BENGKULU – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Dharma Guna di Bengkulu membuka harapan baru bagi anak-anak yang sebelumnya tidak bersekolah, putus sekolah, atau belum memiliki kesempatan untuk belajar. Keberadaan SKB ini menjadi jembatan bagi mereka untuk meraih kembali cita-cita pendidikan.
Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia (Wamensos RI), Agus Jabo Priyono, menegaskan bahwa SKB merupakan salah satu wujud komitmen negara dalam memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan akses pendidikan guna membangun masa depan yang lebih baik. Kolaborasi antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini memberikan ruang bagi anak-anak tersebut untuk kembali membangun harapan.
Pernyataan ini disampaikan Agus saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB Sentra Dharma Guna Bengkulu secara daring dari Jakarta pada Minggu (20/9/2020). Ia menekankan bahwa pendidikan memegang peranan fundamental dalam memutus rantai kemiskinan.
Agus mengungkapkan bahwa masih ada jutaan anak di Indonesia yang belum bersekolah, dengan faktor ekonomi menjadi salah satu kendala utama bagi keluarga untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya kehadiran negara dalam menjamin akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin.
“Jalur pendidikan adalah sarana yang paling fundamental untuk memutus transmisi kemiskinan. Tugas kita bersama adalah menjemput, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak ini untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita hidupnya dan harapan orang tuanya,” ujar Agus.
Lebih lanjut, Agus menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi yang luar biasa dan dapat berkembang pesat jika diberikan kesempatan yang sama. Ia menegaskan bahwa latar belakang keluarga tidak seharusnya menjadi penentu kemampuan seorang anak untuk berprestasi. “Anak-anakku adalah anak-anak yang hebat, yang butuh peluang, yang butuh ruang untuk membuktikan dan memunculkan kehebatan kalian menjadi sesuatu yang bisa memberikan kebahagiaan dan harapan, terutama bagi kalian dan orang tua kalian,” tutur Agus.
Kehadiran SKB juga melengkapi pengembangan Sekolah Rakyat. Mengingat keterbatasan daya tampung Sekolah Rakyat dibandingkan dengan jumlah anak yang membutuhkan layanan pendidikan, SKB hadir sebagai solusi untuk menampung anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan belajar melalui jalur formal.
Agus kembali menekankan pentingnya negara untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan bersekolah hanya karena keterbatasan ekonomi keluarganya. “Kalau yang mampu bisa bersekolah dengan biaya sendiri, yang tidak mampu negara yang harus mengantarkan mereka, menjemput mereka. Di sinilah pentingnya kita semua bergotong royong dan berkolaborasi antara institusi supaya seluruh anak Indonesia bisa bersekolah dan mewujudkan impian mereka,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para pendamping dan seluruh pihak yang terlibat dalam upaya menjangkau anak-anak yang sebelumnya luput dari perhatian dalam layanan pendidikan. Para pendamping, termasuk Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan (SDM PKH) dan pendamping rehabilitasi sosial, memegang peranan penting dalam melakukan asesmen dan penjangkauan agar anak-anak tersebut dapat kembali bersekolah.
Agus menambahkan bahwa sentra-sentra di bawah naungan Kementerian Sosial tidak hanya menjalankan fungsi rehabilitasi sosial, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. “Setelah adanya Sekolah Rakyat, harapan itu tumbuh kembali. Apalagi kemudian yang tidak bisa di Sekolah Rakyat ditampung melalui SKB-SKB yang diselenggarakan antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Sosial dan Dinas Sosial,” katanya.
Oleh karena itu, Agus mengajak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI (Kemendikdasmen), dinas pendidikan (disdik), dinas sosial (dinsos), sentra Kemensos, serta para pendamping untuk terus memperkuat sinergi dalam menjangkau anak-anak yang belum bersekolah. “Janganlah kita hanya bekerja dengan tugas dan fungsi, tetapi mari kita bekerja dengan hati nurani. Kita harus menjemput anak-anak kita dari keluarga miskin agar mereka bisa sekolah dan kemudian mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka,” pungkasnya.