Jasad pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dipastikan merupakan anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I, Surakman. Ia hilang bersama lima jurnalis saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Kapal rombongan jurnalis itu dilaporkan hilang pada 7 September 2026 dan terakhir terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, kawasan Selat Sunda.
Lima hari setelah dinyatakan hilang, jenazah Surakman ditemukan di Pulau Enggano pada 12 September 2026. Pulau Enggano terletak di Samudra Hindia, dengan jarak sekitar 345,05 kilometer dari titik terakhir kapal tersebut terdeteksi. Penemuan ini memunculkan pertanyaan mengenai kondisi arus laut yang membawa jenazah hingga terdampar di lokasi yang cukup jauh.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada tanggal 7 September 2026, arus permukaan laut di wilayah tersebut bergerak dominan ke arah barat daya menuju Samudra Hindia. Kecepatan arus berkisar antara 0,4 hingga 0,9 knot, setara dengan 0,74 hingga 1,67 km/jam. Sementara itu, tinggi gelombang pada hari yang sama dilaporkan antara 0,3 hingga 1,2 meter.
Tim Ocean Climate Research Group (OCRG), Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pernah membuat simulasi terkait arus laut yang berpotensi membawa kapal rombongan jurnalis tersebut. Tim ini menggunakan model transpor partikel Euler-Lagrangian untuk memetakan pola pergerakan objek yang hanyut di perairan Selat Sunda.
Simulasi yang dilakukan dengan ribuan partikel hipotetik menghasilkan peta probabilitas sebaran. Peta ini menggambarkan kemungkinan wilayah penyebaran berdasarkan dinamika arus, gelombang, dan angin. Data yang digunakan mencakup periode 7 September hingga 22 September 2026.
Widodo Setiyo Pranowo, peneliti PRIMA BRIN yang memimpin tim tersebut, menjelaskan bahwa dinamika arus dan gelombang merupakan faktor krusial dalam memperkirakan arah dan kecepatan hanyut. “Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40 persen dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran korban,” ujar Widodo kepada wartawan pada Kamis (24/9/2026).
Hasil pemodelan simulasi juga menyoroti pentingnya ketepatan informasi lokasi awal hilang kontak. Perbedaan koordinat lokasi hilang kontak sekitar 30 kilometer saja dapat menghasilkan lintasan yang sangat berbeda. Dalam satu skenario, partikel bergerak ke barat menyusuri pesisir Lampung, sementara skenario lain masuk ke arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut. Ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal dapat berkembang menjadi penyebaran posisi akhir sekitar 221 hingga 292 kilometer.
Sebelumnya, jenazah Surakman ditemukan pada 12 September 2026. Polda Banten menerima hasil tes DNA pada Selasa (22/9), sepuluh hari setelah penemuan jenazah. “Dihasilkan pemeriksaan DNA kurang lebih selama 10 hari. Jadi bukan lama, bukan terlambat, tetapi memastikan tes DNA berjalan dengan baik menghasilkan kejelasan identifikasi,” ujar Kapolda Banten Irjen Hengki saat jumpa pers di Polda Banten, Rabu (23/9).