Konservasi Siamang dan Rangkong di Solok Selatan, Bukti Harmoni Perkebunan dan Alam Liar

Solok Selatan – Suara satwa yang terdengar dari balik pepohonan di kawasan konservasi PT Kencana Sawit Indonesia (KSI) di Solok Selatan, Sumatera Barat, menjadi penanda kehidupan yang terus lestari. Di tengah lanskap perkebunan sawit, hamparan hutan yang terjaga menjadi rumah bagi berbagai satwa liar, mulai dari siamang yang bergelantungan di tajuk pohon hingga rangkong yang melintas di atas kanopi.

Kawasan High Conservation Value (HCV) PT KSI memiliki luas 1.760,25 hektare, mencakup empat sungai dan empat bukit. Area ini menjadi ekosistem vital bagi berbagai jenis mamalia, primata, burung, dan satwa lainnya. Menjaga habitat menjadi kunci utama upaya konservasi, mengingat keberadaan satwa sangat bergantung pada hutan yang menyediakan ruang untuk mencari makan, berlindung, bergerak, dan berkembang biak.

Menjaga Rumah Siamang

Siamang menjadi salah satu prioritas dalam pengelolaan kawasan konservasi PT KSI. Upaya pelestariannya meliputi program pelepasliaran dan pemantauan pasca-kembali ke habitat. Ityasman, HCV Officer Sumatera Barat PT KSI, menjelaskan bahwa program pelepasliaran siamang telah berlangsung sejak 2014 dalam kolaborasi.

Lokasi pelepasliaran terfokus di Bukit Tengah Pulau (sekitar 300 hektare) dan Bukit Saloh (sekitar 430 hektare). Hingga kini, total 25 ekor siamang telah dilepasliarkan. “Jadi untuk di area konservasi kita, ada pelepasliaran siamang di Bukit Tengah Pulau dan Bukit Saloh. Totalnya 25 ekor untuk siamang kita,” ujar Ityasman.

Sebelum program ini dimulai, tidak ada catatan keberadaan siamang di kawasan tersebut. Kini, siamang hasil pelepasliaran telah hidup mandiri dan memiliki jelajah yang luas, membuat mereka tidak selalu mudah ditemukan saat pemantauan. “Kita naik ke atas sudah jam 5 sore, jadi posisinya siamang sudah mulai tidur. Siamang hasil pelepasliaran ini sudah mandiri, jelajahnya sudah jauh, teritorinya luas – jadi untuk berjumpa memang agak sulit, apalagi kalau sudah sore begitu, mereka sudah mulai tidur. Mereka juga cenderung menghindari manusia,” jelas Ityasman.

Kondisi ini justru menandakan adaptasi satwa terhadap lingkungan alaminya. Keberadaan mereka dapat dipantau melalui jejak dan aktivitas di kawasan, bukan hanya dari penampakan langsung.

Rangkong dan Hutan yang Saling Terhubung

Sementara siamang menghabiskan waktu di antara pepohonan, rangkong menjadi indikator lain bagaimana hutan menyediakan ruang bagi kehidupan liar. Survei di kawasan konservasi PT KSI menemukan delapan spesies rangkong, termasuk rangkong julang emas dan rangkong badak.

“Data rangkong biasanya kita dapatkan dari survei. Untuk rangkong, kita jumpai 8 spesies di area konservasi kita – di antaranya tengkek/rangkong perut putih, rangkong julang emas, dan terakhir kita jumpa minggu kemarin itu rangkong badak,” kata Ityasman.

Rangkong tersebar di seluruh kawasan, tergantung ketersediaan pohon untuk bersarang. Keberadaan mereka mencerminkan hubungan erat antara satwa dan habitatnya. Burung berparuh besar ini membutuhkan hutan yang kaya akan pepohonan dan sumber pakan. Pada saat yang sama, rangkong berperan penting dalam penyebaran biji tumbuhan, membantu regenerasi vegetasi hutan.

Oleh karena itu, perlindungan rangkong tidak terlepas dari upaya menjaga habitatnya.

Memantau dari Jalur Hutan hingga Kamera Trap

Pemantauan rutin dilakukan oleh tim konservasi PTKSI melalui patroli dan pengamatan satwa di sepanjang jalur monitoring. Tim lapangan biasanya turun pada pagi hari untuk mengamati satwa, mencatat koordinat, mendokumentasikan, dan membuat laporan.

Untuk satwa yang sulit dijumpai secara langsung, tim menggunakan kamera trap yang dipasang di berbagai titik. Melalui kamera ini, berbagai jenis satwa berhasil terekam, termasuk tapir, pelanduk, kijang, rusa, kambing hutan, anjing hutan, dan beruang madu. Kelompok primata seperti lutung silver, ungko, monyet ekor panjang, kukang, dan simpai juga teridentifikasi. Beberapa jenis burung dilindungi seperti elang ular bido dan elang brontok juga tercatat.

Tak Hanya Pelepasliaran

Upaya konservasi juga melibatkan kerja sama dengan pihak eksternal. Universitas Andalas turut melakukan penelitian mengenai habitat ungko dan kondisi pasca-pelepasliaran siamang. Kolaborasi ini juga mencakup kegiatan mahasiswa dan praktik kerja lapangan.

Selain itu, PT KSI berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Barat, melaporkan identifikasi flora dan fauna serta kegiatan konservasi tahunan. “Dari pemerintah, kita tetap selalu berkoordinasi, terutama dengan BKSDA. Kita rutin menyampaikan laporan identifikasi flora dan fauna serta kegiatan tahunan kita ke BKSDA Provinsi Sumatera Barat, supaya perkembangannya tercatat,” ujar Ityasman.

Ketika Satwa Menjadi Penanda Hutan

Keberadaan satwa di kawasan konservasi saling terkait dengan lingkungan. Siamang membutuhkan pepohonan, rangkong bergantung pada hutan untuk pakan dan sarang, sementara mamalia dan primata memerlukan kawasan luas untuk bergerak. Menjaga satu spesies berarti menjaga ekosistem yang menopangnya.

Hal ini terlihat dari berbagai satwa yang masih terpantau, seperti anjing hutan yang terakhir terekam kamera trap pada Agustus 2024. “Anjing hutan – terakhir kita jumpa bulan Agustus 2024 di Bukit Tengah Pulau,” kata Ityasman.

Bunga bangkai (Amorphophallus) masih sering dijumpai, sementara Rafflesia yang pernah ada kini tidak lagi terpantau. Pengelolaan kawasan konservasi bertujuan memastikan habitat tetap tersedia untuk mendukung kehidupan satwa dalam jangka panjang, sebagai bagian dari komitmen PTKSI di tengah lanskap perkebunan.

Menjaga Habitat untuk Jangka Panjang

General Estate Manager PTKSI, Hari Purnama, menegaskan bahwa siamang dan rangkong adalah bagian dari ekosistem yang terus dijaga. “Siamang dan rangkong merupakan satwa endemik di Sumatera. Karena mereka hidup di hutan konservasi seluas 1.700 hektar ini, kami merawat dan menjadikan kawasan ini sebagai tempat berkembang biak mereka, salah satunya lewat kerja sama dengan Yayasan Kalaweit. Keberhasilan konservasi ini terbukti dari lingkungan yang terjaga; masyarakat masih bisa melihat satwa-satwa tersebut, jumlah ikan di sungai tetap terjaga, dan areanya kini menjadi tujuan wisata yang kondusif bagi warga,” kata Hari Purnama.

Harapan PTKSI adalah konsistensi dalam menjaga areal konservasi ini dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. “Harapan kami untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, perusahaan dan masyarakat bisa sama-sama konsisten menjaga areal konservasi yang ada di PTKSI ini. Semoga kawasan ini tetap berjalan dan bisa terus dirawat sampai kapan pun perusahaan ini berada,” ujar Hari.

Kawasan konservasi ini juga sempat dikunjungi oleh Panji Petualang, yang melihat langsung proses pengelolaan perkebunan sekaligus keberadaan hutan konservasi yang menjadi habitat berbagai satwa. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kawasan konservasi dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas perkebunan, di mana satu sisi dikelola untuk komoditas, dan sisi lain dipertahankan sebagai ruang hidup satwa.

Di Solok Selatan, cerita konservasi terus berlanjut. Dengan menjaga hutan, siamang memiliki tempat bergelantungan, rangkong memiliki kanopi untuk terbang, dan satwa liar lainnya tetap memiliki ruang untuk hidup.

Tinggalkan komentar