Karnaval Pekalongan Jelaskan Aksi “Ritual Satanik” Penyembelihan Kambing

Pekalongan – Tim Simbang Gang Satu atau Sim One memberikan penjelasan mengenai aksi teatrikal yang menampilkan kepala kambing dalam Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) 2026 di Pekalongan. Aksi tersebut sempat viral dan disebut mirip ritual satanik. Pihak peserta menegaskan bahwa penyembelihan kambing dilakukan sesuai dengan syariat Islam.

“Kambing disembelih di sana (SKNC) sesuai syariat, dan itu dilakukan oleh orang yang berkemampuan menyembelih kambing sesuai syariat,” kata M Akhid, perwakilan Tim Sim One, usai menghadiri pemanggilan dari Sekda Kabupaten Pekalongan di Pemkab Pekalongan.

Menanggapi isu mengenai kepala kambing yang diperlihatkan terpotong dan diambil dari peti mati, Akhid menjelaskan bahwa kepala kambing tersebut dibeli dari pasar pada pagi hari dan disembunyikan di dalam peti yang telah disiapkan. Setelah penyembelihan kambing utama dalam acara karnaval, barulah kepala kambing yang sudah disiapkan itu dikeluarkan dari kotak peti.

“Kalau kepala kambing itu sebenarnya sudah ada di dalam peti. Jadi di dalam peti itu ada kepala kambing yang dibeli paginya (Kamis pagi), emang dipersiapkan untuk dipertunjukkan. Sedangkan kambing yang disembelih itu kambing disembelih sesuai syariat, kepalanya tidak sampai terpotong sepenuhnya,” ujarnya.

Akhid menegaskan bahwa tujuan dari penyembelihan kambing tersebut bukanlah untuk sebuah ritual seperti yang digambarkan di beberapa media sosial. Menurutnya, penyembelihan itu dilakukan sebagai bagian dari acara ramah tamah warga setelah karnaval selesai.

“(Potong kambing) Itu tujuannya penyembelihan kambing itu untuk acara ramah tamah (warga) setelah acara. Setelah acara, berarti itu kambing akan dimasak untuk ramah tamah teman-teman yang ikut pawai dari Sim One itu sendiri,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa aksi tersebut murni spontanitas dari para peserta. “Kalau itu (penyembelihan), emang spontanitas aja. Teman-teman, ayo kita sembelih kambing untuk mayoran, tapi kita sembelih di acara untuk ekspresi kita sendiri,” tambahnya.

Akhid mengakui bahwa saat aksi teatrikal tersebut memang tidak disertai narasi. Aksi tersebut hanya berupa gerak koreografi yang telah dilatih selama seminggu penuh sebagai upaya untuk mensukseskan acara dan menghibur warga.

“Enggak ada narasi sama sekali. Cuma teatrikal aja. Enggak ada narasi ajakan atau apapun tidak ada sama sekali,” kata Akhid.

Tinggalkan komentar