JAKARTA – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) mulai menunjukkan dampak positif signifikan bagi masyarakat di berbagai kawasan transmigrasi Papua. Salah satu keberhasilan nyata terlihat di Manokwari, di mana pendapatan mama-mama Orang Asli Papua (OAP) dilaporkan meningkat lebih dari tiga kali lipat berkat intervensi program tersebut.
Selain peningkatan ekonomi, TEP juga berhasil membuka kembali akses pendidikan bagi hampir 100 anak yang putus sekolah di Lereh, Kabupaten Jayapura. Warga di wilayah tersebut kini juga mulai menikmati fasilitas jaringan telekomunikasi, energi alternatif, dan pasokan air bersih yang memadai.
Berbagai solusi inovatif yang diterapkan TEP merupakan hasil pemetaan langsung terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan oleh tim yang terdiri dari para akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Program ini tidak hanya berfokus pada identifikasi potensi dan kendala, tetapi juga aktif dalam pengujian dan implementasi solusi bersama masyarakat, guna memastikan manfaatnya dapat berkelanjutan dan dikelola secara mandiri oleh warga.
Dampak ekonomi yang paling menonjol terjadi di Manokwari. Melalui program pelatihan pengolahan hasil kebun, para mama OAP berhasil mengembangkan buah matoa menjadi produk dodol yang siap dipasarkan melalui jaringan ritel modern. Inovasi serupa juga diterapkan pada cabai dan tomat, yang diolah menjadi produk lembaran pangan atau food leather untuk meningkatkan nilai tambah serta memperpanjang daya simpan produk.
Menteri Transmigrasi (Mentrans), M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan TEP. Ia menyatakan bahwa program tersebut telah secara signifikan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. “Ibu-ibu OAP memberikan testimoni, sebelum ada pelatihan dari TEP, penghasilannya sekitar Rp700.000 per bulan dari ladang berpindah. Setelah dilatih membuat dodol yang dipasarkan ke supermarket, penghasilannya naik drastis menjadi Rp2.400.000,” ujar Iftitah dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Iftitah, pencapaian ini membuktikan bahwa pengembangan kawasan dapat dimulai dari potensi lokal yang sederhana, kemudian diperkuat melalui peningkatan keterampilan, adopsi teknologi, perbaikan pengemasan, dan perluasan akses pasar. “Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Manfaat TEP juga dirasakan oleh masyarakat di Kawasan Transmigrasi Lereh, Kabupaten Jayapura. Di wilayah pegunungan ini, keterbatasan sinyal telekomunikasi selama ini menjadi hambatan serius bagi pelayanan kesehatan dan pengembangan usaha warga. Tim Telekomunikasi TEP dari Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan pemetaan titik-titik kendala jaringan dan menguji coba pemasangan penguat sinyal lokal di Puskesmas Pembantu SP4. Penguatan sinyal ini krusial untuk mendukung pelayanan kesehatan sekaligus operasional situs Lereh Pharma yang dikembangkan untuk memperluas pemasaran produk masyarakat.
“Solusi yang kami usulkan adalah membangun penguat atau perluasan jaringan lokal yang bersumber dari sinyal Telkomsel di kawasan yang sulit sinyal. Pada bulan kedua, kami menguji cobanya di Puskesmas Pembantu SP4,” kata anggota Tim Telekomunikasi TEP ITB, Aldo Gusti Rahman.
Di Kampung Omon Jaya, TEP juga menemukan tantangan serius terkait pendidikan, di mana hampir 100 anak tidak dapat bersekolah akibat keterbatasan sarana dan transportasi. Untuk mengatasi masalah ini, tim mengaktifkan kembali Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai pusat pembelajaran alternatif bagi anak usia sekolah maupun mereka yang putus sekolah. Pengelolaan TBM diserahkan sepenuhnya kepada warga melalui pembentukan struktur kepengurusan baru, sebuah langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan kegiatan belajar mengajar pasca berakhirnya masa tugas TEP.
“Solusi yang kami tawarkan adalah mengaktifkan kembali Taman Bacaan Masyarakat berbasis inklusi sosial sebagai learning center, tidak hanya untuk anak sekolah, tetapi juga anak putus sekolah. Kepengurusannya kami susun kembali dengan pendekatan self-help development agar warga dapat mengelolanya secara mandiri dan TBM tidak kembali terbengkalai,” ujar anggota TEP klaster pendidikan Universitas Bengkulu, Fendri Febrianti.
Sementara itu, persoalan mendasar terkait pasokan air bersih yang telah berlangsung puluhan tahun di Lereh mulai teratasi melalui pembangunan sistem distribusi air bersih. Jaringan perpipaan diperpanjang agar air dapat mengalir lebih dekat ke permukiman warga, sehingga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari dapat diminimalisir.
Di Manokwari Selatan, tim TEP mengimplementasikan inovasi pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biogas. Energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak dan listrik, sementara residunya diolah menjadi pupuk organik. Inisiatif ini tidak hanya membantu warga menghemat pengeluaran rumah tangga, tetapi juga berkontribusi pada kebersihan lingkungan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengapresiasi kontribusi mahasiswa dalam TEP. Ia menilai kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat diaplikasikan menjadi solusi yang konkret dan membumi. “Kalian tidak hanya turun membawa penguasaan ilmu, tetapi juga membawa energi positif dan solusi yang membumi. Siapa pun yang tergerak karena nilai patriotisme pasti berani keluar dari zona nyaman dan melakukan hal melebihi panggilan tugasnya,” ujar AHY.
Menurut AHY, hasil kerja TEP turut memperkuat pergeseran paradigma program transmigrasi. Program ini kini bertransformasi dari sekadar pemindahan penduduk menjadi pembangunan kawasan yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan transmigran. “Paradigma transmigrasi kini kita ubah, dari sekadar memindahkan masyarakat menjadi memastikan mereka hidup sejahtera dengan ekonomi berskala industri,” tegasnya.
Temuan, aspirasi, dan solusi yang dikembangkan TEP akan dirangkum sebagai bahan strategis bagi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Hasil lapangan tersebut juga akan dibawa dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Infrastruktur bersama gubernur, bupati, dan wali kota se-Tanah Papua untuk mendukung percepatan pembangunan yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini memastikan masyarakat tidak hanya menerima rekomendasi tertulis, melainkan memperoleh keterampilan baru, peluang pendapatan, akses belajar, konektivitas, energi alternatif, serta layanan dasar yang dapat memperbaiki kualitas hidup dan menjaga keberlanjutan pembangunan.