Polda Banten mengonfirmasi penemuan jenazah ABK kapal Arupadhatu 1, Surakman (50), yang ditemukan oleh warga di Pulau Enggano, Bengkulu. Jenazah tersebut sempat dimakamkan oleh warga setempat karena tidak ada yang mengenali identitasnya.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Hutapea menjelaskan bahwa jenazah tersebut ditemukan dalam kondisi membusuk. “Sempat dimakamkan oleh warga, karena warga tak ada yang merasa kehilangan, kemudian jenazah pun sudah membusuk,” ujar Maruli kepada wartawan, Rabu (23/9/2026).
Kapolda Banten Irjen Hengki menambahkan, penemuan jasad tanpa identitas ini terjadi pada 12 September, atau pada hari kelima operasi pencarian delapan orang yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau. Nelayan di Pulau Enggano menemukan mayat pria tersebut dan kemudian berkoordinasi dengan Polda Banten mengenai penemuan jasad itu.
“Saya mendapat informasi dari Kapolda Bengkulu bahwa di sana, di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, ditemukan seorang jenazah Mr. X,” kata Hengki.
Jasad tersebut ditemukan mengenakan celana pendek hitam, dengan perkiraan tinggi badan 163 cm dan usia sekitar 50 tahun. Keesokan harinya, jenazah tersebut dimakamkan oleh warga.
Setelah menerima informasi, Polda Bengkulu berkoordinasi dengan Polda Banten untuk melakukan autopsi. Jenazah kemudian diekshumasi dan dibawa menggunakan pesawat Cessna ke RS Bhayangkara Polda Bengkulu.
“Diamankan dalam artian, jenazah atau mayat tadi diamankan dari Pulau Enggano, dibawa dengan pesawat Cessna menuju Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu,” jelas Hengki.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) kemudian melakukan pencocokan data antemortem dari delapan keluarga korban kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Data tersebut dikirim oleh Polda Banten setelah pengambilan sampel dari keluarga korban.
Hasil identifikasi keluar pada Selasa (22/9). Jenazah Surakman berhasil diidentifikasi berdasarkan pencocokan DNA dengan putranya, Yayat.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA seorang mayat Mr X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu teridentifikasi sebagai Surakman atau ayah biologis dari tuan Yayat (putra Surakman),” pungkas Hengki.