Perkembangan anak pada usia lima tahun memegang peranan krusial terhadap pencapaian pendidikan dan peluang hidup di masa depan. Namun, anak-anak dari latar belakang sosial ekonomi kurang beruntung kerap menghadapi tantangan besar untuk meraih kesuksesan tersebut.
Pakar pendidikan Universitas Oxford, Dr. Sandra Mathers, menjelaskan bahwa kesenjangan antara anak-anak yang kurang beruntung dengan teman sebaya mereka dapat melebar signifikan. Kesenjangan ini diperkirakan mencapai 10 bulan pada akhir sekolah dasar dan 19 bulan pada akhir sekolah menengah.
Menjawab tantangan ini, Dr. Sandra menekankan pentingnya peningkatan kemampuan berbahasa anak usia dini sebagai langkah awal untuk meminimalisir kesenjangan akademik. “Bahasa memungkinkan anak-anak untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, berteman, memahami orang lain, dan kemudian belajar membaca dan menulis,” ujarnya, dikutip dari Universitas Oxford.
Kemampuan berbahasa saat memasuki sekolah sangat berkorelasi dengan proses pembelajaran, hubungan sosial, dan keberhasilan pendidikan di jenjang selanjutnya. Sayangnya, anak-anak memasuki pendidikan usia dini dengan tingkat kemampuan berbahasa yang sangat bervariasi. Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi ekonomi kurang beruntung berisiko lebih besar memulai sekolah dengan kemampuan yang lebih lemah.
Oleh karena itu, mendukung perkembangan bahasa anak sebelum mereka memasuki sekolah memiliki potensi nyata untuk mempersempit kesenjangan pada usia dini. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana cara terbaik untuk mewujudkan dukungan tersebut.
Solusi Efektif Melalui Program “Talking Time”
Dr. Sandra Mathers memaparkan bukti terbaru dari program bahasa usia dini yang dikembangkan bersama, yaitu “Talking Time”. Program ini dikembangkan bersama Dr. Julie Dockrell dari UCL, Dr. Sandra Mathers sendiri, dan Wendy Lee dari LINGO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa anak dapat ditingkatkan melalui dukungan yang efektif di lingkungan prasekolah.
“Talking Time menggunakan aktivitas kelompok kecil yang dibangun di sekitar percakapan, bercerita, dan bermain. Para pendidik juga menerima pelatihan dan bimbingan dengan cara-cara yang didukung penelitian untuk mendukung berbahasa, termasuk menyesuaikan interaksi dengan anak-anak yang berbeda,” jelasnya.
Program “Talking Time” telah diuji dalam skala besar dan dievaluasi secara independen. Riset ini melibatkan sekitar 1.700 anak prasekolah di 123 lembaga pendidikan usia dini di Inggris, dengan pendanaan dari Education Endowment Foundation.
Hasilnya, anak-anak di prasekolah yang mengikuti program “Talking Time” menunjukkan kemajuan tambahan rata-rata sekitar satu bulan dalam perkembangan bahasa. Anak-anak yang memenuhi syarat untuk Early Years Pupil Premium (EYPP) dan anak-anak dengan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Tambahan (EAL) bahkan mengalami kemajuan tambahan sekitar dua bulan.
Tiga Prinsip Kunci Mengatasi Kesenjangan Kemampuan Anak Usia Dini
Temuan dari program “Talking Time” menyoroti tiga prinsip penting untuk mengatasi ketidaksetaraan kemampuan di usia dini:
- Pertama, menutup kesenjangan tidak selalu berarti mengidentifikasi anak-anak yang kesulitan secara terpisah untuk intervensi tambahan. “Talking Time” mengadopsi pendekatan ‘tertarget menyeluruh’ yang memperkuat dukungan bahasa untuk semua anak dalam suatu lingkungan, yang sangat relevan di mana banyak anak berisiko mengalami keterlambatan bahasa.
- Kedua, meningkatkan kemampuan bahasa anak berarti berinvestasi pada orang dewasa yang mendukungnya. Pengembangan profesional bagi pendidik mencakup pembangunan pengetahuan, kepercayaan diri, dan penguasaan strategi pendukung bahasa. Tujuannya adalah agar interaksi bahasa berkualitas tinggi menjadi bagian dari praktik sehari-hari.
- Ketiga, kesetaraan berarti memberikan setiap anak apa yang mereka butuhkan, bukan memberikan hal yang sama kepada setiap anak. “Talking Time” membekali pendidik untuk menggunakan strategi pendukung bahasa secara fleksibel, mengikuti minat anak, memperluas bahasa dan pemikiran mereka, serta menyesuaikan tingkat dukungan sesuai kebutuhan.
Prinsip-prinsip ini krusial karena setiap anak memiliki pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa yang berbeda. Oleh karena itu, para pendidik memerlukan praktik berbasis bukti yang kuat dan keahlian untuk mengadaptasinya. Tujuannya bukan sekadar lebih banyak bicara, melainkan percakapan yang lebih kaya dan responsif yang membantu setiap anak berpartisipasi dan berkembang.
“Kesenjangan ketidakberuntungan sudah cukup besar pada usia lima tahun, tetapi itu tidak berarti bahwa jalur perkembangan anak-anak tidak bisa diubah,” pungkas Dr. Sandra.
Komentar