Jakarta – Skala skor Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat telah mengalami perubahan. Sebelumnya, rentang skor adalah 0-100, namun kini diperbarui menjadi 200-800.
Perubahan ini diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Kepmendikdasmen) RI Nomor 56 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan TKA dan Asesmen Nasional. Ketentuan tersebut menyatakan, “Hasil TKA untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK dilaporkan dalam rentang nilai 200 (dua ratus) sampai dengan 800 (delapan ratus) dengan pembulatan 2 (dua) angka di belakang koma.”
Menanggapi pertanyaan apakah skor baru ini menandakan soal TKA menjadi lebih sulit, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen memberikan klarifikasi. Pihaknya menegaskan bahwa skor baru hasil TKA perlu dibaca bersama dengan penjelasan capaian yang menyertainya. Skala skor 200-800 bukanlah representasi persentase jawaban benar.
“Perubahan skala tidak berarti soal menjadi lebih sulit. Kesulitan ditentukan oleh rancangan soal, sedangkan skala menentukan bagaimana hasil dilaporkan,” demikian pernyataan BKPDM Kemendikdasmen melalui akun resmi mereka.
Cara Penilaian Jawaban TKA
Penilaian TKA menggunakan metode yang dikenal sebagai Item Response Theory Two-parameter Logistic Model (IRT 2PL). Metode ini dirancang untuk menilai setiap butir soal sesuai dengan bobot tantangannya, sehingga tidak ada peserta yang merasa dirugikan oleh variasi paket soal yang diterima.
Menurut unggahan resmi Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Pusmendik Kemendikdasmen), metode IRT 2PL menganalisis dua parameter utama pada setiap butir soal:
- Tingkat kesulitan: Parameter ini mengukur sejauh mana sebuah butir soal menjadi tantangan untuk dijawab dengan benar.
- Daya pembeda: Parameter ini mengukur kemampuan soal dalam membedakan antara siswa yang benar-benar menguasai materi dengan mereka yang belum.
Cara Membaca Hasil TKA
Melalui penerapan metode IRT, dimungkinkan terjadi perbedaan skor meskipun jumlah butir soal yang dijawab benar oleh dua siswa adalah sama. Dalam skenario ini, siswa yang berhasil mengerjakan soal-soal yang lebih sulit akan diestimasi memiliki kemampuan yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa yang cenderung menjawab soal-soal dasar akan diestimasi memiliki kemampuan rata-rata.
Setiap butir soal dalam penilaian IRT memiliki bobot tantangannya sendiri, yang memperhitungkan karakteristik unik dari masing-masing soal. Metode ini secara keseluruhan bertujuan untuk menghasilkan penilaian yang lebih akurat terhadap kemampuan individu.
Dikutip dari informasi yang beredar, penggunaan metode IRT diharapkan dapat menghasilkan laporan hasil TKA yang lebih mencerminkan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah secara individual. Hasil TKA kemudian akan dikategorikan menjadi tiga tingkatan: Baik, Memadai, dan Kurang.
Selain itu, terdapat predikat Istimewa yang dapat diraih oleh siswa SMA/sederajat. Untuk memperoleh predikat ini, siswa harus mencapai nilai minimal 725,00 pada setiap mata uji yang diikuti.
Komentar