JAKARTA – Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa pendidikan memegang peranan krusial dalam memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Pemerintah berkomitmen untuk terus memastikan akses pendidikan terbuka bagi anak-anak yang menghadapi kendala ekonomi, salah satunya melalui program Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
Program SKB ini merupakan wujud kolaborasi antara Kementerian Sosial dengan pemerintah daerah. Agus menyampaikan pesan ini saat memberikan sambutan secara daring pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SKB Sentra Margo Laras Pati, Jumat (18/9). Ia mengikuti acara dari kediamannya di Jakarta Timur, sementara MPLS berlangsung luring di Pati.
Agus menekankan bahwa SKB tidak sekadar menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan, melainkan bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan kesempatan belajar kembali bagi anak-anak yang sebelumnya terhalang aksesnya. “Sekolah Rakyat, SKB, kita tempatkan sekarang ini sebagai jalan pengentasan kemiskinan melalui jalur pendidikan. Supaya kalau orang tua yang miskin, anaknya tidak ikut miskin. Negara harus hadir untuk menjemput, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak kita untuk bisa mewujudkan impian mereka,” ujar Agus Jabo dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).
Ia merinci data yang menunjukkan masih ada sekitar 4,1 juta anak yang tidak sekolah, putus sekolah, atau belum pernah mengenyam pendidikan formal. Lebih dari 76 persen dari mereka menyatakan faktor ekonomi sebagai alasan utama. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa 74,51 persen penduduk miskin saat ini memiliki tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, menggarisbawahi korelasi erat antara tingkat pendidikan dan kondisi sosial-ekonomi.
“Pentingnya negara hadir untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui jalur pendidikan. Kalau orang tuanya miskin, anaknya di hari depan tidak ikut miskin karena negara hadir,” imbuhnya.
Agus menambahkan, anak-anak yang belum terjangkau Sekolah Rakyat tetap perlu mendapatkan ruang untuk belajar. SKB hadir sebagai fasilitasi pemerintah melalui sinergi antara Kementerian Sosial, Dinas Pendidikan, dan pemerintah daerah. Ia pun menyerukan agar jajaran Kementerian Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, para pendamping, pekerja sosial, guru, serta seluruh pihak terkait tidak bekerja sendiri-sendiri.
“Sudah bukan waktunya kita kerja sendiri-sendiri. Saatnya kita melakukan kolaborasi dan sinergi untuk melaksanakan dan menyukseskan program pengentasan kemiskinan,” tegas Agus Jabo. Kolaborasi ini krusial agar anak-anak yang sebelumnya tidak bersekolah dapat kembali mendapatkan pendidikan, pendampingan, dan kesempatan meraih masa depan yang lebih cerah.
Ia juga mengingatkan jajaran Sentra Kemensos untuk mengoptimalkan peran sentra sebagai pusat pelayanan sosial. Penanganan persoalan sosial, menurutnya, tak terlepas dari upaya pemberdayaan dan rehabilitasi sosial, termasuk penguatan bagi anak-anak yang sebelumnya tidak bersekolah.
Kepada para siswa SKB, Agus Jabo berpesan agar tidak merasa rendah diri dan senantiasa menjaga semangat belajar. “Kalian harus punya semangat, kalian harus punya disiplin yang tinggi, supaya kemudian orang tua kalian bangga. Sekolah itu jalan kalian untuk bisa mewujudkan cita-cita kalian,” tutur Agus Jabo.
Pelaksanaan MPLS SKB Sentra Margo Laras Pati merupakan bagian dari upaya menghadirkan akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan. Saat ini, 57 siswa mengikuti program SKB Sentra Margo Laras Pati, meliputi 20 siswa jenjang SD, 31 siswa SMP, dan 6 siswa SMA. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga pendidik, pendamping, serta keluarga, pendidikan diharapkan menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih layak dan mandiri.