Siswa SMP di Jaktim Diduga Edit Foto Teman Jadi Vulgar Pakai AI, Polisi Selidiki

JAKARTA – Geger di media sosial atas kasus penyebaran foto-foto siswi SMP yang diedit menjadi vulgar menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Peristiwa ini diduga melibatkan siswa kelas 9 di sebuah SMP negeri di kawasan Pulogadung, Jakarta Timur.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa ratusan foto vulgar siswi diproduksi oleh terduga pelaku menggunakan AI, bahkan ada dugaan foto-foto tersebut diperjualbelikan. Pihak kepolisian masih mendalami kebenaran kabar tersebut meskipun belum menerima laporan resmi dari para korban.

Kasie Humas Polres Metro Jakarta Timur, AKP I Made Budi, membenarkan adanya informasi tersebut namun menyatakan belum ada laporan dari korban. “Iya betul (informasi tersebut), namun saat ini belum ada laporan dari para korban,” ujar Made, Kamis (24/9/2020).

Polisi mengimbau para korban untuk segera membuat laporan polisi agar kasus ini dapat diusut tuntas. “Fotonya dijadikan stiker,” tambah Made, mengacu pada salah satu bentuk penyalahgunaan foto tersebut.

Terduga Pelaku Melapor Dianiaya

Dalam perkembangan kasus ini, terungkap bahwa siswa yang diduga mengedit foto-foto siswi tersebut justru melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya. Ia mengaku dianiaya oleh rekan-rekan korban yang tidak terima foto mereka diedit menjadi vulgar.

Menurut Made, penganiayaan tersebut terjadi karena para teman siswi yang fotonya diedit merasa kesal. “Adapun sebelumnya korban (penganiayaan) mengedit foto siswi-siswi menjadi foto vulgar, lalu teman-teman siswi-siswi tersebut tidak menerima sehingga melakukan kekerasan fisik terhadap korban. Jadi yang melakukan penganiayaan teman-teman para korban karena kesal sudah mengedit foto para korban,” jelas Made.

Peristiwa penganiayaan pertama dilaporkan terjadi pada Selasa (15/9) di sebuah rumah kosong di Pulogadung. Siswa yang diduga mengedit foto tersebut dijemput oleh rekan-rekannya sepulang sekolah. “Setelah di rumah kosong korban dipukul di bagian hidung, telinga, kepala, dan dada korban ditendang oleh beberapa pelaku (lidik). Salah satu pelaku mengancam menggunakan katana atau samurai,” ungkap Made.

Dugaan penganiayaan kedua dilaporkan terjadi pada Rabu (16/9) di kawasan waduk Kayu Putih. Polisi masih mendalami laporan ini. “Kemudian setiba di waduk korban dipukul di bagian kepala, digampar di bagian telinga kanan dan kiri, kemudian bagian perut korban beberapa kali ditendang oleh beberapa pelaku,” tuturnya.

Dinas Pendidikan DKI Turun Tangan

Menyikapi kasus ini, Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta telah menerima informasi mengenai dugaan pelecehan digital di SMPN kawasan Pulogadung. Disdik DKI Jakarta bersama Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur dan instansi terkait telah melakukan pertemuan dengan orang tua serta peserta didik yang terlibat dan terdampak pada Selasa (22/9).

Kepala Disdik DKI Jakarta, Nahdiana, menegaskan bahwa perlindungan dan pemulihan peserta didik menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus ini. “Perlindungan dan pemulihan peserta didik menjadi prioritas dalam penanganan kasus ini,” kata Nahdiana, Kamis (24/9).

Disdik DKI juga berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP). Tim PPAPP telah melakukan asesmen psikologi sosial terhadap peserta didik yang terdampak maupun yang terlibat untuk mengetahui kondisi psikologis mereka serta kebutuhan pendampingan. Nahdiana menekankan bahwa setiap langkah penanganan harus mengutamakan kondisi psikologis anak dan prinsip perlindungan anak.

Tinggalkan komentar