JAKARTA – Sebanyak 54 peserta didik siap kembali menempuh pendidikan kesetaraan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sentra Pangurangi Takalar, Sulawesi Selatan. Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menandai dimulainya kembali kegiatan belajar bagi mereka yang akan mengikuti program Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA).
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menyatakan bahwa kehadiran SKB merupakan jembatan penting bagi anak-anak yang sempat terhenti pendidikannya untuk kembali menimba ilmu. Hal ini disampaikannya secara daring dari Kantor Kementerian Sosial (Kemensos) di Jakarta pada Selasa (22/9).
“SKB, termasuk Sekolah Rakyat adalah jembatan emas bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk menyeberangi kegelapan, menuju kehidupan yang terang-benderang melalui jalur pendidikan,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya.
Agus menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen kuat untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada sekitar 4,1 juta anak yang tidak bersekolah, sebagian besar terkendala faktor ekonomi.
Menyikapi hal ini, Presiden menekankan pentingnya negara untuk memastikan seluruh anak Indonesia dapat bersekolah dan bertanggung jawab menjemput mereka yang putus sekolah akibat kendala ekonomi. Penyelenggaraan SKB di berbagai sentra milik Kemensos menjadi salah satu wujud nyata upaya pemerintah.
Kehadiran SKB di Sentra Pangurangi Takalar merupakan hasil kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Agus menilai ini sebagai langkah awal pengabdian pemerintah untuk masyarakat yang membutuhkan dukungan negara.
“(SKB) di Sentra Pangurangi adalah bentuk bagaimana kemudian kita bersama, bersinergi, berkolaborasi menjalankan apa yang diperintahkan oleh Bapak Presiden sekaligus menjalankan tugas mulia, tugas yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, yaitu mengantarkan anak-anak kita untuk bisa bersekolah kembali,” jelas Agus.
Agus menambahkan bahwa Kemensos, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen), serta pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri dalam mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Ia mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam menjemput, mendampingi, dan mengantarkan anak-anak kurang mampu meraih cita-cita mereka.
“Pak Presiden meminta seluruh aparaturnya berkolaborasi, bersinergi, fokuskan program terutama untuk program pengentasan kemiskinan. Dan pendidikan adalah salah satu program fundamental untuk pengentasan kemiskinan. Mari kita berkolaborasi, bersinergi, bergotong-royong untuk satu tujuan, yaitu pengentasan kemiskinan, supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berdaulat, bangsa yang adil makmur, rakyatnya bahagia lahir dan batin,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan SKB di Sentra Pangurangi dicatat sebagai awal mula pengabdian kepada saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan negara.
“Terus bergotong-royong, terus bangun semangat, jangan lelah untuk membantu saudara-saudara kita yang rentan, untuk membantu saudara-saudara kita yang tidak mampu,” pesan Agus.
Kepala Sentra Pangurangi Takalar, Nur Alam, merinci bahwa dari 54 peserta didik, terdapat 30 perempuan dan 24 laki-laki. Rinciannya, 25 siswa akan mengikuti Paket B (setara SMP) dan 29 siswa akan mengikuti Paket C (setara SMA).
Nur Alam menjelaskan bahwa Sentra Pangurangi Takalar menyediakan sarana dan prasarana, fasilitas pendampingan psikososial, hingga klinik. Selain itu, berbagai program vokasi juga disiapkan sesuai minat dan bakat masing-masing peserta didik.
“Nanti akan kita siapkan dan arahkan sesuai dengan minat dan bakat. Harapannya tentunya ingin menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, adaptif, dan ramah anak. Kemudian mendorong lulusan yang tidak hanya dari jasa formal, tetapi juga memiliki keterampilan mandiri yang tentunya nanti tindak lanjut siap untuk bekerja. Dan menjadikan program ini sebagai pilot project bagi anak-anak putus sekolah berbasis rehabilitasi sosial,” pungkasnya.