Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, memberikan pesan tegas kepada seluruh Kepala Sekolah Rakyat (SR) untuk senantiasa menjaga integritas dan menghindari segala bentuk penyimpangan. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Dinas di Kantor Kementerian Sosial (Kemensos) Jakarta pada Kamis (17/9).
Gus Ipul menekankan pentingnya pemahaman yang sama mengenai siapa sesungguhnya siswa yang dilayani dan bagaimana perlakuan yang tepat bagi mereka. “Kompas moral kepala sekolah itu jangan ada yang melakukan penyimpangan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima pada hari yang sama.
Ia mengingatkan bahwa setiap bentuk perilaku menyimpang pada akhirnya akan terungkap. Oleh karena itu, Gus Ipul mengimbau para kepala sekolah untuk tidak ragu berkonsultasi jika menghadapi permasalahan. “Lebih baik segera menyampaikan secara langsung kepada kita, kepada kami, supaya kita bisa carikan solusi secara bersama-sama,” ungkapnya.
Gus Ipul mengakui bahwa dalam satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat, dinamika dan tantangan yang dihadapi semakin besar. Perbaikan dan penguatan di berbagai sisi menjadi krusial, terutama dalam penguatan moral sumber daya manusia yang mengelola operasional sekolah rakyat.
Beliau mengutip pandangan dari Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Prof. Muhammad Nuh, yang mengidentifikasi tiga hal terpenting. Pertama, dukungan sarana-prasarana. Kedua, penguatan tata kelola. Dan ketiga, penguatan moral yang menjadi titik krusial dalam operasional sekolah.
Prof. Muhammad Nuh menambahkan bahwa pemahaman mendalam mengenai penerima layanan Sekolah Rakyat adalah fondasi utama bagi seluruh sumber daya manusia di lingkungan SR. “Karena kalau kita belum memahami sejati-jatinya sekolah rakyat, treatment yang kita lakukan tentu tidak akan bisa maksimal,” jelasnya.
Menurut Prof. Nuh, permasalahan yang dihadapi siswa di Sekolah Rakyat tidak cukup hanya ditangani dengan pemenuhan akses pendidikan. Ada persoalan psikososial yang juga perlu mendapatkan perhatian khusus. “Inilah yang menjadi keunikan dari SR itu,” imbuhnya.
Prof. Nuh berharap program sekolah rakyat di tahun kedua dapat diukur keberhasilannya tidak hanya secara umum, tetapi juga melalui Social Return on Investment (SROI). Hal ini penting untuk meyakinkan publik dan pemerintah bahwa kebijakan tersebut memberikan dampak positif tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara sosial.
Rapat tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, jajaran pejabat tinggi Madya dan Pratama Kemensos, Staf Khusus dan Staf Ahli Menteri Sosial, serta Kepala Sentra, Kepala Balai, dan Kepala Sekolah Rakyat yang turut serta secara daring.