Sistem Penilaian IRT 2PL untuk TKA: Keadilan dan Objektivitas dalam Evaluasi

Pahami sistem penilaian IRT 2PL yang digunakan dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA), termasuk tingkat kesulitan dan daya pembeda soal.

Sistem Penilaian IRT 2PL untuk TKA: Keadilan dan Objektivitas dalam Evaluasi
Suasana hari pertama pelaksanaan TKA SD di Kabupaten Ciamis. Siswa SDN 7 Ciamis melaksanakan TKA di SMPN 2 Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dijadwalkan mulai akhir Oktober, penting bagi peserta untuk memahami sistem penilaian yang akan digunakan. Pengetahuan mengenai metode evaluasi ini dapat membantu dalam menyusun strategi belajar yang lebih efektif.

TKA akan menerapkan metode evaluasi bernama Item Response Theory Two-parameter Logistic Model (IRT 2PL). Pendekatan ini dirancang untuk memastikan bahwa asesmen berskala nasional ini berjalan dengan lebih adil, objektif, dan setara bagi seluruh peserta.

Metode IRT bukanlah hal baru dalam dunia asesmen internasional. Tren seperti Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) dan Programme for International Student Assessment (PISA) telah lama mengadopsi IRT. Keunggulan utama metode ini adalah kemampuannya menyatukan pengukuran kemampuan peserta dan tingkat kesulitan soal dalam satu skala yang sama. Hal ini memungkinkan hasil dari berbagai paket soal dan daerah untuk disetarakan secara adil.

Bagaimana Sistem Penilaian IRT Bekerja?

Dengan IRT 2PL, setiap butir soal akan dinilai berdasarkan bobot tantangannya. Tujuannya adalah untuk mencegah kerugian bagi peserta akibat variasi dalam paket soal yang diterima. Hasil TKA untuk jenjang SMA akan dilaporkan dalam rentang skor 200 hingga 800.

Berdasarkan informasi resmi dari Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Pusmendik Kemendikdasmen), metode IRT 2PL menganalisis dua parameter utama pada setiap butir soal:

  • Tingkat Kesulitan: Parameter ini mengukur seberapa menantang suatu butir soal untuk dijawab dengan benar oleh peserta.
  • Daya Pembeda: Parameter ini menilai seberapa efektif soal dalam membedakan antara peserta yang benar-benar menguasai materi dengan mereka yang belum mencapai tingkat penguasaan tersebut.

Jumlah Jawaban Benar Sama, Skor Bisa Berbeda

Perlu dipahami bahwa dalam sistem penilaian IRT, jumlah soal yang dijawab benar oleh dua peserta bisa sama, namun skor yang mereka peroleh bisa berbeda. Sebagai contoh, jika Siswa A menjawab benar 15 butir soal, dan soal-soal tersebut didominasi oleh tingkat kesulitan yang tinggi, maka diasumsikan Siswa A memiliki tingkat kemampuan yang lebih tinggi.

Sementara itu, Siswa B juga menjawab benar 15 butir soal. Namun, jika soal-soal yang dikerjakannya cenderung soal-soal dasar, maka diasumsikan kemampuannya berada pada tingkat rata-rata.

Dalam penilaian IRT, setiap butir soal memiliki bobot tantangan tersendiri. Metode ini secara cermat memperhitungkan karakteristik unik dari setiap soal. Pendekatan penilaian semacam ini sangat sesuai untuk asesmen berskala besar, memastikan bahwa peserta yang mendapatkan paket soal yang lebih sulit tidak berada dalam posisi yang dirugikan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *