Waka MPR: Kinerja Ekspor Batik Naik, Upah Pekerja Perempuan Masih Stagnan

Jakarta – Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat atau yang akrab disapa Rerie, menyoroti kinerja positif industri batik nasional di pasar global. Namun, ia prihatin karena para pekerja perempuan, yang merupakan tulang punggung produksi fashion berkelanjutan seperti batik, masih menghadapi sistem upah yang stagnan dan beban kerja yang terus meningkat.

“Pertumbuhan produksi sustainable fashion seperti batik, belum berdampak positif terhadap upah pekerja yang mayoritas perempuan,” ujar Rerie dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9).

Data Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor batik nasional pada 2025 mencapai US$30,62 juta, menunjukkan pertumbuhan 13,03% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren batik yang mengandalkan proses ramah lingkungan dan pewarna alami sejalan dengan tuntutan fesyen berkelanjutan global.

Namun, proses produksi yang lebih ramah lingkungan ini justru menciptakan kompleksitas baru. Tahapan produksi yang lebih panjang menambah beban kerja para pekerja. Penelitian menunjukkan tambahan beban kerja ini tidak berkorelasi positif dengan kenaikan upah mereka.

Rerie menekankan bahwa perlindungan kesejahteraan pekerja bukan hanya kebijakan ekonomi, melainkan amanat konstitusi. Ia mendorong integrasi holistik antara konservasi lingkungan, pelestarian warisan budaya, dan jaminan perlindungan hak-hak dasar pekerja dalam industri batik hijau.

“Label ‘hijau’ dan ‘berkelanjutan’ dalam industri batik akan kehilangan makna etis jika di baliknya masih ada tenaga kerja tanpa kompensasi yang setara,” tegas Rerie.

Ungkapan ini disampaikan Rerie dalam diskusi daring bertema Batik Hijau dan Keadilan Pekerja Perempuan: Menyatukan Agenda Lingkungan, Budaya, dan Kesejahteraan. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI, Eva Kusuma Sundari. Narasumber yang hadir antara lain Staf Ahli Bidang Sosial Politik dan Kebijakan Publik Kementerian Ketenagakerjaan RI Agus Triyono, Guru Besar IPB Anas Miftah Fauzi, M.Eng., dan Ekonom Senior INDEF Dr. Aviliani. Pendiri NGO Sekar Kawung dan Praktisi Batik Berkelanjutan, Chandra Kirana Prijosusilo, turut hadir sebagai penanggap.

Tinggalkan komentar