Sebuah video yang menampilkan promosi jasa santet dan pelet secara komersial diduga beredar di kawasan Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Video tersebut menampilkan berbagai sesajen seperti kemenyan, kelapa muda, dan dupa yang disusun di atas tebing karang menghadap laut. Narasi yang menyertai video itu mencantumkan daftar tarif untuk berbagai layanan spiritual, mulai dari santet mati seharga Rp3.000.000, santet sakit Rp2.000.000, santet gila Rp1.000.000, hingga pelet puter giling dan ikat sukma seharga Rp400.000.
Sejumlah warga setempat membenarkan bahwa lokasi pengambilan gambar dalam video tersebut memiliki kemiripan dengan kawasan Karang Hawu. Jaka, seorang warga Cisolok, menyatakan bahwa sudut pengambilan gambar dan pemandangan laut serta perbukitan di kejauhan sangat identik dengan salah satu sudut di Pantai Karang Hawu. “Dari lokasi ada kemiripan, diambil di salah satu sudut di Karang Hawu. Karena arahnya ke laut, pas kamera mengarah ke kanan terlihat perbukitan Puncak Habibie,” ungkap Jaka, Kamis (17/9/2026).
Menanggapi kehebohan yang timbul, Kepala Desa Cisolok, Hendi Sunardi, secara tegas membantah adanya praktik komersialisasi jasa santet di kawasan wisata Karang Hawu. Hendi menyatakan ketidaksetujuannya terhadap praktik semacam itu dan berjanji akan mencari tahu siapa pelakunya jika memang benar ada yang membuka praktik tersebut. Ia menganggap praktik santet berbayar sebagai tindakan sesat.
Hendi juga menyoroti kemungkinan penyuntingan visual menggunakan teknologi modern untuk menyebarkan informasi yang menyesatkan. Ia menegaskan bahwa Pantai Karang Hawu selama ini dikenal sebagai destinasi wisata alam yang juga sering dikunjungi untuk wisata religi, syariat, dan tawasul, bukan sebagai tempat praktik ilmu hitam komersial. “Di sana mah murni wisata religi, syariat tawasul, bukan untuk hal-hal yang begitu. Terkait juru kunci di sana pun dari pihak desa dulu sifatnya hanya memberikan surat tugas agar tertib dan tidak liar. Jadi kalau ada narasi santet berbayar seperti itu, warga lokal tidak pernah ada,” pungkas Hendi.