Siswi SMP di Jakarta Timur Edit Foto Teman Pakai AI Jadi Vulgar, Disdik DKI Beri Pendampingan

JAKARTA – Seorang siswa kelas 9 di salah satu SMP Negeri di Pulogadung, Jakarta Timur, dilaporkan mengedit foto rekan-rekan sekelasnya menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) hingga bermuatan vulgar. Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta telah menerima informasi tersebut dan berkoordinasi untuk penanganannya.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menyatakan bahwa pihak sekolah, Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur, dan unsur terkait telah menggelar pertemuan dengan orang tua siswa yang terlibat maupun yang terdampak pada Selasa (22/9). “Perlindungan dan pemulihan peserta didik menjadi prioritas dalam penanganan kasus ini,” ujar Nahdiana, Kamis (24/9/2020).

Disdik DKI juga melibatkan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) dalam penanganan kasus ini. Tim dari PPAPP telah melakukan asesmen psikologi sosial terhadap seluruh siswa yang terdampak maupun yang terlibat. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi psikologis dan kebutuhan pendampingan masing-masing siswa. Nahdiana menegaskan bahwa setiap langkah yang diambil harus mempertimbangkan kondisi psikologis anak dan prinsip perlindungan anak.

Meskipun demikian, Disdik DKI belum merinci bentuk sanksi yang akan diberikan kepada siswa yang diduga terlibat, serta statusnya terkait kegiatan belajar dan ujian.

Sebelumnya, kepolisian telah bergerak melakukan penelusuran terkait dugaan kasus pengeditan dan penyebaran foto siswi SMP negeri di Jakarta Timur menggunakan AI hingga bermuatan asusila. Kasi Humas Polres Metro Jakarta Timur, AKP I Made Budi, mengonfirmasi informasi tersebut namun menyatakan belum ada laporan resmi dari para korban.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pelaku mengedit ratusan foto rekan-rekannya dan bahkan menjual hasil editan tersebut. Made menambahkan bahwa foto-foto tersebut dijadikan stiker. Pihak kepolisian mengimbau para korban untuk melaporkan kejadian ini, meskipun polisi juga aktif mengumpulkan informasi.

Di sisi lain, terduga pelaku pengeditan foto tersebut juga melaporkan dugaan penganiayaan ke Polres Jaktim. Ia mengaku dianiaya oleh para korban karena ulahnya mengedit foto menjadi vulgar. “Adapun sebelumnya korban (penganiayaan) mengedit foto siswi-siswi menjadi foto vulgar, lalu teman-teman siswi-siswi tersebut tidak menerima sehingga melakukan kekerasan fisik terhadap korban. Jadi yang melakukan penganiayaan teman-teman para korban karena kesal sudah mengedit foto para korban,” jelasnya.

Tinggalkan komentar