JAKARTA – Universitas Indonesia (UI) mengambil langkah tegas dalam meningkatkan kualitas penelitian dengan memperketat kebijakan publikasi ilmiah. Kampus kini membatasi pendanaan riset internal hanya untuk jurnal bereputasi tinggi, khususnya jurnal top-tier atau kuartil pertama (Q1). Lebih lanjut, dosen yang diketahui menerbitkan artikel di jurnal predator, bahkan dengan biaya sendiri, terancam mendapat sanksi.
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI, Hamdi Muluk, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari upaya UI untuk meningkatkan kualitas penelitian dan reputasi akademik agar mampu bersaing di kancah global. “Jadi sekarang kita lebih keras. Dan kadang-kadang ini kita agak diprotes juga dari dosen muda yang merasa dia sulit menembus jurnal-jurnal top-tier,” ujar Hamdi dalam sebuah podcast UI.
Hamdi menegaskan bahwa UI tidak lagi memberikan ruang bagi publikasi di jurnal predator atau yang sering disebut jurnal abal-abal. Dosen yang terbukti menerbitkan karya ilmiah di jurnal semacam itu akan dipanggil dan dikenai konsekuensi. “Tidak ada ruang untuk yang tadi predator. Predator atau jurnal abal-abal itu sudah tidak ada. Jadi sekarang kalau mereka ketahuan, saya punish,” tegasnya.
Kebijakan pengetatan ini tidak hanya berlaku bagi publikasi yang menggunakan dana riset internal UI. Dosen yang menerbitkan artikel di jurnal predator atas inisiatif sendiri tanpa pendanaan kampus pun tetap akan dipanggil. “Walaupun dia enggak dapat funding dari kampus, lalu inisiatif sendiri, ya tetap kita panggil. Jadi enggak ada ruang lagi untuk itu,” ujar guru besar Fakultas Psikologi UI tersebut.
Pendanaan Riset UI Difokuskan ke Jurnal Bereputasi
Lebih lanjut, Hamdi menjelaskan bahwa pendanaan riset internal UI kini diprioritaskan untuk mendukung publikasi di jurnal top-tier atau Q1. Bagi dosen yang ingin mengajukan pendanaan melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dukungan masih dapat diperoleh untuk publikasi di jurnal kuartil kedua (Q2), sesuai dengan skema yang ada.
“Kita hanya mendanai dua (kelompok) jurnal itu doang. Jadi hanya kesempatan dosen kalau mau apply dana riset, ya, dari dana kita, either itu top-tier atau Q1. Tapi dosen-dosen tersebut masih bisa apply dana Dikti, karena Dikti masih mau berikan untuk Q2,” tuturnya.
Pengetatan kebijakan publikasi penelitian ini merupakan bagian dari strategi UI untuk memperkuat reputasi akademik di tingkat internasional. Hal ini sejalan dengan kenaikan signifikan peringkat UI dalam sistem pemeringkatan Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027. Sebelumnya berada di klaster 801-1000, UI kini naik ke kelompok 651-700.
THE WUR memberikan bobot yang signifikan pada riset, baik itu faktor kualitas penelitian (research quality) maupun lingkungan penelitian (research environment). Pilar kualitas penelitian UI mencetak kenaikan 7,5 poin, sementara pilar lingkungan riset naik 5,2 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu indikator penting adalah citation impact atau dampak sitasi, yang menunjukkan sejauh mana karya ilmiah dirujuk oleh peneliti lain.
Menurut Hamdi, semakin kuat pengaruh suatu penelitian di kalangan ilmuwan, semakin besar peluang karya tersebut berkontribusi terhadap reputasi riset universitas. “Memang usaha kita yang lebih tough untuk mulai bersaing dengan (kampus) elite dunia itu adalah meningkatkan reputasi, meningkatkan influence, sehingga itu tercermin dari citation impact. Jadi kalau karya kita itu disitasi sama ilmuwan-ilmuwan hebat, skor bisa cepat naik,” ujarnya.
Hamdi mengakui bahwa perguruan tinggi Indonesia, termasuk UI, masih tertinggal dari universitas terkemuka dunia dalam beberapa aspek penelitian. Namun, ia menilai peningkatan reputasi akademik tidak bisa dicapai secara instan. Universitas membutuhkan waktu untuk membangun ekosistem penelitian yang kuat, meningkatkan kemampuan peneliti, serta memperbaiki produktivitas dan kualitas publikasi ilmiah.
“Yang penting iklim riset kita kondusif, environment-nya bagus, dosen senang bergairah meneliti, kapabilitasnya kita meningkatkan terus, produktivitasnya kita meningkatkan terus, kualitasnya makin meningkat. Munculnya nanti kalau research quality-nya bagus, sitasinya akan datang sendiri,” imbuhnya.
Strategi Cepat tapi Mahal
Selain meningkatkan kualitas penelitian dosen yang sudah ada, Hamdi menyebut perekrutan peneliti unggul dari luar negeri dapat menjadi strategi untuk mempercepat peningkatan reputasi universitas. Salah satu caranya adalah merekrut peneliti sebagai peneliti pascadoktoral (postdoctoral researcher atau postdoc) untuk bekerja dan melakukan penelitian bersama di kampus.
Universitas terkemuka memanfaatkan strategi ini karena peneliti dengan rekam jejak kuat berpotensi menghasilkan publikasi yang mendapat perhatian dan sitasi dari komunitas ilmiah internasional. Namun, strategi ini membutuhkan anggaran besar. Hamdi mengakui keterbatasan dana masih menjadi kendala bagi UI untuk bersaing melalui perekrutan peneliti unggul. “Universitas yang banyak duit itu gencar pakai strategi ini. Kayak transfer pemain bola aja biar cepat reputasi naik. Nah, untuk melakukan itu kita agak sulit karena dana masih terbatas,” ujarnya.
Komentar