BNN Perkuat Pencegahan Narkoba di Era Digital Melalui Ekosistem Sosial-Digital Vaping

Badan Narkotika Nasional (BNN) terus berupaya memerangi peredaran narkoba di era digital dengan berbagai jurus pencegahan yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini. Komitmen ini mengemuka seiring dengan hasil riset independen Klinik Digital yang menyoroti kompleksitas peredaran narkoba, khususnya melalui fenomena vaping.

Penelitian yang dipimpin Associate Prof Dr Devie Rahmawati ini mengidentifikasi bahwa vaping telah berkembang dari sekadar produk menjadi sebuah ekosistem sosial-digital. Tantangan terbesarnya, menurut Devie, adalah ketika generasi muda mulai kehilangan persepsi risiko terhadap suatu hal yang terus-menerus terlihat, dibicarakan, dan hadir dalam pergaulan mereka.

Studi tersebut dilakukan melalui metode web scraping untuk mengumpulkan data dari internet secara terarah, dilanjutkan dengan evidence synthesis dan triangulasi lintas sumber. Tujuannya adalah memetakan bagaimana produk, konten digital, teman sebaya, akses, dan perilaku saling terhubung dalam membentuk norma.

Devie menilai bahwa fenomena vaping jauh lebih kompleks daripada sekadar keputusan individu untuk menggunakan atau tidak menggunakan sebuah produk. Vaping di Indonesia telah menjelma menjadi ekosistem sosial-digital tempat produk, konten, teman sebaya, keluarga, gaya hidup, ritel, dan platform digital saling berinteraksi.

Temuan ini menggarisbawahi bahwa yang perlu diwaspadai bukan hanya produknya, tetapi juga proses yang secara perlahan membuat penggunaan vaping terasa normal di masyarakat. Analisis dilakukan secara bertahap dengan melihat berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari epidemiologi, produk, eksposur digital, keluarga, ritel, regulasi, hingga evaluasi pencegahan.

Hasil akhir penelitian ini berupa pemetaan mekanisme yang membentuk normalisasi terhadap vaping. “Algoritma tidak bekerja sendirian, tetapi ada teman, keluarga, produk, komunitas, dan lingkungan sosial. Persoalan digital pada akhirnya tetap merupakan persoalan manusia,” ujar peneliti Klinik Digital, Wiratri Anindhita.

Temuan ini menjadi dasar bagi Klinik Digital untuk mengevaluasi kembali kebutuhan pencegahan BNN dan keterkaitannya dengan jejaring sosial yang telah dimiliki. Klinik Digital memetakan persoalan vaping, dan justru menemukan bahwa arah pencegahan BNN saat ini sangat relevan dengan karakter risiko yang teridentifikasi.

BNN dinilai memiliki modal penting dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks. Modal tersebut meliputi pengalaman dalam pencegahan, jejaring masyarakat, sekolah, dan komunitas, perhatian terhadap generasi muda, serta kapasitas kolaborasi lintas sektor. Rilis penelitian juga mencatat kekuatan jaringan pencegahan BNN pada masyarakat, sekolah, dan komunitas.

“Kami memetakan masalahnya terlebih dahulu. Justru setelah peta itu terbentuk, terlihat bahwa kekuatan pencegahan sosial yang selama ini dibangun BNN semakin relevan dengan tantangan generasi muda hari ini,” ujar peneliti Klinik Digital, Andhita Yukihana. Ia menambahkan, “Institusi yang kuat bukan hanya mampu menghadapi ancaman yang sudah terlihat, namun, yang mampu membaca perubahan sebelum perubahan itu menjadi jauh lebih besar.”

Klinik Digital menyebutkan bahwa jika ruang digital dapat mempercepat penyebaran norma, maka jaringan anak muda juga dapat mempercepat penyebaran norma yang sehat. Keberadaan 214 Desa/Kelurahan Bersinar menunjukkan bahwa pencegahan BNN telah merambah hingga lingkungan tempat norma sosial sehari-hari dibentuk. Jejaring ini menjadi relevan karena penelitian menempatkan lingkungan sosial sebagai salah satu ruang terbentuknya norma perilaku generasi muda.

“Inilah yang menarik dari BNN. Ketika banyak orang melihat teknologi sebagai jawabannya, BNN ternyata telah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki algoritma, yaitu manusia, teman sebaya, dan komunitas. Dalam era digital, justru jaringan sosial nyata seperti inilah yang semakin berharga,” tambah Wiratri, yang juga pengurus Yayasan RKD.

Klinik Digital turut mengapresiasi konsistensi BNN dalam menempatkan pencegahan sebagai prioritas, melalui penguatan strategi War on Drugs for Humanity melalui Ananda Bersinar, transformasi digital, dan pemberantasan narkotika terintegrasi. Pilihan tersebut dinilai penting, mengingat pemberantasan menangani ancaman yang telah terjadi, sementara pencegahan berusaha memastikan ancaman tersebut tidak pernah sempat tumbuh.

Kajian Klinik Digital menyimpulkan bahwa BNN tidak memulai dari nol. Fondasi pencegahannya sudah ada, dan temuan ilmiah menunjukkan fondasi tersebut semakin relevan untuk menghadapi perubahan lanskap risiko generasi muda. “Kemenangan terbesar pencegahan bukan hanya ketika kita berhasil menghentikan sesuatu yang berbahaya, tetapi ketika satu generasi tidak pernah merasa perlu untuk memulainya,” kata Devie.

Devie melanjutkan, “Kesimpulan kajian ini adalah pemetaan mekanisme normalisasi vaping, yaitu gambaran tentang bagaimana paparan yang terus menerus terhadap produk, promosi, lingkungan sosial, dan kemudahan akses, dapat membuat vaping secara perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau wajar di masyarakat.”

Tinggalkan komentar