Lampung Bidik Pusat Bioetanol Nasional, Manfaatkan Potensi Pertanian Lokal

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyatakan optimisme tinggi bahwa Provinsi Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ekosistem bioetanol nasional. Langkah ini diharapkan menjadi jembatan antara kekayaan sektor pertanian Lampung dengan pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa.

Optimisme ini disampaikan saat Gubernur menghadiri acara peluncuran Bioethanol Development Center Lampung yang berlokasi di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, pada Senin (14/9). Pengembangan ini merupakan hasil kolaborasi strategis yang melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, pemerintah daerah, serta berbagai mitra dan pemangku kepentingan lainnya.

Lampung Sebagai Lumbung Pangan dan Energi

Gubernur Mirza menekankan bahwa Lampung, yang dikenal sebagai provinsi agraris dan salah satu lumbung pangan nasional, perlu terus mengembangkan potensinya. Transformasi ini tidak hanya berfokus pada produksi bahan pangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui industri dan energi.

“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi. Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga menciptakan industri. Dan bukan hanya menggerakkan ekonomi Lampung, tetapi ikut memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Mirza dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/9/2026).

Peluncuran Bioethanol Development Center Lampung dipandang bukan sekadar peresmian fasilitas, melainkan sebagai langkah awal pembangunan ekosistem baru yang mengintegrasikan sektor pertanian, riset, teknologi, industri, dan energi. Gubernur mengapresiasi sinergi dan kepercayaan yang terjalin antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan mitra strategis dalam mewujudkan inisiatif ini.

Inisiatif ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong peningkatan campuran bioetanol dalam bahan bakar, dari E5 menuju E10 hingga E20 di masa mendatang. “Apa yang kita mulai di Lampung hari ini adalah bagian dari langkah besar Indonesia menuju kemandirian energi,” tambahnya.

Potensi Pertanian Lampung untuk Bioetanol

Lampung memiliki keunggulan signifikan untuk pengembangan industri bioetanol. Selain ketersediaan lahan dan ekosistem pertanian yang mendukung, provinsi ini juga memiliki sektor agroindustri serta sumber daya yang dapat diintegrasikan dengan pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa.

Sektor pertanian menopang sekitar 27% struktur ekonomi Lampung, menjadikannya salah satu lumbung pangan nasional dengan komoditas unggulan. Produksi ubi kayu mencapai sekitar 7,5 juta ton, menempatkan Lampung sebagai peringkat pertama nasional. Produksi padi sekitar 3,5 juta ton gabah kering giling (GKG) menempatkannya di peringkat keenam nasional, posisi yang sama juga diraih untuk produksi jagung sekitar 1,7 juta ton. Sementara itu, produksi tebu mencapai sekitar 724 ribu ton gula kristal putih, menempatkan Lampung di peringkat kedua nasional.

Surplus produksi pertanian Lampung tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga menjadi modal kuat untuk mengembangkan teknologi bioetanol yang mampu memanfaatkan beragam bahan baku atau multi-feedstock, serta menghasilkan berbagai produk turunan melalui konsep multi-generation bioethanol.

“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia harus menjadi sumber nilai tambah. Ia harus menjadi sumber investasi. Ia harus menjadi sumber lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Pengembangan Sorgum dan Ekosistem Bioetanol

Pengembangan industri bioetanol tidak hanya sebatas pembangunan pabrik, melainkan membutuhkan ekosistem pendukung yang komprehensif. Ekosistem ini meliputi pengembangan benih, budidaya tanaman, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi bioetanol, hingga pemanfaatan produk turunannya.

Oleh karena itu, pengembangan sorgum sebagai bahan baku utama harus berjalan seiring dengan pembangunan Bioethanol Development Center Lampung. Pusat pengembangan ini diharapkan menjadi inkubator inovasi dan riset, tempat pengujian teknologi, pengumpulan data, serta penyusunan model bisnis yang siap diterapkan dalam skala industri.

Manfaat dari keberhasilan ini tidak hanya akan dirasakan oleh Lampung, tetapi juga oleh Indonesia secara keseluruhan.

Membuka Peluang Ekonomi Baru dan Kedaulatan Energi

Pengembangan sorgum dan bioetanol diproyeksikan akan membuka peluang ekonomi baru yang signifikan bagi petani, tenaga kerja, UMKM, dunia usaha, peneliti, dan masyarakat di sekitar kawasan pengembangan. Terbentuknya rantai nilai yang terintegrasi, mulai dari penyediaan benih, budidaya, mekanisasi, pengolahan biomassa, produksi bioetanol, hingga pemanfaatan produk samping, akan menjadikan pengembangan energi terbarukan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

“Inilah makna sebenarnya dari hilirisasi. Bukan sekadar mengolah bahan baku. Tetapi menciptakan nilai tambah yang kembali kepada masyarakat,” ujar Gubernur Mirza.

Gubernur berharap seluruh proses pembangunan fasilitas ini berjalan profesional, transparan, terukur, serta memperhatikan keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan, sehingga menghasilkan model pengembangan yang dapat direplikasi di daerah lain.

Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

Gubernur Mirza mengapresiasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, serta seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam pengembangan pusat bioetanol ini. Ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan peluncuran ini sebagai awal kolaborasi yang lebih kuat demi memperkuat sektor pertanian, mengembangkan energi terbarukan, dan membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Dari tanah Lampung, kita siap memimpin Indonesia menuju kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan kemakmuran rakyat berkelanjutan,” pungkasnya.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menjelaskan bahwa pengembangan bioetanol di Lampung berpijak pada empat pilar fundamental: ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan ekonomi nasional. Ia membandingkan keberhasilan program B50 berbasis minyak kelapa sawit dengan potensi bioetanol sebagai solusi substitusi bensin nasional yang mencapai 36 juta kiloliter per tahun.

Hal ini krusial untuk menekan beban subsidi energi APBN yang terus membengkak akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia. Pemilihan Lampung sebagai lokasi pengembangan berawal dari riset teknologi biomassa di Jepang, di mana bibit sorgum unggul dan riset enzim yang digunakan industri otomotif Jepang ternyata berasal dari Lampung.

“Di Jepang bisa buat begini, masa negara saya nggak bisa buat?,” ungkap Todotua, terinspirasi oleh potensi lokal yang diakui internasional.

Merujuk pada keberhasilan Brasil dalam memproduksi bioetanol dari singkong, jagung, dan sorgum, yang terintegrasi dengan peternakan sapi melalui pemanfaatan ampas distilasi sebagai pakan ternak dan limbah menjadi energi terbarukan (konsep zero waste circular economy), model serupa diharapkan dapat direalisasikan di Lampung.

Fasilitas Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026 dengan skala pilot project 60 kiloliter dan lahan demplot seluas 10 hektare. Fasilitas ini akan menguji keekonomian produksi bioetanol generasi pertama (singkong dan sorgum) maupun generasi kedua (limbah biomassa dan ampas tebu).

“Target tahun depan kita dorong masuk skala komersial 60.000 kiloliter,” tegas Todotua, seraya mengapresiasi responsif Gubernur Mirza dalam penyiapan lahan yang diperluas dari 2 menjadi 10 hektare. Skema ini akan melibatkan kelompok tani lokal dan koperasi sebagai penyedia bahan mentah (feedstock hub).

“Harapannya, kita juga bisa menyerap singkong dari masyarakat. Ada nilai tambah, tidak hanya untuk keripik atau tepung. Konsep koperasi pun bisa kita jalankan menjadi hub untuk mengumpulkan material feedstock-nya, pabrik ini offtaker-nya. Jadi ekosistemnya sangat luar biasa dan sangat nyambung,” pungkasnya.

Acara tersebut juga ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama pengembangan agribisnis ketahanan energi dan pangan antara PT Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE) dan Pemerintah Provinsi Lampung, serta Nota Kesepahaman (MoU) terkait pengkajian potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai simbol dimulainya konstruksi fasilitas riset dan produksi, dilakukan prosesi simbolis penuangan semen perdana oleh Todotua Pasaribu dan Rahmat Mirzani Djausal, didampingi jajaran Komisaris PT Pertamina (Persero) dan pimpinan konsorsium otomotif Jepang. Rangkaian acara dilanjutkan dengan penanaman perdana bibit sorgum unggul di lahan demplot seluas 10 hektare.

Tinggalkan komentar