Sebuah video yang memperlihatkan aksi membahayakan empat pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) berboncengan dalam satu sepeda motor di Ciputat, Tangerang Selatan, viral di media sosial. Keempat pelajar tersebut terlihat berdempetan tanpa mengenakan helm, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan.
Peristiwa ini terjadi di Jalan WR Supratman, Kelurahan Rengas, Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, pada hari Senin (21/9/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Dalam rekaman yang beredar, keempat pelajar tampak masih mengenakan seragam sekolah mereka. Dua di antaranya bahkan berdiri di atas pijakan kaki motor, berpegangan erat pada pengendara.
Polisi Segera Lakukan Penelusuran
Menanggapi viralnya video tersebut, Kapolsek Ciputat Timur Kompol Bambang Askar Sodiq menyatakan pihaknya langsung bergerak melakukan penelusuran. Upaya ini membuahkan hasil dengan ditemukannya pemilik sepeda motor yang digunakan dalam aksi berbahaya tersebut.
“Setelah dilakukan penelusuran, petugas mendatangi kediaman pemilik sepeda motor Honda Vario warna hitam bernopol B-3457-WBA. Kemudian kami melakukan klarifikasi kepada Saudari K selaku pemilik kendaraan yang terlihat dalam video tersebut,” jelas Bambang dalam keterangannya pada hari Selasa (22/9/2026).
Pemilik motor, yang diidentifikasi sebagai Saudari K, mengakui bahwa salah satu pelajar yang terekam dalam video adalah anaknya. Menindaklanjuti temuan ini, pihak kepolisian segera memanggil para orang tua dari keempat pelajar yang terlibat.
“Selanjutnya petugas melakukan pemanggilan terhadap seluruh pelajar yang berada dalam video tersebut beserta orang tua masing-masing dan Bapak Andi selaku Ketua RT 07 RW 09 untuk dilakukan klarifikasi, pembinaan dan edukasi,” ungkap Bambang.
Edukasi Bahaya Berkendara Melebihi Kapasitas
Dalam pertemuan tersebut, polisi memberikan edukasi mendalam mengenai bahaya berkendara dengan penumpang melebihi kapasitas yang ditetapkan. Aksi tersebut dinilai dapat secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan, mulai dari kehilangan keseimbangan hingga potensi terjatuh saat pengereman mendadak atau upaya menghindar dari kendaraan lain.
“Kami juga memberikan pemahaman mengenai risiko kecelakaan, antara lain kendaraan kehilangan keseimbangan, terjatuh saat melakukan pengereman atau menghindari kendaraan lain, serta risiko luka terhadap pengendara maupun seluruh penumpang,” paparnya.
Lebih lanjut, polisi mengungkap alasan di balik aksi nekat para pelajar tersebut. Menurut pengakuan salah satu pelajar berinisial MD yang mengemudikan motor, mereka terpaksa berboncengan empat karena motor tersebut hampir kehabisan bensin dan hendak menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Menurut pengakuan anak inisial MD yang bawa motor, dia bonceng tiga orang temannya dengan alasan bensinnya habis dan dia mau ke SPBU,” kata Bambang. Ia menambahkan, “Dia mengajak ketiga temannya untuk naik bersama dalam satu sepeda motor dengan alasan agar tidak perlu bolak-balik menjemput teman satu per satu.”
Polisi juga menekankan bahwa para pelajar tersebut belum memenuhi usia legal untuk mengemudikan kendaraan di jalan raya. Mereka diberikan pemahaman bahwa setiap pengendara wajib memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) serta kelengkapan surat kendaraan lainnya seperti Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).
“Petugas menyampaikan kepada para pelajar untuk tertib berlalu lintas bukan semata-mata karena takut kepada polisi, tetapi karena kita menghargai keselamatan diri sendiri, teman, keluarga, dan pengguna jalan lainnya,” ujar Bambang.
Pihak kepolisian mengimbau para siswa untuk tidak mengambil risiko yang dapat membahayakan nyawa. Ditekankan pula bahwa satu unit sepeda motor dirancang hanya untuk satu pengendara dan satu penumpang.
“Jangan karena ingin cepat atau tidak mau bolak-balik menjemput teman, kita mengambil risiko yang dapat membahayakan nyawa. Satu sepeda motor cukup untuk pengendara dan satu penumpang. Keselamatan harus menjadi pilihan utama,” tegasnya.