Asap Karhutla Paksa Sekolah di Malaysia Tutup, Singapura Juga Terdampak

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan meluas hingga Malaysia dan Singapura, memaksa sekolah di Malaysia ditutup sementara demi kesehatan siswa.

Asap Karhutla Paksa Sekolah di Malaysia Tutup, Singapura Juga Terdampak
Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain/Asap dari karhutla di Indonesia menyelimuti wilayah Malaysia.

Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berasal dari Indonesia telah meluas hingga ke Singapura dan Malaysia. Kondisi kualitas udara yang memburuk ini memaksa penutupan sekolah dan lembaga pendidikan di sejumlah wilayah Malaysia demi menjaga kesehatan dan keselamatan para siswa.

Kementerian Pendidikan Malaysia memutuskan untuk menutup sekolah di Negeri Sembilan, Selangor, Melaka, Johor, Pahang, dan Kuala Lumpur mulai Jumat (9/10/2026). Keputusan ini diambil setelah beberapa wilayah mencatatkan Indeks Polusi Udara (API) pada kategori “tidak sehat”. Departemen Pendidikan negara bagian menyatakan bahwa lembaga pendidikan yang terdampak harus beralih ke metode pengajaran dan pembelajaran berbasis rumah (PdPR) untuk memastikan kelangsungan proses belajar mengajar.

Meskipun demikian, sekolah di beberapa wilayah dijadwalkan mulai dibuka kembali pada Selasa (13/10/2026). Namun, sekolah di wilayah Johor serta empat distrik di Kuala Lumpur dan Selangor masih harus tetap ditutup akibat paparan asap yang belum mereda. Menteri Pendidikan Fadhlina Sidek merinci bahwa distrik yang masih terdampak meliputi Bangsar dan Pudu di Kuala Lumpur, serta Hulu Langat, Gombak, dan Petaling Perdana di Selangor. Kementerian akan terus memperbarui kebijakan ini seiring dengan perbaikan kualitas udara.

Per Senin (12/10/2026) pukul 11.03, beberapa wilayah di Malaysia masih menunjukkan kualitas udara yang “tidak sehat” berdasarkan Indeks Kualitas Udara (AQI) dan polusi udara PM2.5. Klang mencatat AQI US 123 (tidak sehat bagi kelompok sensitif), Kuala Selangor 117 (tidak sehat bagi kelompok sensitif), dan Kuala Lumpur 113 (tidak sehat bagi kelompok sensitif).

Singapura juga tidak luput dari dampak kabut asap. Pada Jumat (9/10/2026), kualitas udara di negara tersebut berada pada kisaran “tidak sehat”. National Environment Agency (NEA) menyarankan warga Singapura untuk terus memantau tingkat PM2.5 setiap jam jika berencana melakukan aktivitas di luar ruangan. NEA menjelaskan bahwa kabut asap ini berasal dari Sumatera bagian selatan dan tengah serta Kalimantan Barat, dan diperkirakan akan terus bergerak menuju Singapura seiring dengan arah angin.

Risiko penyebaran asap karhutla masih tergolong tinggi. Laporan dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) per Minggu (11/10/2026) mengkonfirmasi masih terdeteksinya hotspot di Sumatera dan Kalimantan, dengan kabut asap yang terus bergerak ke arah Malaysia dan Singapura. Peneliti ahli muda PRIMA, Ardhi Adhary Arbain, menekankan pentingnya arah dan kecepatan angin dalam menyebarkan asap. Simulasi BRIN pada Agustus 2026 menunjukkan pola angin dominan dari tenggara yang berbelok ke timur laut setelah melewati ekuator, memungkinkan partikel PM2.5 dari kebakaran di Indonesia terbawa hingga ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *