsi dan perlu kajian lebih lanjut.
“Mekanisme detailnya, apakah kemudian ada penambahan nilai dan lain-lain ini, belum bisa kami sampaikan saat ini karena bisa jadi di luar dugaan kita. Ini kan kita baru berasumsi ya, asumsinya yang terdampak bencana nilainya lebih buruk atau lebih rendah, tetapi ini belum tentu juga terjadi, sehingga kita tidak bisa menyampaikan pada saat ini detailnya,” jelasnya.
Tingkat Partisipasi Gladi Bersih TKA Tetap Tinggi
Saat ini, beberapa daerah telah resmi mengajukan jadwal TKA susulan akibat terdampak karhutla, salah satunya adalah Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Timur (NTT) juga mengajukan TKA susulan karena gempa bumi yang menyebabkan sejumlah satuan pendidikan masih menumpang, mengalami pemadaman listrik, dan kendala lainnya.
Meskipun demikian, data dari BKPDM Kemendikdasmen menunjukkan tingkat partisipasi satuan pendidikan dan siswa pada gladi bersih TKA relatif tinggi.
Di Manggarai Timur, 75 persen SMK (9 sekolah) dan 96 persen SMA (49 sekolah) mengikuti gladi bersih. Tingkat partisipasi siswa juga tinggi, yakni 73 persen siswa SMK (811 siswa) dan 91 persen siswa SMA (2.753 siswa).
Manggarai Barat mencatat partisipasi 100 persen SMK (23 sekolah) dan 91 persen SMA (34 sekolah) dalam gladi bersih. Untuk siswa, 93 persen siswa SMK (1.936 siswa) dan 94 persen siswa SMA (2.653 siswa) turut serta.
Tingkat Provinsi NTT menunjukkan partisipasi 83 persen SMK (291 sekolah) dan 92 persen SMA (684 sekolah). Sebanyak 88 persen siswa SMK (23.087 siswa) dan 92 persen siswa SMA (59.844 siswa) juga berpartisipasi.
“Kalau untuk NTT, alhamdulillah dari hasil gladi bersih sih aman ya. Tingkat partisipasinya tinggi,” ujar Rahmawati.
Sementara itu, di Kalimantan Selatan, tingkat partisipasi gladi bersih TKA adalah 96 persen SMK (120 sekolah) dan 57 persen SMA (379 sekolah). Dari sisi siswa, 88 persen siswa SMK (15.913 siswa) dan 92 persen siswa SMA (32.366 siswa) mengikuti gladi bersih.
Provinsi Kalimantan Tengah juga telah menghubungi Kemendikdasmen untuk meminta kelonggaran penjadwalan TKA akibat karhutla. Tingkat partisipasi sekolah di Kalteng pada gladi bersih TKA adalah 97 persen SMK (135 sekolah) dan 71 persen SMA (318 sekolah). Untuk siswa, 88 persen siswa SMK (8.497 siswa) dan 85 persen siswa SMA (23.526 siswa) berpartisipasi.
Komentar