Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Ghozi Zulzami, mengungkapkan bahwa persebaran guru di ibu kota masih belum merata. Ketidakproporsionalan antara jumlah guru dan kebutuhan sekolah ini menyebabkan sebagian guru mengalami beban kerja yang tinggi.
Temuan ini didasarkan pada hasil rapat Komisi E dengan Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta serta laporan langsung dari para guru di lapangan. “Menurut catatan kami pada saat rapat dengan Disdik dan juga laporan di lapangan dengan guru-guru di sekolah, jumlah guru di Jakarta belum proporsional. Sehingga banyak guru yang pembebanan kerjanya besar,” ujar Ghozi.
Perlunya Penambahan Guru Kontrak
Menyikapi kondisi tersebut, Ghozi menekankan pentingnya penambahan jumlah guru untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran. Salah satu upaya yang dilakukan Disdik DKI adalah melalui Seleksi Calon Tenaga Kontrak Kerja Individu (KKI).
Disdik DKI telah membuka 2.545 formasi KKI pada tahun 2026, yang terdiri dari 1.879 formasi untuk tenaga pendidik dan 666 formasi untuk tenaga kependidikan. Formasi ini mencakup jenjang PAUD hingga SMK.
Meskipun demikian, jumlah formasi yang dibuka dinilai belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan guru secara kumulatif. Disdik DKI masih menemukan kekurangan, terutama untuk guru mata pelajaran matematika, fisika, bahasa Inggris, serta guru produktif di SMK. “Angka ini belum mencukupi seluruh kekurangan secara kumulatif,” kata Ghozi.
Ghozi mendorong agar rekrutmen melalui jalur KKI terus diperkuat, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan mata pelajaran spesifik dan kondisi masing-masing sekolah. Selain itu, penambahan guru juga harus dibarengi dengan pemenuhan hak guru non-ASN, peningkatan kualifikasi dan sertifikasi melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta menjaga porsi belanja pegawai sesuai kemampuan APBD.
“Defisit guru di DKI nyata dan diperparah pembatasan kuota ASN pusat. Namun, pengembangannya harus memperkuat jalur KKI yang sudah berjalan, menjamin kesetaraan gaji dan hak sesuai regulasi, serta menjaga porsi belanja pegawai agar APBD tidak terbebani,” tegasnya.
Masalah Kekurangan Guru Berskala Nasional
Permasalahan kekurangan guru tidak hanya dihadapi oleh Jakarta, tetapi juga menjadi isu nasional. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, menyoroti bahwa Indonesia secara keseluruhan kekurangan 464.856 guru, dengan kekosongan posisi mencapai 224.545 orang.
“Kita ini memang kekurangan gurunya banyak banget, ada kurang guru 464.856 seluruh Indonesia, sementara kekosongan gurunya 254.454. Mohon ini menjadi perhatian kita bagaimana kita harus menyelesaikan kekurangan guru yang 464 ribu lebih ini,” ungkap Esti.
Esti mendorong pemerintah untuk melakukan survei atau kajian lebih mendalam terkait persoalan ini. Ia juga mempertanyakan nasib 71 ribu lulusan sarjana pendidikan yang ada di tengah kekurangan guru tersebut. “Nah, bagaimana dengan 71 ribu lulusan sarjana pendidikan ini? S1 pendidikan di saat kita kurang guru yang sekian, maka kita berharap betul ada road map untuk perencanaan mengisi kekosongan guru ini,” paparnya.
Jika tidak segera ditindaklanjuti, Esti khawatir hal ini akan menimbulkan masalah baru dalam dunia pendidikan. Ia menekankan pentingnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memetakan secara rinci lokasi kekosongan guru, termasuk mata pelajaran, tingkatan, dan daerahnya.
Pemetaan ini dianggap krusial untuk perencanaan tambahan anggaran dan strategi pemenuhan guru di masa mendatang. Esti juga mengingatkan pentingnya kejelasan dalam pemenuhan guru dan anggaran, serta memperhatikan status kepegawaian guru.