Ledakan Maut Tambang Benxihu China Tewaskan 1.500 Jiwa, Fakta Terungkap Setelah Bertahun-tahun

JAKARTA – Salah satu kecelakaan tambang paling mematikan dalam sejarah terjadi di Benxihu, China, pada 26 April 1942. Peristiwa yang dikenal sebagai tragedi Tambang Batubara Benxihu ini menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar, bahkan sempat diupayakan untuk ditutupi oleh pihak pengelola.

Tambang Benxihu, yang saat itu dikelola oleh Jepang, merupakan kompleks penambangan dengan lorong-lorong bawah tanah. Pada hari nahas tersebut, lebih dari 2.000 buruh tambang memulai shift kerja 12 jam mereka sebelum fajar menyingsing.

Sekitar pukul 11.30 waktu setempat, gardu listrik di permukaan mengalami gangguan, menyebabkan seluruh aliran listrik di dalam tambang terputus. Listrik baru pulih pada pukul 14.00. Pengelola sempat memprioritaskan penyaluran listrik ke kipas angin ventilasi di mulut sumur, sebelum akhirnya mengalirkannya ke area penambangan bawah tanah sepuluh menit kemudian.

Seketika itu, ledakan dahsyat mengguncang tambang, melontarkan para pekerja dan mengeluarkan asap pekat dari lima sumur miring. Menanggapi insiden tersebut, pihak pengelola Jepang segera menutup ventilasi ke bawah tanah. Tindakan ini diambil untuk mencegah kebakaran serta melindungi peralatan dan cadangan batu bara di dalam tambang.

Tim penyelamat Jepang yang tiba di lokasi diduga memprioritaskan evakuasi pejabat atau petugas Jepang, sementara para buruh Tiongkok yang terluka parah dan mengerang kesakitan di sepanjang lorong diabaikan. Akibat penutupan ventilasi, lorong tambang dipenuhi gas beracun karbon monoksida (CO). Mayoritas pekerja tewas bukan karena dampak langsung ledakan, melainkan akibat keracunan CO saat berusaha mencari jalan keluar.

Jumlah Korban Capai 1.500 Lebih

Jumlah korban jiwa akibat kecelakaan maut ini diperkirakan mencapai 1.549 orang, di mana 1.518 di antaranya adalah warga negara Tiongkok. Para korban terdiri dari warga sipil dan tawanan perang yang dipaksa bekerja sebagai ‘pekerja khusus’ oleh Jepang.

Pihak pengelola Jepang sempat mencoba menyembunyikan angka sebenarnya, hanya mencantumkan 1.327 korban tewas pada monumen kuburan massal yang dikenal sebagai Rouqiufen atau Wanrenfen. Kebenaran mengenai jumlah korban dan penyebab pasti kecelakaan baru terungkap bertahun-tahun kemudian oleh saksi sejarah, seorang teknisi Tiongkok yang terlibat dalam investigasi.

Dalam hasil investigasi resmi yang dilakukan sebulan setelah kejadian, pihak Jepang terbukti melakukan kesalahan dan kebohongan terkait ledakan tersebut. Sanksi yang dijatuhkan sangat ringan, hanya berupa pemotongan gaji tahunan sebesar 1/10 bagi pejabat departemen batubara perusahaan. Kebenaran ini baru dibuka secara luas oleh saksi sejarah bertahun-tahun kemudian.

Saat ini, area bekas bencana tersebut mencakup dua peninggalan utama: Central Inclined Shaft (本溪煤矿中央大斜井) dan Kuburan Massal Rouqiufen (肉丘坟). Seluruh kompleks ini telah ditetapkan oleh Pemerintah China sebagai Unit Perlindungan Benda Cagar Budaya Penting Nasional dan dikembangkan menjadi taman peringatan serta museum sejarah industri.

Tinggalkan komentar