Mendikti Imbau Rektor Perguruan Tinggi Merger Prodi untuk Permudah Akreditasi

Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta rektor perguruan tinggi untuk menggabungkan prodi serupa demi efisiensi administrasi dan akreditasi.

Mendikti Imbau Rektor Perguruan Tinggi Merger Prodi untuk Permudah Akreditasi
Mendiktisaintek Brian Yuliarto singgung masalah banyaknya program studi di perguruan tinggi Indonesia. Foto: Tangkapan Layar Youtube/Undiksha

JAKARTA – Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengimbau para rektor perguruan tinggi agar tidak membuka terlalu banyak program studi (prodi). Ia menekankan bahwa membatasi jumlah prodi dapat mempermudah proses administrasi, terutama dalam hal pengurusan akreditasi.

“Tolong jangan kebanyakan prodi, pegel ngurus akreditasi ya kan,” ujar Brian saat membuka Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali, pada 2 Oktober 2026. Pernyataan ini dikutip dari tayangan ulang di laman YouTube Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Senin (5/10/2026).

Brian menyarankan agar perguruan tinggi menggabungkan jurusan yang memiliki kesamaan. Namun, ia menegaskan bahwa proses merger ini tidak boleh sampai mengurangi jumlah mahasiswa yang ada.

“Kalau perlu digabung-gabung aja, merger kan lebih singkat, yang penting jumlah mahasiswa tidak berkurang,” tambahnya.

Ia mencontohkan, penggabungan lima prodi yang masing-masing memiliki 100 mahasiswa menjadi satu prodi, tetap akan mempertahankan total 500 mahasiswa. Hal ini akan menyederhanakan administrasi dan akreditasi.

“Administrasi mudah, akreditasi yang tadinya lima kali dalam 5 tahun tinggal satu kali. Manajemennya juga enggak banyak gitu ya, sehingga lebih simpel,” jelas Brian.

Tak Batasi Diri pada Prodi

Brian juga menyoroti tren pemecahan prodi yang semakin banyak. Ia mencontohkan prodi teknik elektro yang kini terpecah menjadi berbagai spesialisasi seperti teknik telekomunikasi, teknik biomedik, dan teknik informatika.

Menurutnya, jika hanya ada satu prodi yang mampu memberikan beragam keterampilan kepada mahasiswa, kesempatan kerja mereka setelah lulus akan lebih luas. Ia berpendapat bahwa program studi strata satu (S1) seharusnya tidak mempersempit bidang keilmuan.

“Karena kita masih S1, Bapak-Ibu sekalian. Tidak perlu terlalu sempit, bidangnya selalu lebar,” tegasnya.

Ia mengutip tren di Eropa di mana mahasiswa teknik pada semester empat diberikan keleluasaan untuk memilih bidang keahlian spesifik. Meskipun tidak serta merta mengadopsi model ekstrem tersebut, Brian melihatnya sebagai inspirasi.

Oleh karena itu, Brian kembali mengingatkan para rektor untuk fokus mengembangkan keilmuan, bukan sekadar membuka prodi baru. “Prodi itu hanya administrasi. Jangan kita mempersempit keilmuan dengan sekat administrasi,” katanya.

Brian menyarankan agar ide untuk menjadikan setiap keahlian sebagai prodi baru tidak perlu ditindaklanjuti. Ia menegaskan kembali pentingnya perguruan tinggi untuk tidak membatasi diri pada struktur prodi dan terus mengembangkan esensi keilmuan.

“Nah, jadi saya titip pesan Bapak-Ibu, kalau perlu, merger aja Pak prodinya, supaya lebih gampang. Administrasi lebih mudah, akreditasi juga murah ya kan? Nanti, akreditasi mahal, saya juga yang dikomplain,” gurau Brian.

“Jadi, itu kita harus membuat paradigma jangan tersekat-sekat dengan administrasi,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *