Perdebatan sengit mengenai posisi mata pelajaran bahasa Inggris di sistem pendidikan China kini tengah menjadi sorotan nasional. Seorang profesor matematika dari Universitas Nanjing, Tang Jiafeng, bersama sejumlah guru lainnya, mengusulkan agar bahasa Inggris dijadikan mata pelajaran pilihan, bukan lagi sebagai pelajaran inti di sekolah-sekolah.
Tang Jiafeng berpendapat bahwa siswa di China saat ini dipaksa mempelajari bahasa asing sebelum mereka benar-benar menguasai bahasa ibu mereka, yaitu bahasa Mandarin. Ia menyerukan agar sekolah-sekolah di China mengakhiri apa yang disebutnya sebagai “pemujaan buta terhadap hal-hal asing”. Perdebatan ini dilaporkan telah meluas, melibatkan guru, orang tua, analis kebijakan, hingga mantan editor media pemerintah.
Tang, yang dikenal sebagai guru matematika yang membimbing siswa untuk ujian masuk pascasarjana nasional, mengungkapkan kekhawatirannya di media sosial mengenai waktu dan sumber daya yang dihabiskan secara tidak proporsional untuk bahasa Inggris. Menurutnya, mata pelajaran ini memiliki relevansi yang minim dengan pekerjaan yang dijalani oleh mayoritas masyarakat China. “Saya secara terbuka menyerukan agar bahasa Inggris dicabut statusnya sebagai mata pelajaran inti. Tidak ada negara di dunia yang menempatkan bahasa Inggris pada posisi tertinggi seperti yang kita lakukan,” ujar Tang, seperti dikutip South China Morning Post (SCMP).
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Xiong Bingqi, Kepala Institut Penelitian Pendidikan di Shenzhen, yang menyatakan bahwa jumlah orang yang menggunakan bahasa Inggris dalam pekerjaan mereka di China sebenarnya adalah minoritas.
Menanggapi usulan Tang, beberapa orang tua dan guru di China menyatakan bahwa pendapat tersebut dapat diterima. Laporan menunjukkan bahwa kurikulum bahasa Inggris standar nasional, yang terlalu menekankan pada tata bahasa dan pengujian, belum tentu menghasilkan kemampuan berbahasa Inggris yang memadai bagi banyak siswa. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa mengurangi prioritas bahasa Inggris justru dapat menyebabkan kemunduran. Pernyataan Tang mengenai “pemujaan buta” dianggap provokatif oleh sebagian kalangan.
Gina Tam, seorang profesor sejarah di Trinity University, San Antonio, Texas, menilai bahwa perdebatan tentang pendidikan bahasa Inggris ini menyentuh ketidakpastian masa depan generasi muda China, terutama di tengah ketidakstabilan ekonomi. Ia mempertanyakan apakah kemampuan berbahasa Inggris akan tetap menjadi keterampilan yang relevan. Hingga kini, Pemerintah China belum memberikan komentar resmi mengenai perdebatan ini. Namun, beberapa sekolah dilaporkan telah mengurangi persyaratan bahasa Inggris dalam beberapa tahun terakhir, seperti yang dilakukan otoritas pendidikan di Shanghai pada tahun 2021 yang melarang ujian akhir bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar demi mengurangi tekanan.
Sejarah bahasa Inggris dalam kurikulum China sendiri telah berlangsung selama lima dekade, sejak tahun 1970-an. Bahasa Inggris kemudian menjadi mata pelajaran yang memakan banyak waktu kelas dan memiliki bobot signifikan dalam Gaokao, ujian masuk perguruan tinggi di China. Kemajuan pesat dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) kini semakin mempercepat transisi di China untuk mengurangi prioritas pada bahasa Inggris. Sebagai contoh, sebuah riset kampus di Shenzhen pada Juli lalu mengumumkan akan menghapus kursus bahasa Inggris secara bertahap, menggantinya dengan perbandingan budaya China dan Barat, dengan alasan kemampuan terjemahan AI secara real-time.
Meskipun demikian, muncul pula peringatan dari beberapa pihak. Cinderella Huang, seorang guru bahasa Inggris di Guangdong, memperingatkan bahwa penghapusan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran inti dapat memperlebar kesenjangan kekayaan. Ia berargumen bahwa model AI terbaik, perjalanan ke luar negeri, dan universitas global terkemuka masih membutuhkan kemampuan bahasa Inggris. “Keluarga kaya akan terus membayar tutor dan sekolah internasional. Bagi anak-anak miskin, bahasa Inggris di sekolah tetap menjadi satu-satunya jalan keluar mereka,” tuturnya, dikutip Times of India.
Komentar