DPR Ingatkan TKA Bukan Beban Psikologis Siswa, Ini Alasannya

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati menekankan agar Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak menjadi beban psikologis bagi siswa dan tidak dianggap penentu tunggal masa depan.

DPR Ingatkan TKA Bukan Beban Psikologis Siswa, Ini Alasannya
Pelajar mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMK Negeri 1, Bandung, Jawa Barat, Senin (26/10/2026). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati, memberikan penegasan agar pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa jenjang SMA/sederajat tidak sampai menimbulkan beban psikologis. Pelaksanaan perdana TKA ini berlangsung pada Senin, 26 Oktober 2026.

Kurniasih mengingatkan bahwa TKA seharusnya tidak dipandang sebagai satu-satunya penentu masa depan pendidikan peserta didik. Menurutnya, TKA berfungsi sebagai instrumen objektif untuk mengukur capaian akademik. Oleh karena itu, kesiapan sekolah, serta dukungan dari guru dan orang tua menjadi krusial agar siswa dapat mengikuti asesmen dengan tenang dan percaya diri.

“TKA harus dilaksanakan dengan prinsip keadilan, transparansi, dan pendekatan yang humanis. Kita ingin anak-anak mengikuti asesmen dengan tenang, percaya diri, dan tanpa tekanan berlebihan. Jangan sampai TKA justru membuat siswa stres atau merasa masa depan pendidikannya hanya ditentukan oleh satu hasil tes,” ujar Kurniasih dalam keterangannya di Jakarta, Senin (26/10/2026), mengutip dari laman DPR.

Ingatkan Orang Tua dan Guru

Pendekatan humanis, lanjut Kurniasih, dapat diwujudkan melalui penyampaian informasi yang jelas, pendampingan yang memadai, dan penciptaan suasana pelaksanaan TKA yang nyaman. Guru dan orang tua memegang peran penting dalam membantu peserta didik memahami bahwa TKA adalah bagian dari evaluasi kemampuan akademik, bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

“Anak-anak memiliki kemampuan, potensi, dan proses belajar yang berbeda-beda. Karena itu, jangan membangun suasana seolah-olah TKA menjadi penentu seluruh masa depan mereka. Kita perlu menjaga semangat belajar dan kesehatan mental siswa agar mereka dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya tanpa rasa takut yang berlebihan,” tegas politisi Fraksi PKS tersebut.

Perhatikan Kesetaraan dan Kondisi Darurat

Lebih lanjut, Kurniasih menyoroti pentingnya kesetaraan kesempatan bagi seluruh siswa. Perbedaan kondisi geografis dan kesiapan infrastruktur di berbagai daerah tidak boleh menjadi hambatan bagi siswa dalam mengikuti TKA.

“Kesiapan perangkat, jaringan internet, listrik, hingga pendampingan teknis harus benar-benar diperhatikan,” katanya.

Di samping itu, ia meminta agar pelaksanaan TKA di wilayah yang terdampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa. Peserta didik tidak boleh dipaksa mengikuti asesmen jika kabut asap berisiko terhadap kesehatan mereka.

Kurniasih berharap mekanisme pelaksanaan TKA susulan yang disediakan oleh Kemendikdasmen dapat diakses dengan mudah oleh siswa yang terkendala situasi darurat. Hal ini penting agar siswa tetap dapat mengikuti TKA tanpa mengorbankan keselamatan dan kesehatan.

TKA untuk Evaluasi Pembelajaran

Ia berharap TKA dapat dimanfaatkan secara proporsional untuk memetakan capaian akademik siswa dan menjadi bahan evaluasi guna peningkatan kualitas pembelajaran. Kurniasih mengingatkan agar TKA tidak hanya berorientasi pada angka dan nilai semata.

“TKA seharusnya membantu kita memahami capaian pembelajaran siswa dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Jangan sampai asesmen hanya berorientasi pada angka dan nilai, sementara proses belajar, perkembangan karakter, dan potensi anak justru terabaikan,” terangnya.

Kurniasih menutup pernyataannya dengan harapan agar pelaksanaan TKA dapat berlangsung secara tertib dan objektif, serta tetap menghormati kondisi, kebutuhan, dan hak peserta didik. Dengan demikian, hasil TKA tidak hanya memberikan gambaran capaian akademik, tetapi juga menjadi masukan berharga untuk perbaikan proses pembelajaran secara berkelanjutan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *