Transformasi Pendidikan Manajemen Mendesak untuk Hadapi Kebutuhan Industri dan Teknologi

Kementerian Pendidikan mendorong perguruan tinggi mentransformasi jurusan manajemen agar lulusan siap hadapi kebutuhan industri dan perkembangan teknologi terkini.

Transformasi Pendidikan Manajemen Mendesak untuk Hadapi Kebutuhan Industri dan Teknologi
Ilustrasi manajemen. Foto: Shutterstock

JAKARTA – Perguruan tinggi di Indonesia didorong untuk melakukan transformasi pada pendidikan manajemen. Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, menyatakan bahwa langkah ini krusial agar kompetensi lulusan selaras dengan tuntutan industri dan pesatnya perkembangan teknologi.

Data dari laporan “Statistik Pendidikan Tinggi 2025” Kemdiktisaintek mencatat, manajemen merupakan jurusan sarjana dengan jumlah mahasiswa terbanyak di Indonesia, mencapai 1.096.786 mahasiswa. Jurusan ini didukung oleh 21.651 dosen, termasuk 803 guru besar dan 7.072 dosen bergelar doktor.

Meskipun demikian, jumlah mahasiswa yang besar ini berbanding terbalik dengan tantangan di dunia kerja. Kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan bahwa lulusan manajemen mendominasi angka pengangguran di kalangan lulusan minimal strata satu (S1). Sekitar 10,3% dari total penganggur berpendidikan S1 berasal dari bidang studi manajemen.

Badri Munir Sukoco menekankan pentingnya penyelarasan pendidikan manajemen dengan prioritas pembangunan nasional dan kebutuhan industri strategis. Ia melihat ini sebagai peluang besar seiring fokus pemerintah pada kedaulatan dan kemandirian bangsa.

“Ini peluang bagus, karena pemerintah saat ini tengah berfokus pada sovereignty, kemandirian. Saya yakin nanti akan ada banyak insentif-insentif bagi pengusaha yang ada di Indonesia,” ujar Badri saat Seminar Nasional Forum Manajemen Indonesia (FMI) 2026, Rabu (21/10/2026), seperti dikutip dari Kemdiktisaintek.

Pemerintah memprioritaskan delapan sektor strategis, meliputi energi, pangan, kesehatan, maritim, digitalisasi, pertahanan, hilirisasi, industrialisasi, serta material dan manufaktur maju. Badri meyakini sektor-sektor ini dapat menjadi wadah bagi lulusan manajemen untuk berkontribusi melalui keahlian yang lebih spesifik.

Ia menambahkan, ekosistem pendidikan tinggi manajemen yang besar memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Keahlian manajemen sangat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan berbagai sektor, mulai dari pengelolaan rumah sakit hingga industri pertambangan.

Perlu Peningkatan Kapasitas Dosen

Badri menegaskan bahwa pengembangan kompetensi lulusan manajemen harus mempertimbangkan karakteristik sektor industri yang akan digeluti. Dengan keahlian yang lebih spesifik, lulusan diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih optimal.

“Akan jauh lebih bagus ketika transformasi bidang manajemen tadi, lulusannya cukup banyak. Di sisi lain, kita juga menyumbang alumni yang mungkin juga belum bisa berkontribusi optimal karena belum berkesempatan untuk bekerja. Kita bisa fokus, lulusan yang sangat spesifik akan bisa berkontribusi ke masing-masing bidang,” jelas Badri.

Selain itu, Badri juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas dosen manajemen. Kemampuan perguruan tinggi untuk beradaptasi harus dimulai dari proses belajar dan pengembangan kompetensi berkelanjutan, termasuk melalui upskilling (peningkatan keterampilan) dan reskilling (pelatihan kembali).

“Kami minta di kontrak kinerja rektor, untuk reskilling dan upskilling dosen. Kalau nggak, ketika kecepatan teknologi ini, AI dan lain-lain, apa yang kita ajarkan pasti tidak akan relevan dengan mahasiswa yang Gen Z yang nantinya akan berkontribusi pada 5-10 tahun ke depan,” terangnya.

Transformasi Tanpa Harus Buka Prodi Baru

Badri menjelaskan bahwa transformasi pendidikan manajemen tidak selalu mengharuskan pembukaan program studi baru. Perguruan tinggi dapat melakukan evaluasi kurikulum dan silabus, memperbarui metode pembelajaran, serta mengembangkan konsentrasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Alumnus National Cheng Kung University Taiwan ini juga menekankan pentingnya mahasiswa memiliki tidak hanya keterampilan praktis, tetapi juga kemampuan sosial, etika, tanggung jawab, dan komunikasi. Ia mengajak seluruh perguruan tinggi dan akademisi untuk terus melakukan evaluasi dan transformasi pendidikan manajemen demi menghasilkan lulusan yang adaptif, kompeten, serta relevan dengan kebutuhan industri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *