Menjelang akhir tahun, momentum Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November menjadi pengingat akan peran krusial para pendidik. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan bahwa guru memiliki dua peran fundamental yang tak terpisahkan: sebagai agen pembelajaran (agent of learning) dan agen peradaban (agent of civilization).
Sebagai agent of learning, guru bertindak sebagai figur sentral yang digugu dan ditiru, mentransfer ilmu, nilai, serta keterampilan kepada murid. Mereka adalah teladan yang membentuk pemahaman dan kompetensi siswa. Namun, peran ini meluas lebih jauh dari sekadar transfer pengetahuan.
Mu’ti menjelaskan bahwa guru sejatinya adalah agent of civilization. “Substansi pendidikan adalah membangun peradaban dan karakter, sehingga manusia memiliki sikap toleran, terbuka, serta siap bekerja sama,” tuturnya dalam sebuah webinar internasional bertajuk “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” pada Jumat (2/10/2026).
Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman dan Nyaman
Dalam kapasitasnya sebagai agen peradaban, guru memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan sekolah yang berfungsi sebagai ‘meeting point’ dan ‘melting point’. Konsep ini menekankan bahwa interaksi edukatif dan alamiah antara guru dan murid di sekolah harus menumbuhkan sikap toleran, terbuka, dan kolaboratif.
Penciptaan lingkungan yang kondusif ini mencakup aspek fisik, sosial, spiritual, hingga digital. Mu’ti menambahkan bahwa peran serta masyarakat dan keluarga sangat penting dalam mendukung terciptanya sekolah yang aman dan nyaman. Ia mengamati bahwa perilaku kekerasan pada anak seringkali dipengaruhi oleh lingkungan di luar sekolah, termasuk pengaruh media massa dan media sosial.
Menjawab tantangan ini, Kemendikdasmen meluncurkan kebijakan “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”. Salah satu fokusnya adalah mendorong interaksi sosial anak dalam lingkungan yang saling memuliakan, yang diharapkan menumbuhkan perilaku positif melalui “sincerity to accept and accommodate others” atau ketulusan untuk menerima dan mengakomodasi orang lain.
Guru berperan mendesain lingkungan sekolah sebagai ‘hidden curriculum’, sebuah konsep yang selaras dengan ‘deep learning’ atau pembelajaran mendalam. Pengalaman dan praktik di lingkungan pendidikan menjadi modal sosial bagi siswa untuk mengembangkan keadaban utama dan perilaku baik.
Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Webinar internasional yang diselenggarakan menjelang Hari Guru Nasional dan Hari Guru Sedunia tersebut menghadirkan pandangan dari berbagai pihak. Executive Director Leimena Institute, Matius Ho, menyambut baik program “Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” dari Kemendikdasmen, yang menempatkan guru dan sekolah dalam ekosistem yang lebih luas.
Matius Ho menekankan pentingnya hubungan antarwarga sekolah dan dengan masyarakat. “Karena memang kita bukan mendidik robot tapi manusia,” ujarnya. Leimena Institute turut mendukung program ini melalui pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB), yang telah menjangkau lebih dari 12 ribu guru di 38 provinsi.
Melalui LKLB, para guru dilatih untuk membangun suasana toleransi yang kuat di ruang kelas, mengajarkan cara mengatasi stereotip negatif, serta menumbuhkan keberanian untuk bekerja sama secara harmonis demi kebaikan bersama, meskipun memiliki latar belakang agama, kepercayaan, dan budaya yang berbeda.
Komentar