Kemendikdasmen Ingatkan Pentingnya Kejujuran dan Manfaat Nilai TKA bagi Siswa dan Guru

Kadis BKPDM Kemendikdasmen berikan pesan penting terkait pelaksanaan TKA SMA/MA/SMK 2026, tekankan kejujuran dan manfaat hasilnya untuk evaluasi pembelajaran.

Kemendikdasmen Ingatkan Pentingnya Kejujuran dan Manfaat Nilai TKA bagi Siswa dan Guru
TKA SMA hingga SLB pada 2025. Foto: (Dokumentasi Kemendikdasmen)

JAKARTA – Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA/MA/SMK sederajat pada tahun 2026, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Prof Dr Toni Toharudin, SSi MSc, mengingatkan pentingnya kejujuran dalam pengerjaan tes. Ia berpesan agar siswa mengerjakan TKA dengan kemampuan sendiri agar nilai yang diperoleh benar-benar mencerminkan kapabilitas mereka.

Selain itu, Toni juga mengimbau siswa untuk mengerjakan TKA dengan rasa senang, artinya dalam kondisi tenang, tidak terbebani secara berlebihan, dan penuh keyakinan diri. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar secukupnya, istirahat yang memadai, serta pemahaman mendalam terhadap petunjuk pengerjaan, termasuk yang telah dilatihkan dalam gladi bersih.

“Yang bermanfaat itu berawal dari gambaran kemampuan yang sebenarnya,” ujar Toni saat taklimat media pelaksanaan TKA SMA/MA/SMK/sederajat yang digelar di Gedung E Kemendikdasmen, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026).

Ia menambahkan, “Guru-guru juga, berikan dukungan yang kuat kepada siswa kita, kerjakan sebaik-baiknya, jujur di dalam prosesnya, dan juga nanti jadikan hasilnya ini sebagai bekal untuk terus belajar buat anak-anak.”

Toni menjelaskan bahwa hasil TKA yang diperoleh setiap murid dapat menjadi alat bantu untuk mengenali capaian akademik pribadi mereka. Secara kolektif, hasil TKA keseluruhan juga dapat memberikan gambaran mengenai mutu pendidikan yang diterapkan. Bagi sekolah, hasil TKA menjadi bahan refleksi penting untuk melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran.

“Khusus untuk tingkat SMA, SMK, MA, sederajat, saya kira perguruan tinggi ini juga, data terkait dengan TKA akan dijadikan sebagai bahan awal diagnosis awal terkait dengan kemampuan capaian akademik dari para siswa yang nanti akan studi lanjut di perguruan tinggi,” jelasnya.

Manfaat Nilai TKA bagi Siswa

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) BKPDM Kemendikdasmen, Dr Rahmawati ST MEd, pada kesempatan yang sama, memaparkan bahwa nilai TKA memiliki peran krusial dalam membantu siswa memetakan minat dan bakat mereka pada jalur akademik, serta dalam merencanakan karier di masa depan.

“TKA ini kan Tes Kemampuan Akademik ya, artinya kalau dia berhasil di situ, sukses di situ; minatnya, bakatnya mungkin di jalur akademik,” ungkap Rahmawati.

Ia memberikan contoh, apabila seorang siswa bercita-cita mendaftar ke perguruan tinggi negeri (PTN) yang sangat kompetitif dengan tingkat keketatan penerimaan 1:1.100 orang, namun nilai TKA-nya berada di bawah rata-rata populasi (misalnya 50%), maka siswa tersebut dapat mempertimbangkan kembali tujuannya atau justru membulatkan tekad untuk meningkatkan usaha, semangat, dan ketekunan demi mencapai prodi impian tersebut.

“Yang mungkin hanya 1% dari siswa Indonesia yang bisa masuk ke dalam prodi tersebut. Jadi itu adalah salah satu manfaat lain ketika ada banyak yang mengikuti TKA, maka hasil TKA ini juga menjadi gambaran posisi seorang murid itu berada di bagian mana dari populasi,” terangnya.

Manfaat Nilai TKA bagi Guru dan Perguruan Tinggi

Rahmawati menambahkan, nilai TKA juga memberikan manfaat signifikan bagi para guru. Hasil tes ini membantu guru dalam memahami tingkat capaian kompetensi mayoritas siswa mereka. Berdasarkan hasil TKA, guru dapat merencanakan pembelajaran yang lebih tepat sasaran atau menerapkan pendekatan differentiated learning.

“Kalau dalam satu kelas ternyata yang kategori baiknya hanya 2 orang, yang lainnya masuk kategori kurang, maka seperti apakah perencanaan pembelajarannya untuk bisa menyesuaikan,” ucapnya.

Ia melanjutkan, apabila semua siswa mengikuti TKA, guru di jenjang SMP dapat menggunakan hasil TKA kelas 6 SD sebagai asesmen awal. Dengan pemetaan capaian akademik tiap siswa ke dalam kategori masing-masing, guru dapat menyusun strategi pembelajaran yang efektif di jenjang SMP.

“Begitu juga untuk jenjang SMA dan SMK, semua hasil TKA dari jenjang SMP bisa digunakan sebagai dasar assessment awal untuk dimanfaatkan menjadi strategi pembelajaran di jenjang berikutnya. Begitu pula dengan hasil TKA SMA/SMK bisa menjadi gambaran awal bagaimana kompetensi mahasiswa-mahasiswa baru yang masuk ke perguruan tinggi,” jelasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *