BNPP Perkuat Kerja Sama Pengelolaan Perbatasan dengan Negara Tetangga

Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) menggelar forum dialog “Indonesia Border Partnership Coffee Morning” di Jakarta untuk memperkuat kerja sama pengelolaan tapal batas negara dengan negara-negara tetangga.

Pertemuan strategis yang dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala BNPP RI ini mengangkat tema penguatan kerja sama demi memajukan kesejahteraan kawasan perbatasan.

Dalam forum tersebut, berbagai dinamika, tantangan, serta peluang strategis dalam pengelolaan perbatasan Indonesia yang berbatasan darat dengan Malaysia, Papua Nugini, dan Timor-Leste, serta perairan dengan Singapura, Australia, Filipina, Vietnam, Thailand, India, dan Palau, dibahas secara komprehensif.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan diplomatik dari negara-negara tetangga, termasuk Duta Besar Malaysia, Papua Nugini, Timor-Leste, Vietnam, Singapura, dan Filipina. Turut hadir pula Penasihat Australian Border Force untuk Indonesia serta Konselor Politik Kedutaan Besar India.

Menteri Tito Karnavian menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan negara tetangga sebagai bagian krusial dalam mengkoordinasikan berbagai kementerian dan lembaga terkait di kawasan terluar. “Nomor satu tentu saja untuk melindungi kedaulatan negara, khususnya menjaga dan mengamankan batas wilayah kita,” ujar Tito.

BNPP RI memiliki tanggung jawab penuh atas pengelolaan 15 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang ditargetkan terus berkembang hingga 24 titik. Selain menjaga kedaulatan, institusi ini juga berupaya mengembangkan kawasan terluar untuk merangsang pertumbuhan ekonomi nasional.

Tito menegaskan bahwa pembangunan kini menjadikan area perbatasan sebagai prioritas utama, mengubah pandangan bahwa perbatasan bukan lagi sekadar “halaman belakang” melainkan “halaman depan” negara. “Kami ingin menciptakan perbatasan sebagai ‘halaman depan’ negara,” katanya.

Pengembangan kawasan terluar ini sangat membutuhkan komunikasi intensif dengan negara tetangga agar aktivitas perekonomian yang tumbuh dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di kedua sisi. Interaksi lintas negara ini juga dipengaruhi oleh tingginya hubungan sosial, budaya, dan kekerabatan warga setempat.

Tito mencontohkan keunikan hubungan di perbatasan Indonesia-Papua Nugini, di mana warga kedua negara saling tinggal di wilayah perbatasan. “Di Papua Nugini, warga negara Papua Nugini ada yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia, saya pernah bertemu dengan mereka. Dan beberapa orang Indonesia juga tinggal di Papua Nugini. Ini cukup unik bagi kami,” ucap Tito.

Penyelesaian persoalan wilayah perbatasan juga menjadi perhatian penting. Tito mengapresiasi dialog bersahabat dengan Malaysia yang telah menyelesaikan sejumlah sengketa wilayah, meskipun saat ini fokus tertuju pada Pulau Sebatik yang daratannya terbagi antara kedua negara. BNPP RI bersama kementerian terkait telah membentuk tim khusus untuk merumuskan penyelesaian persoalan tersebut bersama pemerintah Malaysia.

Melalui pertemuan Coffee Morning ini, diharapkan komunikasi internasional dapat terus diperkuat secara berkelanjutan demi menjaga batas negara sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan secara merata.

Tinggalkan komentar