Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) mendorong agar sarana dan prasarana penerbit perguruan tinggi, yang dikenal sebagai university press, mendapatkan perhatian serius dari pemerintah serta pimpinan universitas. APPTI bahkan mengusulkan agar keberadaan university press dapat dipertimbangkan sebagai salah satu syarat dalam proses akreditasi perguruan tinggi.
Ketua Umum APPTI, Purnomo Ananto, menjelaskan bahwa penguatan peran university press sangat penting bagi para dosen dan mahasiswa. “Dengan adanya ini maka ini akan memperkuat peran university press bagi dosen maupun mahasiswa yang saat ini, terutama kami yang dosen, harus bekejar dengan penulisan buku, artikel, jurnal yang tidak mudah. Akibatnya banyak sekali tumbuh berkembang penerbit-penerbit jurnal yang macam-macamlah berorientasi pada bisnis,” ujar Purnomo dalam rapat dengar pendapat umum bersama Komisi X DPR, yang disiarkan oleh TVR Parlemen (28/9/2026).
APPTI menilai bahwa penerbit perguruan tinggi lokal belum mendapatkan posisi yang layak di negeri sendiri. Purnomo menyoroti fenomena yang memprihatinkan, di mana banyak sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Indonesia justru menggunakan buku-buku terbitan asing seperti Oxford University Press atau Harvard University Press.
“Dari sekitar 4.000-an perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, ini paling yang menjadi anggota itu baru sekitar 7 sampai 8%. Karena untuk mendirikan sebuah university press ini tidak mudah,” ungkapnya, merujuk pada rendahnya jumlah universitas yang bergabung dengan APPTI.
Purnomo menekankan bahwa buku yang bermutu merupakan elemen krusial dari infrastruktur pengetahuan. APPTI juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga kualitas buku teks, baik untuk keperluan sekolah maupun buku umum.
Permasalahan kualitas buku bermutu ini mencakup berbagai aspek, mulai dari akurasi materi, proses penyuntingan yang cermat, hingga efektivitas distribusi. Tantangan ini tidak hanya terbatas pada lingkup pendidikan sekolah, tetapi juga merambah ke jenjang perguruan tinggi dan masyarakat luas.
Empat Permasalahan Utama Perbukuan di Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, APPTI menggarisbawahi empat persoalan fundamental dalam industri perbukuan Indonesia yang memerlukan perhatian mendesak dari pemerintah. Keempat persoalan tersebut meliputi maraknya pembajakan buku, pertumbuhan buku bajakan yang subur di berbagai platform marketplace dan media sosial, tantangan dalam ekosistem penerbitan, serta terbatasnya akses terhadap buku-buku bermutu.
“Buku bajakan tumbuh massal di marketplace bahkan di media sosial. Berani ini Bapak Ibu, marketplace itu banyak juga menjual buku bajakan. Namun, penerbit tidak bisa apa-apa,” keluh Purnomo.
Ia menambahkan, “Ekosistem penerbitan, insentif pajak belum maksimal. Beban operasional dan pembajakan ini mengancam penerbit bukan hanya penerbit perguruan tinggi tetapi juga mungkin penerbit umum.”
Komentar