Tragedi Air Florida: Es di Sayap Sebabkan Boeing 737 Jatuh ke Sungai Potomac

Kecelakaan pesawat yang dipicu oleh masalah sederhana bukan hal baru dalam sejarah penerbangan. Salah satu insiden tragis yang menyoroti bahaya es yang menempel pada pesawat adalah tragedi Air Florida.

Pada 13 Januari 1982, sebuah pesawat Boeing 737-222 milik Air Florida dengan registrasi N62AF terbang dari Bandara Nasional Washington DC menuju Fort Lauderdale, Florida. Namun, sesaat setelah lepas landas di tengah badai salju lebat, pesawat gagal memperoleh daya angkat yang cukup. Insiden ini berujung pada pesawat menabrak Jembatan 14th Street dan hancur saat tenggelam ke Sungai Potomac.

Saat kejadian, Washington dilanda badai salju. Meskipun petugas telah melakukan pembersihan es dan salju pada pesawat sebelum keberangkatan, campuran cairan pembersih yang digunakan ternyata tidak memenuhi konsentrasi standar, sehingga efektivitasnya dalam mencegah pembentukan es menjadi berkurang.

Lebih lanjut, awak pesawat sempat menyalakan mesin dan mengaktifkan reverse thrust selama 30 hingga 90 detik. Tindakan ini dilarang dalam panduan operasional karena berisiko meniupkan es dan salju basah ke area sayap serta sensor mesin. Es yang menempel diduga telah menyumbat sensor mesin, menyebabkan indikator Engine Pressure Ratio (EPR) di kokpit menampilkan informasi yang keliru mengenai kondisi pesawat.

First Officer sempat menyadari adanya anomali ini dan menyampaikan keraguannya hingga empat kali, namun Kapten mengabaikan peringatan tersebut dan tetap melanjutkan lepas landas. Penumpukan es pada sayap pesawat menyebabkan berkurangnya gaya angkat dan bertambahnya gaya hambat. Akibatnya, pesawat mengalami kehilangan kecepatan dan tidak mampu menanjak lebih dari 200-300 kaki.

Pesawat akhirnya menabrak Jembatan 14th Street, menghantam tujuh kendaraan sebelum jatuh dan hancur di Sungai Potomac. Peristiwa nahas ini merenggut 74 nyawa, terdiri dari 70 penumpang (termasuk tiga bayi) dan empat anggota kru. Lima orang berhasil selamat, terdiri dari empat penumpang dan satu pramugari.

Investigasi lebih lanjut oleh National Transportation Safety Board (NTSB) menemukan adanya kelalaian awak pesawat dalam menyalakan sistem engine anti-ice selama operasi di darat dan saat lepas landas. Keputusan untuk tetap lepas landas meskipun permukaan sayap tertutup salju dan es, serta sikap abai Kapten terhadap informasi anomali mesin, menjadi faktor fatal yang memicu kecelakaan mematikan tersebut.

Tinggalkan komentar