Surabaya Hidupkan Semangat Gotong Royong Lewat Lomba Kampung Pancasila

JAKARTA – Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan program Lomba Kampung Pancasila 2026 yang akan melibatkan 1.360 Rukun Warga (RW) di seluruh kota. Inisiatif ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong, kemandirian, dan kesejahteraan di tengah masyarakat.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyatakan bahwa budaya gotong royong dan saling tolong-menolong merupakan kekuatan utama warga Surabaya yang perlu dijaga kelestariannya.

“Tujuan Lomba Kampung Pancasila itu adalah kembali lagi mengutamakan gotong royong seperti filosofi Pancasila. Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, maka gotong royong, saling tolong menolong dan menjaga dilakukan di Kota Surabaya,” ujar Eri dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/9/2026).

Eri mengakui bahwa berbagai persoalan sosial tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah kota. Ia menegaskan bahwa sinergi antara RT, RW, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) menjadi fondasi penting dalam pembangunan kota.

“Surabaya maju bukan karena wali kotanya, tapi karena warganya yang ditopang oleh gotong-royong yang menjadi ciri khas Pancasila. Siapa yang bisa menggerakkan adalah RT, RW, LPMK dan seluruh warga Kota Surabaya,” tuturnya.

Penjurian Lomba Kampung Pancasila akan didasarkan pada empat pilar utama: lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya. Diharapkan keempat pilar ini dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh warga.

“Insyaallah ketika itu berjalan, maka lingkungan juga akan terjaga, ekonomi akan bergerak, jiwa-jiwa sosial saling membantu akan bergerak. Karena tidak bisa menyelesaikan permasalahan apa pun itu diselesaikan (sendiri) oleh wali kota,” jelasnya.

Pemkot Surabaya akan menugaskan Perangkat Daerah (PD) sebagai pendamping aktif di setiap kampung. Kehadiran aparat pemerintah diharapkan dapat memberikan teladan nyata, bukan hanya sekadar membuat kebijakan.

“Jadi pemerintah kota itu harus menjadi bagian, bukan hanya memerintah, tapi bagaimana memberikan contoh. Karena itulah setiap PD menjadi pengampu,” kata Eri.

Ia menambahkan, PD pengampu bertugas menjaga kampungnya, memastikan lingkungan terjaga, ekonomi bergerak, sosial budaya berjalan, dan gotong royong tetap hidup.

Eri menegaskan bahwa kinerja setiap PD pengampu akan dievaluasi secara ketat. Instansi yang dinilai gagal dalam membina wilayahnya akan menerima teguran keras berupa bendera hitam.

“Karena pemerintah itu tidak hanya bertugas terkait anggaran dan lainnya, tapi bertugas mengembalikan bagaimana gotong royong, bagaimana jiwa-jiwa Pancasila itu dijalankan, bukan hanya dibaca pada waktu upacara, tapi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Melalui kompetisi ini, Eri berharap terjadi perubahan positif dan nyata di setiap sudut perkampungan, menciptakan kampung yang aman, ramah anak dan perempuan, serta sejahtera.

“Saya berharap output dan outcome dari lomba Kampung Pancasila ini adalah perubahan kampung yang aman, kampung yang tidak ada pencurian motor, kampung yang bisa ramah anak dan perempuan, kampung yang sejahtera. Insyaallah saya yakin itu bisa terwujud dengan kampung Pancasila. Karena sejatinya Surabaya memiliki budaya arek yang memang saling menolong dan saling gotong royong,” harapnya.

Kepala BPBD Kota Surabaya yang juga Ketua Satgas Kampung Pancasila, Irvan Widyanto, merinci empat pilar penilaian lomba. Pilar lingkungan berfokus pada program pengurangan sampah melalui pemilahan mandiri. Pilar kemasyarakatan mencakup jaminan keamanan, seperti CCTV dan jadwal ronda. Pilar ekonomi menyoroti kepedulian warga terhadap sesama dan perkembangan UMKM.

“Artinya, di level RT dan RW bagaimana warga yang mampu bisa membantu warga yang kurang mampu. Itu filosofinya,” tegas Irvan.

Sementara itu, pilar sosial budaya menekankan kualitas hidup, termasuk akses kesehatan, pendidikan, dan perhatian terhadap anak putus sekolah. Tahapan lomba tingkat kota ini akan berlangsung dari September hingga Desember 2026, meliputi peluncuran, pendaftaran daring, dan seleksi administrasi berdasarkan data aplikasi Sayang Warga.

Verifikasi lapangan akan dilakukan oleh tim juri yang terdiri dari perwakilan perangkat daerah, akademisi, media, dan praktisi. “Semua pilar tetap saling mempengaruhi, tapi penilaian yang terbesar nanti berasal dari pilar lingkungan dan pilar ekonomi,” tambah Irvan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya, Eddy Christijanto, menambahkan bahwa program ini berakar pada kultur asli warga Surabaya yang nilai-nilai Pancasilanya sudah membumi. Tujuannya adalah membangkitkan kembali nilai tersebut dalam bentuk sistem agar masyarakat melihat penerapannya secara nyata.

“Yang penting kita ingin program itu semuanya dampaknya ke masyarakat, maju bareng, sejahtera bareng, sehat bareng,” ujar Eddy.

Pemkot Surabaya telah menyiapkan anggaran hadiah bagi 35 RW terbaik. Dari 200 RW yang lolos seleksi awal, 165 RW akan mendapatkan bantuan masing-masing Rp 10 juta, sementara 35 RW terbaik akan diperebutkan dalam klasifikasi jumlah RT. Malam penganugerahan dijadwalkan pada 11 atau 12 Desember 2026.

Eri berharap program Kampung Pancasila akan terus berlanjut demi kebaikan seluruh warga Surabaya.

Tinggalkan komentar