Sektor Maritim Indonesia: Ibas Dorong Sinergi Lintas Sektor untuk Ekonomi Biru

JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan sektor kemaritiman nasional melalui kolaborasi yang melibatkan pemerintah, parlemen, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan generasi muda. Menurut Ibas, Indonesia tidak cukup hanya dikenal sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas.

Potensi kelautan harus diubah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. “Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang apa yang kita punya. Kita sudah punya semuanya. Tetapi apa yang bisa kita ciptakan dari apa yang kita punya hari ini,” ujar Ibas dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).

Hal ini disampaikan saat menerima dan berdialog dengan komunitas Maritim Muda Nusantara di Rumah Kebangsaan MPR RI, Jakarta, Rabu (23/9) kemarin. Ibas menegaskan laut merupakan bagian penting dari identitas Indonesia sekaligus ruang strategis bagi masa depan bangsa. “Indonesia adalah bangsa maritim dan laut adalah identitas kita. Laut adalah sumber pangan, jalur perdagangan, sumber energi, sekaligus ruang hidup jutaan masyarakat Indonesia,” katanya.

Pemuda Harus Menjadi Penggerak Ekonomi Biru

Ibas mengapresiasi Maritim Muda Nusantara yang dinilainya telah ikut membangun literasi dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sektor kelautan. Ia menilai generasi muda tidak boleh hanya menjadi pengguna potensi maritim, tetapi harus tampil sebagai pencipta inovasi, pengusaha, peneliti, teknolog, dan penggerak ekonomi biru.

Karena itu, Ibas mendorong penguatan pendidikan dan sumber daya manusia di bidang kemaritiman. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan perlu semakin membuka ruang bagi program studi maupun pengembangan keahlian yang berkaitan dengan kelautan, teknologi maritim, perikanan, akuakultur, logistik, industri perkapalan, hingga ekonomi biru. “Banyak anak muda seperti kalian harus terbuka pikirannya. Sumber daya manusia di bidang maritim harus tumbuh. Kita harus punya ahli dan pakar-pakar maritim untuk masa depan,” tutur Ibas.

Ia juga mendorong Maritim Muda Nusantara untuk mengembangkan program yang dapat melahirkan lebih banyak ocean entrepreneur di berbagai daerah. Menurut Edhie Baskoro Yudhoyono, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan tersebar di seluruh wilayah. Potensi tersebut harus dimanfaatkan untuk menciptakan usaha baru sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi generasi muda.

Dorong Penguatan 1.000 Kampung Nelayan

Ibas mengajak seluruh pemangku kepentingan mengawal pembangunan kampung nelayan agar tidak berhenti pada pembangunan fisik maupun besaran anggaran, tetapi benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. “Kita kawal 1.000 kampung nelayan. Pastikan kampung nelayan itu bukan hanya sekadar nominal, tetapi benar-benar ada barangnya, ada aktivitas ekonominya, ada model pembiayaan yang dibutuhkan UMKM nelayan kita,” ujar Ibas.

Menurutnya, masyarakat pesisir membutuhkan akses yang lebih kuat terhadap pembiayaan, teknologi, pasar, infrastruktur, pendidikan, dan konektivitas. Penguatan UMKM pesisir, kata Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu, penting agar masyarakat nelayan dapat naik kelas dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan bagi keluarga mereka.

Efisiensi Energi untuk Nelayan

Ibas turut menyoroti tingginya biaya operasional nelayan, khususnya yang berkaitan dengan bahan bakar. Ia mendorong kajian dan pengembangan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi energi kapal dan perahu nelayan, termasuk pemanfaatan teknologi baru maupun alternatif energi. Menurutnya, efisiensi biaya melaut akan berdampak langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan nelayan.

“Kalau biaya mereka bisa ditekan melalui konversi maupun inovasi teknologi baru, tentu ruang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka menjadi lebih besar,” katanya. Dr. Edhie Baskoro juga menyatakan dukungan terhadap pengembangan kebijakan energi yang dapat membantu menekan biaya operasional sektor perikanan dan kemaritiman, dengan tetap memperhatikan efektivitas serta keberlanjutan program.

Blue Innovation Harus Menghasilkan Solusi Nyata

Ibas menekankan bahwa ekonomi biru tidak boleh berhenti sebagai konsep. Ia mendorong lahirnya blue innovation yang menghasilkan masalah nyata yang terpecahkan, prototipe nyata, serta manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satu yang disorot adalah pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung sektor kelautan.

“AI jangan dianggap sebagai musuh atau pesaing. Gunakan AI untuk membackup dan mengakselerasi kita,” ujar Ibas. Ia menyebut berbagai peluang pemanfaatan teknologi, mulai dari Internet of Things (IoT), sensor bawah air, pemantauan kualitas air, pengembangan akuakultur, efisiensi pola pemberian pakan, hingga pemanfaatan data untuk membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan secara lebih efektif.

Menurut Ibas, teknologi harus diarahkan untuk mengurangi biaya, meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Hilirisasi Hasil Laut Harus Diperkuat

Ibas juga menyoroti pentingnya hilirisasi hasil laut agar Indonesia tidak terus menjual komoditas dalam bentuk mentah. Menurutnya, pengolahan hasil perikanan dan kelautan dapat memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di daerah pesisir. “Kita harus berpikir bagaimana hasil laut kita tidak hanya dijual mentah. Kalau kita menjual hasil olahan laut, nilai tambahnya bisa jauh lebih tinggi,” katanya.

Penguatan rantai dingin atau cold storage juga dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil perikanan, memperluas akses pasar, dan mengurangi potensi kehilangan hasil.

Pulau-Pulau Kecil sebagai Pusat Pertumbuhan Baru

Ibas mengusulkan agar pulau-pulau kecil tidak selalu dipandang sebagai wilayah terluar atau kawasan yang jauh dari pusat pembangunan. Sebaliknya, pulau-pulau kecil dapat dikembangkan menjadi pusat ekonomi baru, kawasan percontohan energi bersih, laboratorium teknologi kelautan, pusat wisata berkelanjutan, maupun sentra UMKM.

“Pulau kecil jangan kita lihat sebagai ujung Indonesia. Justru pulau kecil bisa dijadikan pusat ekonomi baru yang terbarukan,” tegasnya. Ia menilai pemanfaatan pulau-pulau kecil harus dilakukan dengan pemetaan yang baik, memperhatikan kepentingan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta kepentingan nasional.

Gagasan tersebut mendapat respons dari Ghina Raihanah dari Indonesia Ocean Justice Initiative. Ia menilai potensi pulau-pulau kecil perlu dikembangkan dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan lingkungan. Menurutnya, mangrove dan blue carbon memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan secara bersamaan dengan upaya menjaga integritas ekosistem dan masyarakat pesisir.

Jaga Laut dari Illegal Fishing dan Sampah

Di sisi lain, Ibas menegaskan bahwa pengembangan ekonomi biru harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem laut. Ia menyoroti ancaman illegal fishing, penggunaan metode penangkapan yang merusak, serta pencemaran dan sampah laut. “Jangan sampai kita menghalalkan segala cara dengan melakukan pemboman yang akhirnya merusak koral dan ikan yang tidak sepatutnya disakiti,” ujarnya.

Karena itu, Anggota Dapil Jawa Timur VII tersebut mendorong penguatan penegakan hukum dan koordinasi antarlembaga agar sumber daya laut Indonesia dapat dimanfaatkan secara produktif sekaligus dijaga keberlanjutannya.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Ibas menegaskan bahwa pembangunan sektor kemaritiman tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah maupun parlemen. Kolaborasi harus melibatkan pelaku usaha, akademisi, komunitas, organisasi kepemudaan, peneliti, pemerintah daerah, serta masyarakat pesisir. “Kita butuh kolaborasi. Tidak bisa hanya parlemen, hanya pemerintah, atau hanya swasta. Kita juga membutuhkan komunitas, lembaga terkait, dan pakar kampus agar kita tidak hanya bertemu di kebijakan, tetapi juga bertemu di lapangan,” katanya.

Ia membuka ruang kolaborasi antara Maritim Muda Nusantara dengan anggota Fraksi Partai Demokrat di berbagai daerah untuk mengembangkan kegiatan, pendampingan, riset, maupun program pemberdayaan masyarakat pesisir. Menurut Ibas Yudhoyono, sinergi tersebut perlu diarahkan pada target yang terukur sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. “Yang kita butuhkan sekarang adalah hasilnya. Agar pendapatan masyarakat terus naik, UMKM terus naik kelas, dan pemuda-pemuda kita mendapatkan pekerjaan,” tegasnya.

Laut sebagai Jalan Menuju Indonesia Maju

Dalam sesi tanggapan, Ibas kembali menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program dan konsistensi kebijakan. Ia menyampaikan bahwa tantangan kemaritiman tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu atau dua kebijakan. Diperlukan kesinambungan dari tingkat pusat hingga daerah serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.

“Indonesia yang besar ini tidak bisa ditutup pikirannya hanya kepada mereka yang diwakilkan. Suara dari kalian juga mewadahi pikiran-pikiran rakyat dan komunitas lainnya,” kata Ibas. Ia menilai forum dialog seperti yang digelar bersama Maritim Muda Nusantara merupakan ruang penting untuk mendengar aspirasi masyarakat sekaligus merumuskan langkah konkret. Ibas menegaskan masa depan maritim Indonesia membutuhkan keberlanjutan, konsistensi, dan kolaborasi dari tingkat pusat hingga daerah. “Laut ini bukan hanya batas Indonesia. Laut ini juga menjadi jalan untuk menuju Indonesia yang lebih maju dan lebih berdaulat, adil dan makmur,” pungkas Ibas.

Tinggalkan komentar