JAKARTA – Seorang profesor di Universitas Chicago, Nicholas Polson, menjadi sorotan publik setelah dilaporkan menerbitkan lebih dari 200 makalah ilmiah dan 14 buku dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir. Produktivitas luar biasa ini memicu spekulasi mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses penyusunan karya-karyanya.
Laporan dari Washington Post, yang dikutip pada Senin (28/9/2026), mengungkapkan bahwa Polson, yang merupakan pakar statistik, telah menghasilkan karya dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun para kritikus tidak menuduh Polson melakukan penipuan, banyak yang mempertanyakan kemungkinan pemanfaatan AI untuk mempercepat produksi makalah.
Profesor Mengakui Penggunaan AI
Dalam pengakuannya kepada The Post, Nicholas Polson mengakui bahwa ia menggunakan AI sebagai alat bantu dalam menghasilkan karya-karyanya. Namun, ia tidak merinci secara spesifik bagaimana AI tersebut diaplikasikan dalam setiap makalah yang telah dipublikasikan. Mayoritas makalah Polson berfokus pada topik statistik dan matematika tingkat lanjut, namun beberapa di antaranya juga menyentuh isu-isu seperti tekanan keuangan terkait potongan jaminan sosial, permainan catur, hingga tren penyajian video di TikTok.
Pengakuan ini menimbulkan keraguan di kalangan pakar lain. Ekonom Universitas Central Arkansas, Jeremy Horpedahl, menyatakan bahwa jumlah lebih dari dua ratus makalah dalam sembilan bulan adalah angka yang “belum pernah terjadi sebelumnya dan sulit dipercaya.” Sementara itu, profesor manajemen UCLA, Auyon Siddiq, menyoroti keragaman topik dan perbedaan signifikan antar karya Polson sebagai hal yang tidak biasa untuk dicapai dalam satu tahun.
Menanggapi keraguan tersebut, Polson menjelaskan bahwa AI memang memiliki potensi untuk meningkatkan produktivitas peneliti. “Jelas sekali, AI membuat seorang peneliti yang produktif menjadi jauh lebih produktif,” tulis Polson dalam emailnya kepada The Post.
AI: Membantu Peneliti atau Mengganggu Kredibilitas?
Penggunaan AI dalam dunia akademis memang sudah umum untuk mempercepat tugas-tugas rutin seperti melacak penelitian sebelumnya. Namun, kekhawatiran muncul terkait potensi AI yang dapat mencemari alur penelitian dengan plagiarisme, karya yang berlebihan, kutipan palsu, dan kesalahan kritis dalam data serta analisis.
Sebuah tinjauan pada tahun 2026 terhadap 3.200 makalah menemukan bahwa 2 persen di antaranya mengandung setidaknya satu referensi yang tidak dapat diverifikasi. Studi terpisah pada makalah yang diterima konferensi AI juga menemukan lebih dari 300 makalah mengandung kutipan yang tidak ada. Dengan kemampuan AI untuk menghasilkan lebih banyak studi, muncul kekhawatiran bahwa volume tersebut dapat membebani editor dan peninjau yang bertugas menyaring materi dan menemukan masalah.
Editor senior untuk Organization Science, Gartenberg, memperkirakan jumlah naskah yang dikirimkan untuk publikasinya telah berlipat ganda sejak ChatGPT tersedia pada akhir 2022. Penerbit akademis besar, Elsevier, melaporkan pengiriman naskah ke jurnal-jurnalnya melonjak sekitar 68 persen dari tahun 2021 hingga 2025. “Para editor kewalahan,” kata Gartenberg.
Dampak AI pada Kepercayaan Akademik
Sebelum era AI, studi yang cacat atau curang yang lolos dari pengawasan dapat menyesatkan publik dan pembuat kebijakan. Contohnya adalah makalah pada tahun 1998 di jurnal Lancet yang mengaitkan vaksin MMR dengan autisme, yang kemudian ditarik dan memicu kekhawatiran tentang keamanan vaksin. Studi-studi selanjutnya tidak menemukan hubungan tersebut.
Kini, Gartenberg khawatir bahwa makalah AI berkualitas buruk dapat semakin mengikis kepercayaan pada proses peninjauan ilmiah dan mengurangi dampak penemuan yang berpotensi menawarkan solusi untuk masalah serius.
Komentar