JAKARTA – Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, angkat bicara terkait penetapan kadernya, Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, sebagai tersangka kasus suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) lahan di Kabupaten Bogor. Bahlil menyatakan bahwa kejadian ini merupakan sebuah musibah bagi partainya.
“Jadi gini, yang pertama kalau teman-teman menganggap tentang Golkar, ada kadernya, kami menganggap ini sebuah musibah,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Bahlil mengaku sangat terpukul melihat salah satu kadernya terjerat kasus korupsi. Namun, ia menegaskan bahwa hal ini tidak menyurutkan semangat Golkar untuk terus menatap masa depan. “Dan kami merasa terpukul, tapi kita Golkar akan menatap ke depan. Ini adalah semua musibah yang sudah barang tentu tidak semua orang menginginkannya,” tuturnya.
Ia menambahkan, “Kami selalu menatap ke depan sebagai partai yang berpengalaman, sebagai partai yang banyak kadernya.” Di sisi lain, Bahlil mengakui bahwa pihaknya tidak bisa mengontrol setiap individu. Golkar, menurutnya, menghormati seluruh proses hukum yang sedang berjalan. “Memang kita juga tidak bisa mengontrol satu dengan satu tapi yang terpenting adalah kita menghargai proses hukum yang berlaku. Kita menjunjung tinggi dan biarkanlah semua proses hukum itu kita hargai dengan baik,” jelasnya.
Kasus ini merupakan kali ketiga politikus Partai Golkar tersebut ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Fahd pertama kali ditetapkan sebagai tersangka pada tahun 2012 terkait kasus suap Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID). Lima tahun kemudian, ia kembali menjadi tersangka KPK dalam kasus korupsi proyek pengadaan Al-Qur’an.
Terbaru, Fahd kembali ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar pada Senin (14/9).