JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Dede Yusuf, menanggapi usulan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengenai ambang batas parlemen (parliamentary threshold/PT) sebesar 7 persen. Dede Yusuf menyatakan bahwa partainya sedang mengkaji konsep tersebut, namun fokusnya lebih pada jumlah suara rakyat yang berpotensi hangus jika PT diterapkan. Ia menyoroti bahwa pada pemilu sebelumnya dengan PT 4 persen, sekitar 17 juta suara terbuang, dan pada pemilu 2009 dengan PT 2,5 persen, angka suara hangus bahkan mencapai 19 juta.
Menyikapi persoalan suara hangus ini, Partai Demokrat mengusulkan penerapan konsep ‘Dapil Nasional’ atau ‘national pool’ untuk pemilihan anggota DPR RI. Dalam konsep ini, sisa suara dari partai-partai yang berhasil lolos ambang batas parlemen akan dikumpulkan. Suara-suara tersebut kemudian akan dikonversi menjadi kursi tambahan di DPR, sehingga tidak ada suara pemilih yang terbuang sia-sia.
Dede Yusuf menjelaskan bahwa konsep penggabungan sisa suara ini pernah diterapkan sebelumnya dalam model ‘stembus accord’ pada Pemilu 1999. Ia berharap pengkajian ulang konsep ini dapat secara signifikan mengurangi jumlah suara yang hangus. “Itu sebabnya Demokrat sejak awal sudah mengusulkan konsep ‘Dapil Nasional’ (national pool). Dimana sisa suara rakyat dari partai-partai yang lolos threshold nanti akan dikonversi menjadi dapil nasional sehingga tidak ada suara rakyat yang terbuang. Dulu pernah dilakukan model stembus accord,” ucapnya.
Meskipun demikian, Dede Yusuf menegaskan bahwa usulan ‘Dapil Nasional’ ini masih dalam tahap kajian internal partai. Ia juga menyebutkan bahwa konsep serupa telah diterapkan di negara lain seperti Selandia Baru dan Jerman. “Lagi digodok dulu, ada sistem ini di Selandia Baru dan Jerman juga,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memang konsisten mengusulkan kenaikan ambang batas parlemen menjadi 7 persen. Alasannya adalah untuk menyeleksi partai yang lolos ke parlemen menjadi lebih sedikit, sehingga mempermudah tata kelola demokrasi di Indonesia. “Dari pemilu ke pemilu memang NasDem paling eager untuk menaikkan tingkat parliamentary threshold. Saya harus katakan sejujurnya memang itu. Karena memang pertimbangan kita adalah selected partai. Lebih sedikit partai untuk mengatur lalu lintas jalannya demokrasi di negeri ini, menurut pandangan kami, NasDem tentunya ya,” jelas Paloh.
Surya Paloh menambahkan bahwa partainya selalu konsisten dalam mengusulkan kenaikan ambang batas parlemen, namun tetap menghargai perbedaan pandangan dari partai lain. Ia juga mengakui bahwa elektabilitas Partai NasDem saat ini belum mencapai 7 persen. Kendati demikian, Paloh menyatakan kesiapannya jika partainya tidak lolos ke parlemen akibat kenaikan ambang batas tersebut. “NasDem mengusulkan 7%, walaupun surveinya NasDem 4%. Jadi NasDem itu mengikhlaskan dirinya kalau dia nnggak masuk di parlemen karena parliamentary threshold-nya tinggi, ya itulah bagian daripada keinginan kita mementingkan kepentingan nasional lebih besar daripada kepentingan partai,” tuturnya.