JAKARTA – Profesi guru memegang peranan krusial dalam menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Namun, di balik pentingnya profesi ini, muncul kekhawatiran mengenai minat generasi muda yang cenderung berkurang untuk memilih jalur karier sebagai pendidik.
Data menunjukkan bahwa minat terhadap program studi pendidikan di berbagai perguruan tinggi sebenarnya masih cukup tinggi. Akan tetapi, setelah menyelesaikan pendidikan, sebagian besar lulusan justru mengalihkan pilihan karier mereka ke sektor lain. Kompetensi yang diperoleh selama kuliah dimanfaatkan untuk bekerja di berbagai bidang, mulai dari perbankan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan rintisan, hingga industri kreatif.
Pilihan karier tersebut tidak dapat dikatakan keliru, karena menunjukkan bahwa lulusan pendidikan memiliki kemampuan adaptasi yang baik di beragam sektor. Namun, fenomena ini menimbulkan persoalan lain yang memerlukan perhatian serius: profesi guru tidak lagi menjadi tujuan utama bagi banyak lulusan, menandakan adanya pergeseran cara pandang generasi muda terhadap profesi pendidik.
Putri Rachmadyanti, dosen sekaligus Koordinator Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menjelaskan bahwa generasi muda saat ini lebih realistis dalam mempertimbangkan sebuah profesi. Selain semangat pengabdian, aspek praktis seperti kesejahteraan, kesempatan berkembang, jenjang karier, dan keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance) menjadi pertimbangan utama.
Artinya, daya tarik profesi guru tidak cukup hanya didorong oleh panggilan mengajar semata. Minat tersebut harus dihadapkan pada realitas tuntutan dunia kerja yang lebih luas. Hal ini disampaikan Putri Rachmadyanti sebagaimana dikutip dari laman Unesa.
Ancaman Krisis Guru
Putri Rachmadyanti menyoroti bahwa jika profesi guru terus dipandang sebelah mata tanpa penghargaan dan kesejahteraan yang memadai, Indonesia berpotensi menghadapi krisis kelangkaan pendidik berkualitas dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. “Memang, ada banyak anak-anak muda yang berminat menjadi guru karena dorongan hati mereka, tetapi minat dan keinginan itu di tengah jalan diuji dengan tuntutan realistis berupa angka dan tingkat kesejahteraan, serta jenjang karier,” katanya.
Oleh karena itu, kesejahteraan guru harus dipandang secara holistik, tidak hanya sebatas besaran penghasilan. Lingkungan kerja yang sehat, beban kerja yang proporsional, perlindungan hukum, kesempatan peningkatan kompetensi, dan jalur pengembangan karier yang jelas merupakan elemen penting untuk meningkatkan daya tarik profesi ini.
Dengan perbaikan kondisi kerja, profesi guru diharapkan dapat kembali menjadi pilihan karier yang dibanggakan, bukan sekadar pilihan pelengkap ketika opsi lain tidak tersedia. Putri menegaskan bahwa peran guru sangat fundamental dalam menentukan masa depan peserta didik dan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.
Peran guru sangat vital, terutama di jenjang sekolah dasar. Guru SD tidak hanya mentransfer materi pelajaran, tetapi juga mendampingi perkembangan anak, membangun fondasi karakter, mengembangkan kemampuan sosial, membentuk cara berpikir, serta menanamkan kebiasaan belajar yang akan menjadi bekal penting di tahap kehidupan selanjutnya.
Pentingnya peran guru semakin relevan di era perubahan teknologi yang pesat. Meskipun berbagai profesi baru dan kecerdasan artifisial (AI) mengubah cara peserta didik mencari informasi dan belajar, peran guru tetap tidak tergantikan. Justru, ketika AI dapat mengambil alih tugas-tugas teknis, peran guru dapat bergeser ke aspek yang membutuhkan kemampuan humanis.
Guru sangat dibutuhkan untuk membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, inovasi, serta memperkuat karakter, empati, dan keteladanan moral. “Guru memiliki peran penting untuk mendampingi peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab,” ujar Putri.
Komentar