Kemendagri Fokus Genjot Ekonomi Daerah di 2026

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada tahun 2026 ini membawa pendekatan baru dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, memutuskan untuk memperluas fokus agenda rapat. Kini, selain menjaga stabilitas harga, rapat juga akan secara detail mengawal pergerakan angka pertumbuhan ekonomi di tingkat kabupaten/kota.

Dalam Rakor yang digelar pada awal September 2026, Tito menegaskan bahwa ini merupakan rapat perdana yang secara khusus membedah realisasi pertumbuhan ekonomi daerah. Ke depannya, agenda ini akan menjadi agenda rutin yang dievaluasi secara berkala. “Pada pagi hari ini kita juga mulai membahas ini, mungkin sebulan sekali, yaitu mengenai pertumbuhan ekonomi. Ini rapat kita mungkin yang pertama spesifik mengenai masalah pertumbuhan ekonomi, dan kita akan betul-betul kawal bersama-sama,” kata Tito pada Senin (14/9/2026).

Perubahan fokus ini didasari oleh peran krusial pemerintah daerah dalam misi besar mewujudkan visi Indonesia Emas dan mengeluarkan Indonesia dari jebakan kelas menengah atau *middle income trap*. Tito menantang para kepala daerah untuk membidik angka pertumbuhan yang progresif demi mengubah status perekonomian bangsa secara kolektif. “Kita ingin keluar dari negara berkembang, terjebak pada pendapatan kelas menengah (*middle income trap*). Salah satu kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi harus tinggi, bila perlu *double digit*. Negara-negara yang menjadi negara maju hampir semuanya keluar dari jebakan negara pendapatan kelas menengah ketika pertumbuhan ekonominya *double digit*,” urai Tito.

Untuk mencapai target tersebut, Tito membedah empat komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi yang harus dikawal ketat, yakni konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah (APBD), investasi, dan ekspor neto. Terkait instrumen belanja pemerintah daerah, ia menegaskan tidak akan segan memberi teguran bagi daerah yang kinerja penyerapan anggarannya lambat. “Tiap tiga bulan kita melakukan anev, membacakan berapa realisasi pendapatan sesuai dengan target dan berapa realisasi belanja. Yang realisasinya rendah otomatis kita akan ingatkan dan kita turunkan tim. Ada yang pendapatannya tinggi belanjanya rendah, ada yang pendapatannya rendah belanjanya melebihi berarti ngutang, ada yang pendapatannya tinggi belanja tinggi, nah itu yang terbaik,” tegas Tito.

Demi mewujudkan ekosistem data yang akurat dan perencanaan yang matang, Kemendagri turut menggandeng Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dan Kepala BPS Amalia Adininggar. Kolaborasi ini, kata Tito, memicu persaingan sehat antar pemerintah daerah melalui pemaparan BPS terkait capaian daerah, sekaligus memberikan peta jalan bagi Bappenas dalam mengarahkan prioritas pembangunan nasional.

Kendati demikian, Tito tetap mengingatkan bahwa rapat juga tidak boleh mengesampingkan tugas utama pengendalian inflasi yang bulan ini berada di angka 3,19 persen secara tahunan. Lewat rakor format baru ini, Kemendagri menaruh harapan besar agar pimpinan daerah tidak lagi hanya bertindak reaktif saat harga pangan melonjak, tetapi benar-benar aktif melakukan perubahan ekonomi di wilayahnya.

Tinggalkan komentar