Perempuan Solok Selatan: Pilar Keluarga dari Perkebunan Sawit

Solok Selatan – Di tengah hamparan kebun sawit Solok Selatan, para perempuan menunjukkan peran vital mereka, tak hanya sebagai pekerja lapangan, tetapi juga sebagai tulang punggung keluarga. Mereka menjalankan berbagai tugas, mulai dari penyemprotan, mengoperasikan alat berat, hingga merapikan hasil panen, sembari mengemban tanggung jawab di rumah.

Yusmi, 50 tahun, adalah salah satu contoh perempuan tangguh yang telah 14 tahun mengabdi sebagai aplikator semprot di PT Kencana Sawit Indonesia (PTKSI) Wilmar Group. Setiap hari, ia bertugas mengendalikan gulma dan hama menggunakan bahan kimia, dibantu oleh operator mini traktor. Keselamatan menjadi prioritas utama, di mana Yusmi wajib mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, termasuk respirator, kacamata pengaman, apron, sarung tangan karet, dan sepatu boot untuk meminimalkan risiko paparan bahan kimia.

Dalam sehari, Yusmi dan timnya bisa menyelesaikan penyemprotan di lahan seluas 13 hingga 14 hektare. Ia mengaku tidak mengalami kendala berarti meski usianya sudah memasuki kepala lima. “Alhamdulillah, di usia kepala lima ini saya merasa masih sangat kuat dan tidak menghadapi kendala apa pun saat bekerja di lapangan,” ujar Yusmi.

Lebih dari sekadar rutinitas, pekerjaan ini menjadi pondasi bagi pertumbuhan keluarganya. Suami Yusmi juga bekerja sebagai pemanen di PTKSI, sementara anak dan menantunya juga berkarier di perusahaan yang sama. Penghasilan dari perkebunan membiayai penuh pendidikan anak-anak mereka hingga sukses. Anak bungsunya kini berprofesi sebagai bidan di Kalimantan. Dari hasil kerja keras, Yusmi dan suaminya mampu membangun rumah pribadi dan memiliki kebun sawit mandiri dalam skala kecil.

“Seluruh biaya sekolah anak-anak saya sejak dulu murni bersumber dan dibiayai dari hasil keringat kami bekerja di perusahaan perkebunan ini,” tuturnya. Ia menambahkan, perusahaan memberikan kepastian kesejahteraan yang memungkinkan mereka mempersiapkan masa depan dan hari tua dengan baik.

Kisah lain datang dari Aisyah, yang selama 14 tahun membantu merapikan tandan buah sawit hasil panen agar siap diangkut. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga dan teknik yang tepat, di mana ia mengajarkan pentingnya kekuatan pada kaki dan tangan. Tandan buah yang ditangani bervariasi antara 5-10 kilogram, bahkan bisa mencapai 40 kilogram untuk tandan berukuran besar. Pengalamannya membuat Aisyah terbiasa mengatur ritme kerja dan energinya.

Sementara itu, Yudiana Fera, 2 tahun terakhir menjadi operator mini traktor. Ia bertugas membawa cairan semprot, dan seperti pekerja penyemprotan, ia juga wajib menggunakan APD lengkap. Kesempatan ini ia ambil setelah supervisornya menginformasikan adanya kebutuhan operator perempuan. Yudiana mengikuti pelatihan selama seminggu dan kini terampil mengoperasikan traktor di medan perkebunan yang menantang, termasuk jalan menanjak, turunan, dan area terasan sempit yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

“Di area terasan yang kecil itu, mengendalikan tuas atau kendali Ginganya memang terasa lebih payah dan membutuhkan konsentrasi tinggi,” kata Yudiana. Ia selalu berhati-hati dan melaporkan kondisi jalur yang terlalu ekstrem kepada atasan demi keselamatan kerja. Setelah pekerjaan selesai sekitar pukul 15.00 WIB, ia kembali ke rumah untuk menjalankan perannya sebagai istri dan ibu bagi anaknya yang masih duduk di bangku SMA.

Wahidah Nurhayati, 25 tahun, merasakan pengalaman baru sebagai operator ekskavator di PTKSI selama dua tahun terakhir. Sebelumnya ia bekerja di bagian maintenance mower. Kini, pekerjaannya meliputi pembuatan parit, mengangkut buah sawit, membersihkan dahan, hingga stacking. Hobinya yang menyukai aktivitas luar ruangan dan offroad membuatnya antusias mengambil kesempatan belajar mengoperasikan alat berat ini. Ia bercita-cita terus berkembang dan suatu saat dapat menjadi manajer.

Keempat perempuan ini, dengan pengalaman kerja yang berbeda, menunjukkan bahwa pekerjaan di perkebunan sawit memiliki arti mendalam. Di balik aktivitas sehari-hari, tersimpan harapan untuk pendidikan anak, pemenuhan kebutuhan keluarga, persiapan masa depan, dan perwujudan cita-cita pribadi. Dari kebun Solok Selatan, mereka membangun kehidupan yang lebih baik untuk keluarga tercinta, menjadikan setiap hari kerja sebagai langkah menuju masa depan yang lebih cerah.

Tinggalkan komentar