Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengusulkan opsi impor kereta rel listrik (KRL) bekas pakai dari luar negeri sebagai langkah darurat untuk mengatasi potensi krisis armada di Jabodetabek pada periode 2026 hingga 2029.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa armada KRL yang beroperasi saat ini banyak yang telah memasuki usia pensiun. Diperkirakan pada tahun 2028, kereta-kereta Jepang yang berusia 45 tahun tidak dapat dioperasikan lagi karena ketersediaan suku cadang yang menipis dan kelelahan logam pada struktur kereta.
KAI memproyeksikan akan ada kekurangan sedikitnya 87 trainset KRL hingga tahun 2031. Kekurangan ini diperparah dengan keterlambatan pengiriman armada baru dan kewajiban untuk mengkonservasi 13 trainset lama pada tahun 2026.
Di sisi lain, kapasitas produksi PT INKA (Persero) sebagai industri dalam negeri belum mampu memenuhi lonjakan kebutuhan armada secara mendadak. Meskipun PT INKA terus ditingkatkan kapasitasnya melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) hingga 15-16 trainset per tahun, proses tersebut memerlukan waktu.
Oleh karena itu, Bobby menilai opsi impor KRL bekas yang telah diperbarui atau direkondisi menjadi cara paling realistis untuk menutupi kekurangan armada dalam waktu cepat. “Jadi salah satunya yang kami akan usulkan itu adalah kita tambal dulu, Pak, dengan melakukan impor, ya, itu kereta-kereta yang tidak baru. Yang memang secara historis ini bagus, kemudian sudah melakukan refurbishment Pak, kayak pesawat-lah gitu,” ujar Bobby.
Menurut Bobby, langkah ini merupakan solusi jangka pendek agar layanan KRL Jabodetabek tidak terganggu, terutama mengingat target penumpang harian yang diproyeksikan menembus 2,5 hingga 3 juta orang di masa mendatang. “Ini cara cepat, cara tepat yang bisa mengatasi kekurangan kapasitas di tahun 2026, 2027, 2028, sampai dengan 2029. Nah, sembari kita meningkatkan kapasitas produksi dari PT INKA,” pungkasnya.
Menanggapi usulan tersebut, Wakil Ketua Komisi VI DPR, Andre Rosiade, menyatakan dukungan melalui kesimpulan rapat. “Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian khususnya KRL Jabodetabek dengan meningkatkan industri lokal dan melakukan impor rangkaian kereta dan set bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan,” kata Andre.
Namun, Andre menekankan pentingnya sinergi dengan PT INKA untuk tetap diperkuat agar mampu bersaing. “Melakukan pengadaan sarana bukan baru sebagai solusi transisi dengan tetap memperkuat sinergi bersama PT INKA dengan meningkatkan (TRL) teknologi readiness level dan manufacturing readiness level PT INKA secara proper level 9 dalam kapasitas kualitas teknologi dan daya saing industri nasional,” jelasnya.