JAKARTA – Memperingati Hari Perhubungan Nasional yang mengusung tema ‘Indonesia Terkoneksi, Indonesia Maju’, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas menyoroti urgensi pembangunan sistem perhubungan nasional yang terintegrasi, aman, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan. Menurutnya, hal ini menjadi salah satu fondasi krusial untuk mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045.
Penekanan ini disampaikan Ibas dalam sebuah Diskusi Kebangsaan yang bertajuk ‘Konektivitas, Teknologi, dan Mobilitas Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045’. Acara yang digelar di Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta, pada Rabu (16/9) ini, menghadirkan berbagai pemangku kepentingan di sektor transportasi, mulai dari perwakilan pemerintah, operator transportasi publik, pelaku usaha, akademisi, praktisi, hingga kalangan muda.
Ibas menekankan bahwa Hari Perhubungan Nasional seharusnya tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Ia melihat sektor perhubungan sebagai komponen strategis dalam pembangunan nasional, yang esensinya mencakup pergerakan manusia, barang, informasi, dan kesempatan secara efisien di seluruh penjuru Indonesia.
“Ketika kita berbicara tentang perhubungan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan Indonesia,” ujar Ibas dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (17/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas dengan populasi besar dan pusat pertumbuhan yang tersebar membutuhkan sistem konektivitas yang mumpuni untuk menjembatani berbagai wilayah secara efektif. Di sisi lain, pembangunan konektivitas harus mempertimbangkan keterbatasan fiskal negara serta prioritas pembiayaan sektor vital lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Oleh karena itu, Ibas menggarisbawahi bahwa tantangan pembangunan transportasi nasional bukan hanya soal membangun infrastruktur baru, melainkan juga menciptakan arsitektur pembiayaan jangka panjang yang konsisten. “Kalau kita serius membangun konektivitas menuju 2045, kita tidak bisa berpikir hanya dalam siklus satu tahun anggaran. Kita membutuhkan pembiayaan multiyears,” tegasnya.
Menurutnya, APBN dan APBD dapat berperan sebagai pemicu, sementara BUMN, skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), investasi swasta, serta pembiayaan pembangunan dapat membentuk ekosistem pembiayaan konektivitas nasional. Fokusnya bukan hanya pada besaran anggaran, tetapi bagaimana setiap investasi memberikan nilai ekonomi dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dari Project Menjadi Sistem
Dalam diskusinya, Ibas juga mendorong pergeseran paradigma pembangunan infrastruktur transportasi dari pendekatan berbasis proyek menjadi pendekatan berbasis sistem. Ia menyatakan, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya ‘berapa kilometer jalan yang kita bangun?’, melainkan ‘berapa waktu yang kita hemat untuk rakyat?’.
Konsep serupa berlaku untuk pembangunan pelabuhan, di mana ukuran keberhasilan diukur dari kecepatan dan efisiensi pergerakan barang antarwilayah, bukan sekadar jumlah pelabuhan yang dimiliki. Pendekatan ini perlu diterapkan pada seluruh moda transportasi, termasuk jalan raya, kereta api, pelabuhan, dan bandara.
“Jalan tidak boleh berdiri sendiri. Pelabuhan tidak boleh berdiri sendiri. Bandara tidak boleh berdiri sendiri. Kereta api tidak boleh berdiri sendiri. Semuanya harus menjadi satu sistem perhubungan nasional,” tegas Ibas.
Ia menilai integrasi antarmoda menjadi semakin krusial untuk meningkatkan daya saing ekonomi, menekan biaya logistik, mengurangi waktu tempuh, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Teknologi Harus Membangun Ekosistem
Transformasi teknologi juga menjadi elemen penting dalam pembangunan transportasi masa depan. Di era kecerdasan artifisial (AI), kendaraan listrik, smart port, smart airport, digital logistics, dan intelligent transportation system, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan efisiensi mobilitas.
Namun, Ibas mengingatkan bahwa transformasi teknologi tidak boleh hanya berhenti pada pembelian teknologi. “Kita jangan hanya membeli teknologinya. Kita harus membangun ekosistemnya,” ujarnya.
Menurutnya, integrasi data, layanan, serta sinkronisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah adalah prasyarat agar pemanfaatan teknologi benar-benar menghasilkan layanan transportasi yang lebih mudah, cepat, dan efisien. Transformasi digital juga perlu diiringi dengan penguatan sumber daya manusia serta kesiapan institusi dan regulator.
Mobilitas yang Aman, Terjangkau, Inklusif, dan Berkelanjutan
Pada kesempatan itu, Ibas menyampaikan duka cita mendalam atas berbagai musibah transportasi yang terjadi, termasuk kecelakaan di darat, laut, dan kereta api, serta peristiwa terkait erupsi Gunung Krakatau. Ia berharap seluruh kejadian tersebut menjadi pelajaran untuk terus memperkuat sistem keselamatan, mitigasi bencana, serta perlindungan bagi masyarakat dan insan media.
Ia menegaskan bahwa kemajuan transportasi tidak hanya diukur dari kecepatan mobilitas. Indonesia membutuhkan sistem transportasi yang aman, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan. “Pembangunan berkelanjutan bukan berarti pembangunan yang lebih lambat. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak memindahkan biayanya kepada generasi berikutnya,” katanya.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Diskusi Kebangsaan tersebut menghadirkan beragam perspektif dari akademisi, operator transportasi, praktisi, sektor swasta, pemerintah, hingga generasi muda. Ibas menilai keragaman perspektif ini penting karena persoalan konektivitas nasional tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi saja.
“Indonesia terlalu besar untuk dibangun oleh satu institusi,” ujar Ibas.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, BUMN, sektor swasta, perguruan tinggi, sektor keuangan, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun ekosistem transportasi nasional. Beberapa anggota Fraksi Partai Demokrat turut memberikan pandangan, seperti Anton Sukartono Suratto yang menekankan pentingnya perawatan infrastruktur, Faujia Helga Tampubolon tentang pemerataan konektivitas, dan Wastam mengenai peran konektivitas dalam logistik.
Perspektif generasi muda juga hadir melalui Puteri Indonesia Maharani Divaningtyas, yang mengapresiasi forum tersebut dan berharap diskusi semacam ini dapat berkelanjutan untuk menghasilkan kebijakan yang segera dieksekusi.
Pada akhirnya, Ibas menegaskan bahwa ‘Indonesia terkoneksi’ bukan sekadar memiliki lebih banyak infrastruktur fisik. “Indonesia terkoneksi adalah ketika orang bisa bergerak, barang bisa bergerak, informasi bisa bergerak, dan kesempatan bisa bergerak,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan momentum Hari Perhubungan Nasional sebagai penguatan komitmen bersama dalam membangun konektivitas nasional. “Mari kita hubungkan Indonesia. Mari kita gerakkan Indonesia. Mari kita majukan Indonesia. Indonesia terkoneksi, Indonesia maju,” pungkasnya.