PT KSI Solok Selatan Pertahankan 1.760 Hektare Hutan Konservasi, Rumah Bagi 651 Spesies

Solok Selatan – Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit, kawasan hutan seluas 1.760,25 hektare di PT Kencana Sawit Indonesia (KSI), Solok Selatan, Sumatera Barat, menjadi paru-paru kehidupan. Area yang dijaga sebagai hutan konservasi ini bukan sekadar pembatas aktivitas bisnis, melainkan rumah bagi 651 jenis flora dan fauna.

Area bernama High Conservation Value (HCV) ini mencakup empat sungai, termasuk Sungai Jujuhan dan Sungai Ganeh, serta empat bukit seperti Bukit Tengah Pulau dan Bukit Saloh. Keberadaan kawasan konservasi ini menjadi bukti komitmen PT KSI dalam menjaga keseimbangan antara produksi kelapa sawit dan kelestarian lingkungan.

General Estate Manager PT KSI, Hari Purnama, menyatakan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada aspek bisnis. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa perusahaan tidak hanya mementingkan aspek bisnis semata, tetapi juga sangat peduli terhadap lingkungan. Kami merawat dan menjaga kawasan konservasi HCV ini hingga seluas hampir 1.700 hektar,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan.

Untuk memantau keanekaragaman hayati di area tersebut, survei tahunan dan rapid survey dilakukan secara berkala. Hingga 2025, tercatat 651 jenis flora dan fauna mendiami kawasan konservasi ini, terdiri dari 291 jenis fauna dan 360 jenis flora.

Keanekaragaman hayati ini mencakup flora bernilai ekologis seperti bunga bangkai (Amorphophallus), Rafflesia, dan Agathis alba. Sementara itu, kawasan hutan ini menjadi habitat bagi berbagai satwa liar, termasuk Harimau Sumatera, macan dahan, tapir, ajag, siamang, dan berbagai jenis monyet.

Salah satu kelompok satwa yang cukup menonjol adalah rangkong, dengan delapan spesies tercatat di kawasan ini. Keberadaan siamang dan rangkong, yang merupakan satwa endemik Sumatera, menjadi indikator penting bahwa kawasan konservasi masih menyediakan ruang hidup yang memadai.

Upaya perlindungan habitat ini juga melibatkan kerja sama dengan pihak lain, seperti Yayasan Kalaweit. “Siamang dan rangkong merupakan satwa endemik di Sumatera. Karena mereka hidup di hutan konservasi seluas 1.700 hektar ini, kami merawat dan menjadikan kawasan ini sebagai tempat berkembang biak mereka,” jelas Hari.

Ia menambahkan, keberhasilan konservasi ini terbukti dari lingkungan yang terjaga, di mana masyarakat masih dapat melihat satwa-satwa tersebut, jumlah ikan di sungai tetap terjaga, dan area ini kini menjadi tujuan wisata yang kondusif bagi warga.

Untuk memperkuat pengawasan kawasan konservasi seluas itu, PTKSI merangkul masyarakat sekitar. Warga setempat direkrut sebagai anggota pengawas. “Kami merekrut masing-masing lima orang dari daerah Sumedhuni dan daerah Talau sebagai karyawan. Karena ada bantuan dan keterlibatan langsung dari masyarakat sekitar, kendala di lapangan menjadi sangat minim,” ungkap Hari.

PT KSI memiliki harapan jangka panjang agar kawasan konservasi ini dapat terus dijaga bersama masyarakat. “Harapan kami untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, perusahaan dan masyarakat bisa sama-sama konsisten menjaga areal konservasi yang ada di PTKSI ini. Semoga kawasan ini tetap berjalan dan bisa terus dirawat sampai kapan pun perusahaan ini berada,” tuturnya.

HCV Officer Sumatera Barat, Ityasman, menambahkan rincian temuan satwa melalui kamera trap dan survei langsung. Mamalia yang terekam antara lain tapir, pelanduk, kijang, rusa, kambing hutan, anjing hutan, dan beruang madu. Primata yang teridentifikasi meliputi lutung silver, ungko, monyet ekor panjang, kukang, dan simpai. Beberapa jenis burung dilindungi seperti elang, ular bido, dan brontok juga ditemukan.

Program pelepasliaran siamang juga dilakukan di kawasan Bukit Tengah Pulau dan Bukit Salo, dengan total 25 ekor siamang telah dilepasliarkan. Sementara itu, delapan spesies rangkong, termasuk tengkek atau rangkong perut putih, rangkong julang emas, dan rangkong badak, dipantau melalui survei dan dapat dijumpai mulai dari sempadan sungai hingga area perbukitan.

Dalam kunjungan susur Sungai Jujuhan, Panji Petualang turut mendokumentasikan kehidupan satwa liar, salah satunya menemukan ular cincin emas. “Ini ular Cincin Emas, berbisa menengah, beda sama Weling. Mungkin predator bagi hewan kecil, seperti tupai dan lain-lain,” ujar Panji, menggarisbawahi pentingnya sungai sebagai bagian dari ekosistem.

Keberadaan hutan yang dipertahankan, sungai yang mengalir, serta satwa yang masih memiliki tempat hidup menjadikan kawasan konservasi ini lebih dari sekadar area lindung. Bagi 651 jenis flora dan fauna yang tercatat, kawasan tersebut adalah rumah mereka.

Tinggalkan komentar