Survei Penilaian Integritas Pendidikan (SPI) tahun 2026 yang dirilis oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap bahwa praktik plagiarisme dan menyontek masih menjadi persoalan serius di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia.
Plh Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Dian Novianthi, menyatakan bahwa temuan ini mencakup berbagai bentuk kecurangan akademik. Menurutnya, plagiarisme dilaporkan oleh 48 persen responden di 93 persen satuan pendidikan tinggi yang disurvei.
Lebih lanjut, Dian Novianthi memaparkan bahwa kecurangan dalam ujian, seperti menyontek, juga masih kerap terjadi. Praktik ini terdeteksi pada 50 persen responden dari total 97 persen kampus yang menjadi sampel survei.
“Terkait melakukan kecurangan, masih terjadi di level dasmen, di 26 persen peserta didik masih menyontek pada saat ujian. Dan ini terjadi di 51 persen satuan pendidikan level dasmen, sementara di perguruan tinggi terjadi 50 persen responden dan 94 persen satuan pendidikan,” ungkap Dian.
Temuan lain yang mengkhawatirkan adalah adanya mahasiswa yang belum berani menolak praktik menyontek ketika dilakukan oleh teman-temannya. Persentase mahasiswa yang tidak berani menolak ini mencapai 18 persen responden di perguruan tinggi, yang tersebar di 71 persen satuan pendidikan tinggi.
“Salah satu temuan yang kami temukan adalah peserta didik masih tidak berani menolak menyontek ketika banyak teman melakukannya. Ini kami temukan di 18 responden dasar menengah, yang terjadi di 43 persen satuan pendidikan, dan di perguruan tinggi terjadi di 18 persen responden, dan di 71 persen satuan pendidikan level perguruan tinggi,” jelas Dian.
Mahasiswa Membayar Joki untuk Tugas Akhir dan Skripsi
Dalam dimensi karakter yang disurvei, KPK juga menemukan adanya praktik mahasiswa yang menggunakan jasa joki untuk menyelesaikan tugas akhir maupun skripsi mereka. Hal ini menunjukkan adanya indikasi pembelian jasa pengerjaan tugas akademik.
“Masih ada temuan terkait mahasiswa yang membayar pihak lain untuk mengerjakan tugas akhir atau skripsi, ini seperti joki tugas ya. Ini di dikti dilaporkan oleh 43 persen responden, dan terjadi di 91 persen satuan pendidik yang disurvei,” pungkas Dian.
Komentar