Mataram – Sebuah rekaman suara yang diduga milik pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wannafahat di Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah, beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Abah terdengar memohon agar dugaan kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang menyeret namanya tidak dibawa ke ranah publik atau media.
Rekaman ini muncul setelah laporan investigasi mendalam dari BBC News Indonesia yang mengungkap dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati di ponpes yang berlokasi di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Dalam percakapannya, Abah terlihat berupaya membujuk seorang santri yang sedang mengumpulkan bukti untuk menarik kesaksian dan merahasiakan kasus tersebut demi menjaga nama baiknya serta lembaga pendidikan.
“Kalau sudah nyampe media. Hancur sudah Abah nak, hancur lebur Abah nak, hancur pondok nanda. NWDI nanda. Bukan begitu caranya sayang ke Abah nak, ya Allah, tutup aib gurumu nanda, tutup aib gurunya nanda,” demikian kutipan suara Abah dalam rekaman yang beredar.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan keaslian rekaman suara tersebut. Menurutnya, rekaman itu merupakan bagian dari investigasi yang dilakukan oleh mantan santri bernama Yusron, yang sedang mengumpulkan barang bukti terkait perbuatan Abah. Rekaman ini telah diserahkan kepada penyidik Satreskrim Polresta Lombok Tengah untuk proses pendalaman lebih lanjut.
Joko menambahkan bahwa Abah tidak hanya memohon, tetapi juga diduga menawarkan kepada Yusron kesempatan untuk kuliah di Mesir asalkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan tidak disebarluaskan ke media. “Supaya Yusron tidak menyebarluaskan maka dia ditelepon dan ditawarkan untuk kuliah di Mesir,” jelas Joko.
Selain Yusron, Abah juga dilaporkan menghubungi salah satu korban yang berinisial Z, yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Mesir. Dalam percakapan tersebut, Abah mengaku khilaf dan meminta maaf atas perbuatannya, seraya berharap agar Z tidak melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib. “Yusron dan Z sama-sama ditelepon Abah,” ungkap Joko.
Putuskan Mundur dari Jabatan Pengasuh
Menyikapi situasi yang berkembang dan menjadi perhatian publik, Abah memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat. Keputusan ini diambil dengan harapan agar kegiatan belajar mengajar di ponpes dapat berjalan normal tanpa gangguan di tengah polemik yang ada. Ahmad Imanuddin Sumar juga telah dilaporkan ke polisi terkait kasus ini.
“Guna merespons situasi yang saat ini berkembang dan telah menjadi perhatian publik, serta demi menjamin seluruh aktivitas belajar-mengajar di pondok pesantren tetap berjalan normal tanpa gangguan, saya mengambil sikap dengan hati yang ikhlas untuk mundur dan melepaskan seluruh jabatan yang saya emban di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, maupun di ponpes-ponpes yang lain,” ujar Abah saat konferensi pers di Mataram, Rabu (23/9/2026) malam.
Abah menegaskan bahwa permasalahan yang dihadapinya adalah masalah pribadi dan tidak terkait dengan operasional ponpes. Ia menyatakan tidak rela jika kegiatan pendidikan di Abul Barokat Wanafahat terganggu akibat tuduhan yang dianggapnya tidak berdasar.
Lebih lanjut, Abah membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menyatakan pihaknya tengah mempersiapkan langkah hukum dengan mengajukan pengaduan kepada pihak berwajib untuk melaporkan mantan santrinya, Yusron, atas dugaan pencemaran nama baik. “Atas tuduhan tidak benar yang merugikan nama baik saya, saya menyatakan akan mengambil langkah hukum dan melaporkan saudara Yusron kepada pihak berwajib,” imbuhnya.