Wamendagri Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Wujudkan Banjar Bebas TB

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya mewujudkan target bebas tuberkulosis (TB) di wilayah tersebut. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang terpadu dan berjenjang hingga tingkat desa, termasuk melalui penguatan perencanaan dan penganggaran daerah.

“Harapan saya mungkin dalam waktu 3 bulan, 6 bulan lah, Kota Banjar itu berani mendeklarasikan bahwa Kota Banjar ini bebas TB,” ujar Wiyagus dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (22/9/2026).

Pernyataan ini disampaikan Wiyagus saat menghadiri Pertemuan Lintas Sektor dan Diskusi Interaktif dalam Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan di Pendopo Kota Banjar, Jawa Barat, pada Senin (21/9).

Wiyagus menjelaskan bahwa target bebas TB dapat diupayakan karena kasus TB di Kota Banjar telah teridentifikasi. Namun, penanganannya membutuhkan keterlibatan berbagai unsur dan tidak dapat hanya mengandalkan dinas kesehatan semata.

“Masalah kesehatan ini bukan hanya masalah dinas kesehatan, tetapi kita bicara pentingnya kolaborasi semuanya,” katanya.

Menurutnya, persoalan TB tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pengobatan TB membutuhkan waktu beberapa bulan. Jika pasien adalah kepala keluarga, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan mencari nafkah, sekaligus berdampak pada anggota keluarga yang mendampingi selama masa pengobatan.

Oleh karena itu, Wiyagus menekankan pentingnya penanganan TB dimasukkan ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah. Ia mengapresiasi Kota Banjar yang telah memasukkan persoalan kesehatan, termasuk TB, dalam dokumen perencanaan daerah hingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Selain dukungan penganggaran, Wiyagus mendorong penguatan intervensi hingga ke tingkat desa. Salah satu langkah yang diusulkan adalah pembentukan Desa Siaga TB. Program ini melibatkan berbagai pihak di tingkat desa, seperti kepala desa, Bintara Pembina Desa (Babinsa), kepala puskesmas, Posyandu, dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

“Desa Siaga TB ini penting ya. Di Jawa Barat ini belum banyak ya, dari sekian ribu desa baru sekian desa yang terbentuk,” jelasnya.

Wiyagus kembali menegaskan bahwa TB dapat disembuhkan jika ditangani dengan skema yang tepat. Ia menekankan perlunya terus memperkuat pemeriksaan terhadap kontak erat dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk mencegah penularan sekaligus menekan munculnya kasus baru.

Tinggalkan komentar