Akademisi dan Praktisi Bahas Pendekatan Spiritual dalam Kesejahteraan Sosial

JAKARTA – Kementerian Sosial melalui Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung menyelenggarakan Seminar Nasional yang berfokus pada ‘Layanan Pendampingan Spiritual, Emosional, dan Kemanusiaan (Chaplaincy) dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.’ Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas cakupan penanganan isu kesejahteraan sosial agar tidak hanya terpaku pada pemenuhan kebutuhan fisik dan materi, tetapi juga mencakup aspek pendampingan spiritual.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 650 peserta ini melibatkan berbagai kalangan, termasuk sivitas akademika, perwakilan Kementerian Sosial, praktisi pelayanan sosial, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Kehadiran mereka menunjukkan tingginya antusiasme terhadap pendekatan yang lebih holistik dalam pelayanan sosial.

Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, menekankan pentingnya sumber daya manusia (SDM) yang berwawasan luas dalam penguatan layanan kesejahteraan sosial. Ia menyatakan bahwa peningkatan kapasitas SDM sangat krusial agar para pendamping mampu memberikan intervensi yang sesuai dengan kompleksitas permasalahan masyarakat dan tidak bersifat parsial.

“Pendamping harus mampu memahami kebutuhan penerima layanan dari berbagai sisi sehingga intervensi yang dilakukan tidak bersifat parsial,” kata Zubaedi saat membuka kegiatan di Auditorium Kampus Poltekesos Bandung, Jawa Barat, Rabu (23/9).

Direktur Poltekesos, Suharma, menambahkan bahwa pengembangan layanan kesejahteraan sosial harus seiring dengan pemahaman mendalam terhadap berbagai dimensi kehidupan penerima layanan. Ia menegaskan pentingnya melihat manusia secara utuh, mencakup kondisi emosional, spiritual, serta kebutuhan akan dukungan secara manusiawi, bukan hanya persoalan sosial dan fisiknya.

Suharma berharap hasil dari seminar ini dapat dikembangkan menjadi sebuah modul yang berfungsi sebagai pedoman bagi para pekerja kesejahteraan sosial. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat dikembangkan modul yang dapat menjadi bahan pembelajaran,” ungkapnya.

Libatkan Akademisi hingga Pakar Berpengalaman

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kepakaran dalam penyelenggaraan layanan sosial berbasis pendampingan spiritual, emosional, dan kemanusiaan. Di antara para pembicara adalah Peneliti dan Penulis Buku MuslimChaplaincy Indonesia, RR Rhetno Arobiatul Jauzak; Ketua Yayasan Anugrah Bhakti Barokah, Ecek Karyan; Anggota Yayasan Pondok Inabah Suryalaya, Sri Nurhayati; Anggota Yayasan Welas Asih, Eka Sukmawati; serta Sekretaris Pelayanan Wanita Teritorial, Elsi Hariyati Sarimin. Sesi materi dimoderatori oleh Wakil Direktur I Bidang Akademik Poltekesos, Lina Favourita Sutiaputri.

Sesi seminar berlangsung dalam format dialog interaktif, di mana para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Lina Favourita Sutiaputri menekankan perlunya perubahan paradigma dalam penanganan isu kesejahteraan sosial di lapangan. Ia berpendapat bahwa pelayanan sosial tidak boleh hanya berfokus pada pemenuhan aspek fisik atau materi semata.

“Chaplaincy ini adalah pendekatan spiritual dalam menangani masalah kesejahteraan sosial. Jadi, masalah kesejahteraan sosial itu tidak hanya membutuhkan pelayanan yang bersifat fisik atau materi, tetapi juga perlu secara komprehensif,” jelas Lina.

Lina memberikan contoh bahwa dengan menyentuh aspek spiritual lebih awal, kesadaran penerima bantuan sosial (bansos) dapat tergugah untuk tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah. Perubahan pola pikir ini diyakini dapat membuat penyaluran bansos menjadi lebih tepat sasaran.

“Andaikan spiritualnya dulu yang disentuh, mungkin misalnya bantuan sosial, banyak orang miskin, mungkin kalau spiritualnya sudah disentuh dan memahami makna arti hidup, mungkin dia akan berpikir sendiri, tidak akan mau lama-lama menjadi penerima bantuan sosial,” jelasnya.

Sementara itu, RR Rhetno Arobiatul Jauzak menyatakan bahwa pendekatan spiritual berfungsi sebagai pilar pendukung utama untuk memulihkan martabat serta resiliensi para penerima manfaat. Ia menambahkan bahwa konsep ‘spirituality in social work’ dapat menjadi perhatian lebih di Indonesia dan mendukung layanan chaplaincy.

Melalui seminar nasional ini, Poltekesos berkomitmen untuk terus mendorong penguatan kapasitas dan wawasan sivitas akademika serta para pegiat kesejahteraan sosial dalam mengembangkan pendekatan pelayanan yang komprehensif terhadap kebutuhan penerima layanan.

Tinggalkan komentar